Mimbar Mahasiswa

Reinkarnasi Spirit Kebangkitan Nasional

Fikram Eka Putra - detikNews
Jumat, 20 Mei 2022 13:30 WIB
Reinkarnasi Spirit Kebangkitan Nasional
Fikram Eka Putra (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Di bulan Mei ini Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang tidak lama setelahnya disusul peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Pada dasarnya dua momentum besar tersebut saling berkorelasi. Ketika berbicara mengenai kebangkitan nasional, kita tidak akan pernah lepas dari pembahasan mengenai pendidikan di dalamnya, pun sebaliknya.

Era kebangkitan nasional merupakan suatu era kebangkitan yang ditandai dengan membaranya semangat nasionalisme, persatuan, dan kesatuan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Lebih luas lagi, kebangkitan nasional pada dasarnya bergerak membebaskan ketertindasan, kemelaratan, dan ketertinggalan yang dialami oleh bangsa Indonesia, sebagai akibat dari penindasan yang dilakukan oleh Kolonial Belanda selama berabad-abad lamanya.

Era kebangkitan nasional berawal ketika digaungkannya gagasan Politik Etis. Gagasan Politik Etis yang diungkapkan pertama kali oleh van Dedem, dan kemudian dilanjutkan oleh beberapa tokoh kolonial, rupanya memberikan angin segar bagi masyarakat pribumi. Gagasan politik etis ini ikut menyinggung perihal pendidikan yang hampir tidak tersentuh oleh masyarakat pribumi kala itu.

Meskipun pada kenyataannya gagasan politik etis ini tidak berjalan mulus seperti yang direncanakan, namun gagasan ini mampu sedikit banyaknya membebaskan belenggu keterbelakangan dan ketertinggalan masyarakat pribumi. Masyarakat pribumi mulai mendapat akses pendidikan meskipun secara terbatas. Akses pendidikan yang didapatkan oleh masyarakat pribumi pada gilirannya melahirkan intelektual-intelektual yang berpikiran maju.

Lewat pemikiran para intelektual inilah kemudian lahir berbagai macam organisasi yang selanjutnya menjadi tonggak pergerakan dan kebangkitan nasional melawan belenggu penjajahan kolonial. Pada 20 Mei 1908 atas dasar dan keinginan untuk membebaskan masyarakat Jawa dari belenggu kemelaratan dan keterbelakangan, lahirlah sebuah organisasi yang bernama Budi Utomo yang selanjutnya digadang-gadang sebagai pelopor pergerakan nasional yang menginspirasi lahirnya berbagai organisasi pergerakan lainnya.

Atas dasar itulah hari lahir Budi Utomo 20 Mei 1908 diabadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tahunnya. Penetapan hari lahir Budi Utomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional pada kenyataannya banyak menuai kontroversi. Jami'at Khair dan Sarekat Islam yang lahir sebelum Budi Utomo menjadi dalih kontroversi, bahwa kedua organisasi tersebut telah lebih dulu melakukan pergerakan sebelum Budi Utomo.

Namun, saya mencoba memandang momentum Hari Kebangkitan Nasional dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa, jika kita berbicara mengenai momentum bersejarah, maka tidak seidealnya kita mempersoalkan kontroversi dari peristiwanya. Makna dari peristiwa tersebutlah yang harus menjadi fokus perhatian; pelajaran dari peristiwa tersebutlah yang menjadi bagian paling penting. Sebab, sejatinya ketika kita berbicara sejarah, maka kita berbicara mengenai tiga rentan waktu yaitu masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Merefleksikan Kembali

Teringat pada kutipan Goethe dalam buku Dunia Sophie, "Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya." Oleh karena itu, lewat momentum Hari kebangkitan Nasional ini saya ingin merefleksikan kembali nilai-nilai spirit kebangkitan nasional pada masa sekarang dan memproyeksikannya untuk masa depan.

Sebagai kaum intelektual, sudah selayaknya generasi muda saat ini mereinkarnasi spirit kebangkitan nasional dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena pada kenyataannya, spirit kebangkitan nasional tidak dapat kita pungkiri sudah banyak menghilang dalam diri generasi muda saat ini. Sebaliknya, sikap individualisme dan apatis terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara sudah mengakar kuat, terlepas dari apapun penyebabnya.

Terlepas dari setuju ataupun tidak, saya memandang reinkarnasi spirit kebangkitan nasional dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi suatu hal yang teramat penting pada saat ini. Banyak alasan yang mengharuskan saya berasumsi demikian. Pertama, secara de facto dan de jure memang negara Indonesia sudah merdeka. Merdeka bukan berarti tidak dijajah.

Penjajahan terhadap bangsa Indonesia terus berlanjut menjelma dalam bentuk yang lain, bukan penjajahan secara fisik, melainkan secara teknologi dan ilmu pengetahuan. Bahwa, banyak generasi-generasi emas Indonesia yang sudah dijajah dan diperbudak oleh teknologi; teknologi juga sudah menjadi sarana penjajahan dan penyebaran ideologi-ideologi yang bertentangan dengan NKRI.

Kedua, Budi Utomo dan beberapa organisasi pergerakan nasional lainnya bergerak dengan tujuan membebaskan masyarakat pribumi dari ketertinggalan dan keterbelakangan. Pada kenyataannya alasan tersebut memiliki relevansi dengan kondisi saat ini. Bahwa, negara Indonesia masih terkurung di dalam ketertinggalan dan keterbelakangan. Hal ini bukan tanpa alasan, fenomena yang terjadi dewasa ini menunjukkan hal yang demikian.

Ketika berbagai negara di belahan dunia sudah mencapai kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan (sains), sebagian besar masyarakat Indonesia masih saja terkurung dalam logika mistika. Ketika berbagai negara di belahan dunia sudah menciptakan inovasi baru dalam perkembangan teknologi, masyarakat Indonesia masih mengambil saja posisi sebagai konsumen dan pengguna, bukan sebagai pencipta.

Ketiga, kondisi masyarakat Indonesia yang sudah tidak memiliki rasa nasionalisme, kesatuan, dan persatuan yang kuat. Semangat nasionalisme, persatuan, dan kesatuan sudah terkikis dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak masyarakat yang terpecah dan mudah diadu domba. Pun sangat miris ketika banyak masyarakat saat ini yang menjadikan orang-orang Barat dan kaum kapitalis sebagai kiblatnya.

Atas dasar itulah saya memandang perlu adanya reinkarnasi semangat kebangkitan nasional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kondisi bangsa Indonesia saat ini tak ubahnya seperti zaman kolonial, meskipun dalam kemasan yang berbeda. Kesadaran kolektif dari segenap bangsa diiringi dengan semangat kesatuan dan persatuan untuk memberi kemajuan dan kesetaraan seperti bangsa lain, layaknya spirit kebangkitan nasional saat Indonesia di bawah belenggu penjajahan Kolonial menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan.

Fikram Eka Putra mahasiswa Pendidikan Sejarah, kader HMI Komisariat Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

(mmu/mmu)