Analisis Zuhairi Misrawi

Baitul Hikmah, Pusat Intelektualisme Tunisia

Zuhairi Misrawi - detikNews
Jumat, 20 Mei 2022 19:51 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Salah satu ciri khas yang menonjol saat peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya, yaitu kokohnya sebuah institusi pendidikan dan pemikiran, yang ditunjang dengan khazanah perpustakaan yang spektakuler. Di masa lampau, Baghdad dan Kairouan menjadi dua role model yang dapat menggambarkan kedua pemandangan tersebut.

Kairouan merupakan salah satu kota di Tunisia yang populer dan menjadi destinasi para wisatawan, baik Muslim maupun Non-Muslim untuk mengenang keistimewaannya di masa lampau. Masjid Uqbah bin Nafi menjadi miniatur kedigdayaan Kairouan di masa lalu.

Namun, tidak banyak yang mengetahui, sebenarnya Kairouan dikenang bukan karena semata-mata penaklukkan yang dipimpin Uqbah bin Nafi, melainkan peran-peran intelektual yang sudah dikukuhkan di kota tersebut. Ahmad Thuwayli dalam Bayt al-Hikmah bi al-Qayrawan min al-'Ahd al-Aghlabi ila al-'Ahd al-Shanhaji mengisahkan tentang peran Baitul Hikmah dalam tumbuh dan maraknya intelektualisme Islam. Nama-nama besar, di antaranya: al-Jahidh, al-Mubarrad, Tsa'lab, Ibnu Qutaybah, Abu Tamam merupakan sosok-sosok yang turut mewarnai kosmopolitanisme Kairouan.

Di Baitul Hikmah terdapat perpustakaan yang di dalamnya memuat buku-buku dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, termasuk alat-alat astronomi. Di samping itu, perpustakaan dijadikan salah satu tempat untuk mengajar, membaca, dan menulis. Bahkan, konon, para ulama juga menguasai bahasa Latin untuk membaca buku-buku matematika dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Lalu, Kairouan menjadi salah satu pusat peradaban besar di dunia.

Di samping itu, Baitul Hikmah juga digunakan sebagai tempat untuk perdebatan ilmiah dengan menghadirkan para ulama dari berbagai mazhab, yaitu Maliki, Hanafi, dan Muktazilah. Mereka memahami keniscayaan perbedaan dan keragaman pendapat, sehingga khazanah Islam mengalami kemajuan yang sangat luar biasa.

Namun, semua itu berakhir bersamaan dengan jatuhnya Dinasti Aghlabi. Baitul Hikmah di Kairouan juga mengalami kejatuhan, karena tidak ada dukungan yang besar dari penguasa. Setelah invasi al-Hilaliyah, Baitul Hikmah dihancurkan dan buku-buku di dalamnya dibakar, sehingga kita mengalami kerugian yang sangat besar, kehilangan khazanah yang sangat berharga di Kairouan.

Kini, di Tunisia, nama Baitul Hikmah diabadikan sebagai salah satu pusat kajian dalam bidang ilmu pengetahuan, sastra, dan seni yang sangat mentereng. Berada di sebuah kantor yang sangat bersejarah, tempat lahirnya Tunisia modern dan ditanda-tanganinya Undang-Undang tentang Kesetaraan Perempuan.

Tunisia modern didukung sepenuhnya oleh Baitul Hikmah, yang di dalamnya para pemikir dan intelektual Tunisia dalam berbagai bidang berkumpul untuk melakukan riset dan melahirkan kajian-kajian yang akan menunjang sepenuhnya kebijakan pemerintah. Gagasan utamanya, negara dan pemerintah harus didukung kajian-kajian yang spektakuler.

Di samping itu, Baitul Hikmah juga melakukan kajian terhadap sejarah dan peradaban Tunisia dari masa lalu hingga masa sekarang dan masa depan. Sebab kekuatan Tunisia adalah sejarah dan peradaban yang terbentang sejak era Carthage, Romawi, Islam, hingga Tunisia modern. Kajian tentang sejarah di Tunisia mengalami kemajuan yang sangat luar biasa.

Baitul Hikmah juga membuka kajian-kajian komparatif dengan negara-negara lain. Dua bulan lalu, mereka juga mengajukan proposal untuk membuka kajian tentang Indonesia. Sebab, Indonesia merupakan negara Muslim yang mampu menerapkan demokrasi dan menjaga keragaman. Yang terpenting, Indonesia juga menjadi anggota G-20 yang secara ekonomi terus mengalami kemajuan.

Para intelektual Tunisia yang namanya sangat mentereng di dunia Arab dan dunia Islam, dan memimpin Baitul Hikmah, di antaranya Ahmad Abdessalam (1983-1987), Azeddin Beschaouch (1987-1991), Saad Ghrab (1991-1995), Abdulwahab Bouhdiba (1995-2011), Mohamed Talbi (2011), Hichem Djait (2011-2015), Abdul Majid Charfi (2015-2021).

Di masa mendatang, Baitul Hikmah sudah merencanakan kajian tentang Indonesia selama dua tahun, 2023-2024. Pada 2023, kita akan melakukan kajian tentang Peradaban Islam Nusantara, yang akan membahas tentang Peradaban Nusantara, peran Walisongo, dan moderasi beragama yang menjadi karakter utama dari Islam Nusantara. Di samping itu, juga akan dibahas bagaimana pengalaman agama-agama dan kearifan lokal membangun budaya toleransi di Tanah Air.

Pada 2024, kita akan melakukan kajian tentang Islam dan Pancasila, bagaimana Islam menjadi bagian penting dalam membangun Indonesia modern, yang di dalamnya menjadikan gotong-royong sebagai kekuatan dalam membangun kebersamaan dan kolaborasi di antara berbagai agama, golongan, tradisi, suku, bahasa, dan kelompok, sehingga Indonesia menjadi salah satu kekuatan di dunia saat ini.

Pancasila mulai menjadi bahan perbincangan di Tunisia, karena dipandang mampu mempersatukan seluruh elemen bangsa di Tanah Air. Para pemikir di Tunisia ingin belajar dan melakukan kajian tentang Pancasila. Sebab itu, KBRI akan menerjemahkan dan menerbitkan Pidato Pancasila Bung Karno 1 Juli 1945 ke dalam bahasa Arab, dan akan diterbitkan dan diluncurkan pada peringatan Hari Lahirnya Pancasila pada 1 Juli 2022 yang akan datang.

Pada intinya, Baitul Hikmah menyadari bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara yang dapat menginspirasi Tunisia dan dunia. Hal ini dalam rangka melanjutkan peran-peran yang sudah dilakukan Sukarno di masa lampau, saat Indonesia mampu berperan dalam pentas global untuk mendorong kemerdekaan negara-negara Asia-Afrika. Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 di Bandung masih menjadi perbincangan yang terus mengemuka perihal peran global Indonesia.

Walhasil, diplomasi dengan para intelektual Tunisia merupakan salah satu garis diplomasi yang akan saya lakukan sebagai Duta Besar RI untuk Tunisia. Saatnya Indonesia menginspirasi Tunisia dan dunia dengan mengenalkan sejarah dan peradaban Indonesia yang berhasil menyatukan keragaman dan membangun kebersamaan untuk peradaban dunia yang dibangun di atas perdamaian.

Zuhairi Misrawi Duta Besar RI untuk Tunisia

(mmu/mmu)