Kolom

Era Kemarahan dan Keadaban Digital

Dodik Harnadi - detikNews
Jumat, 20 Mei 2022 11:15 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

We've built a world that's extremely good at generating causes for anger, but extremely bad at giving us anything constructive to do with it (Oliver Burkeman, 2019).

Penembakan brutal yang dilakukan oleh pemuda penenteng senjata bernama Payton Gendron di Buffalo Amerika Serikat menyita perhatian dunia. Dalam aksinya yang menewaskan 11 korban dengan sebagian besar di antaranya adalah warga kulit hitam, Gendron merekam tindakannya secara live streaming melalui platform media sosial Twitch. Belakangan terungkap, pemuda 18 tahun tersebut ternyata penyokong teori konspirasi penghapusan ras kulit putih (replacement theory).

Menurut The Daily Beast (15/5) lini masa media sosialnya memperlihatkan bagaimana aktivitasnya menyebarkan pesan-pesan kebencian terhadap masyarakat kulit hitam dan Yahudi beberapa bulan sebelum penembakan. Dalam lini masanya juga terungkap, apresiasinya terhadap pembunuhan model serupa yang dilakukan warga Selandia Baru terhadap jamaah salah satu masjid pada 2019. Sebanyak 51 orang meninggal dalam penembakan tersebut.

Kedua aksi tersebut menampilkan gejala yang sama. Gejala yang dimaksud berkenaan dengan pemanfaatan ruang digital sebagai sarana keduanya menjalankan aksi kejahatan serta menyebarkan aroma kebencian yang menjalar demikian cepatnya.

Di Indonesia, penganiayaan yang dialami oleh Ade Armando, meski dengan kadar kekerasan yang berbeda, juga menampilkan gejala yang sama. Penganiayaan tersebut lahir dari sublimasi pesan kebencian yang terus dipelihara di media sosial. Bahkan, sebelum penganiayaan terjadi, para pelaku sudah saling terkoneksi di media sosial dengan saling berbagi informasi disertai narasi-narasi kebencian musuh Islam, buzzer, cebong, dan sebagainya, yang pada akhirnya meletupkan kemarahan dan kekerasan.

Berbagai peristiwa kejahatan sadis yang dilakukan secara terbuka semakin menegaskan kebenaran artikel Oliver Burkeman berjudul The Age of Rage: Are We Really Living in Angrier Times? (The Guardians,11/5/2019) di atas. Saat ini masyarakat sedang berada pada era kemarahan (Age of Rage). Pada era penuh amarah ini, emosi orang mudah diekspresikan. Dalam banyak kasus, ekspresi kemarahan bahkan mengambil bentuk yang paling ekstrem; kebencian, kekerasan, hingga pembunuhan.

Kasus penembakan brutal yang dilakukan Gendron dan sejenisnya tidak terjadi secara insidentil seperti kemarahan yang muncul dari ketersinggungan penonton konser akibat bersenggolan satu dengan yang lain. Pelbagai anomali ini adalah akumulasi serial kemarahan yang salah satunya lahir dari ketidaksiapan menerima perbedaan.

Setiap orang di setiap saat tentu mengalami kemarahan. Namun di era penuh amarah saat ini, segalanya tampak lebih rumit. Menyitat kutipan artikel Burkeman di atas, dunia yang kita huni saat ini menyediakan fitur-fitur yang sangat mudah memantik kemarahan, namun tersedia sedikit fitur untuk mengelolanya secara konstruktif.

Media sosial telah menjelma menjadi simbol paling representatif dari fitur pemantik kemarahan masyarakat saat ini. Di ruang media sosial, kita mudah menjumpai bagaimana serapah dan umpatan bertebaran mengekspresikan amarah masing-masing. Ekspresi kemarahan yang dialami masyarakat saat ini ternyata tidak berhenti di media sosial melalui serangkaian aksi verbatim.

Penambakan bermotif ras seperti yang dilancarkan Gendron adalah ekspresi lebih lanjut dalam bentuk kekerasan fisik dan langsung. Hal yang mirip juga terlihat dari kasus penganiayaan yang dialami oleh Ade Armado saat aksi 11 Apri 2022 lalu. Pelbagai komentar serta perdebatan yang melibatkan pegiat media sosial tersebut di media sosial menjadi pengantar yang mengawali lahirnya ragam ekspresi kemarahan dari para penentangnya.

Melahirkan Kerusakan

Media sosial menyediakan ruang ekspresi kebebasan di alam demokrasi. Namun, seperti dua mata pedang, media sosial juga melahirkan kerusakan (damage) yang yang tidak ringan. Dua peran ganda demikian sebetulnya menandai sisi paradoks dari semua produk teknologi. Sisi buruk dari teknologi tersebut merupakan bahaya teknologi (hazard technology) yang perlu dimitigasi.

Bahaya Teknologi telah mengarahkan masyarakat dunia ke dalam risiko katastrofi yang semakin besar. Masyarakat penuh risiko (risk society) adalah istilah yang digunakan Urlich Beck (1986) untuk menyebut fenomena tersebut. Di dunia penuh risiko, masyarakat tidak hanya menikmati distribusi kekayaan teknologi (wealth distribution), tetapi juga risiko yang ditimbulkannya (risk distribution).

Dalam bentuknya yang lebih awal, bahaya teknologi menampakkan diri dalam wujud polusi sebagai akibat dari semakin masifnya pemakaian teknologi industri. Kini, bahaya tersebut mengambil bentuk yang paling kentara dalam polusi kebencian di ruang digital.

]Kebencian yang bertebaran memenuhi atmosfer media sosial merupakan salah satu katastrofi yang paling nyata. Ironisnya, kebencian ini terus direproduksi dan disebarkan hingga begitu dekat dengan kehidupan pengguna media sosial. Akibatnya, kebencian daring (online hatred) yang dijejalkan setiap saat melahirkan watak masyarakat era digital yang penuh kemarahan.

Masyarakat pemarah yang dibentuk oleh berjejalnya pesan kebencian menjadi salah satu bentuk bahaya teknologi yang paling membutuhkan perhatian di era masyarakat penuh risiko. Efek samping teknologi ini bukannya tidak bisa dicegah. Setiap orang bisa mencegahnya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan literasi media sosial.

Literasi berkaitan dengan kemampuan warganet untuk bisa menyaring ragam informasi palsu dan pesan kebencian yang memasuki kotak pesan gawai masing-masing. Melalui kecakapan literasi yang dimiliki, setiap pengguna sosial tidak lagi menjadi produsen dan distributor pesan-pesan kebencian.

Literasi yang kuat diharapkan melahirkan apa yang kini dikenal sebagai keadaban digital, digital civility (Beauchere, 2019). Warga digital yang beradab senantiasa menjunjung tinggi sikap hormat (respect), empati (empathy), dan kebaikan (kindness) dalam bermedia sosial. Dengan demikian, atmosfer media sosial bisa bersih dari pesan kebencian, sementara kemarahan tidak lagi memenuhi ruang perbincangan media sosial.

(mmu/mmu)