Kolom

Perempuan, Pandemi, dan Literasi Digital Nasional

Butet RSM - detikNews
Kamis, 19 Mei 2022 13:10 WIB
Belajar di rumah
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Perempuan masih sering mendapat perlakuan yang tidak adil dan dipandang sebelah mata. Tak hanya dalam tatanan masyarakat sosial, dalam dunia digital pun perempuan sering dijadikan objek lelucon virtual. Tengok saja, betapa banyak meme tentang sosok ibu yang diberi stereotip tidak paham peraturan lalu lintas serta pemarah. Penggambaran citra buruk ibu tak hanya tersaji dalam konten gambar saja. Dalam platform TikTok pun melimpah video lelucon tentang sosok ibu.

Entah apa yang ada di dalam benak para kreator konten yang sesungguhnya sama sekali tak lucu tersebut. Mungkin tujuannya hanya sekadar membuat konten yang dianggap lucu demi mendulang klik dari warganet. Walau, sebenarnya lelucon yang dibuat sungguh jauh dari kenyataan.

Tak bisa dimungkiri bahwa perempuan, dalam hal ini ibu, adalah sosok yang tangguh dan mudah beradaptasi. Transformasi dalam diri perempuan terlihat signifikan saat telah menikah, lebih-lebih saat sudah berperan menjadi ibu. Hal ini dapat dilihat dalam diri perempuan mana pun. Misalnya, para istri yang harus tinggal terpisah dengan suami karena tuntutan pekerjaan suami. Tak jarang, mereka menjalani peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah ketika suaminya harus dinas di kota terpisah.

Contoh lain yang tak kalah tangguh yaitu para perempuan yang menjadi orangtua tunggal akibat bercerai. Kedua contoh tersebut jelas menunjukkan bahwa perempuan tak seremeh yang digambarkan oleh lelucon-lelucon seksis tentang perempuan yang beredar sebagai konten di dunia digital.

Pendamping Pendidikan Anak

Pandemi yang telah melanda seluruh dunia seakan menjadi panggung bagi perempuan untuk menunjukkan betapa berdayanya mereka. Masih teringat jelas saat awal pandemi dan para orangtua khususnya para ibu dituntut untuk beradaptasi dengan sangat cepat demi keberlangsungan pembelajaran anak.

Berdasarkan pengalaman yang saya alami, pembelajaran secara daring membawa perubahan besar dalam banyak hal. Ada beberapa dinamika yang terjadi dalam keseharian anak dan keluarga secara umum. Terdapat dua permasalahan yang secara umum terjadi dalam keluarga-keluarga terkait dengan perkembangan dan perilaku anak. Pertama, kejenuhan terhadap cara belajar secara daring. Stres tak hanya terlihat pada anak saja, namun juga pada para ibu yang kebanyakan berperan sebagai pendamping utama bagi anak-anak.

Kedua, adanya kecenderungan peningkatan adiksi anak terhadap penggunaan gawai. Hal ini juga sulit untuk dihindari, terlebih pada anak yang masih bersekolah di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kedua permasalahan tersebut tak bisa dianggap sepele. Hebatnya, hanya dalam waktu dua tahun, nyatanya permasalahan tersebut bisa diatasi. Hal ini tak lepas dari solidaritas kaum perempuan lewat forum-forum parenting yang anggotanya kebanyakan berisi para ibu.

Mereka dengan sigap membuat berbagai pelatihan terkait dua permasalahan di atas, berupa kuliah umum dengan media Whatsapp, Telegram, Zoom, serta media sosial seperti Instagram dan Facebook. Kecakapan literasi digital para ibu pun terbentuk dengan pesat berkat aneka kegiatan tersebut.

Perekonomian Keluarga

Tantangan selama pandemi tak hanya berkutat dalam hal pendidikan saja. Ada permasalahan yang tak kalah pelik dalam hal perekonomian keluarga. Ada keluarga-keluarga yang mengalami carut marut finansial. Terjadi penurunan pendapatan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK), bisnis keluarga yang hancur, ataupun pengurangan gaji dari perusahaan. Dalam kondisi yang serba sulit itu, banyak keluarga yang permasalahannya masih ditambah lagi dengan angsuran yang tak bisa ditunda.

Dalam situasi serba sulit itu, para perempuan menunjukkan kemampuan adaptifnya dalam aktivitas bisnis skala kecil. Geliat usaha mikro yang motor penggeraknya adalah perempuan terlihat di sana sini. Kelas-kelas bisnis berbasis digital pun bermunculan. Dalam dua tahun terakhir, kepiawaian perempuan dalam meningkatkan skala usahanya jelas terlihat. Dukungan pemerintah lewat program Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) dan program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) pun mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Perempuan-perempuan telah memajukan usahanya lewat berbagai platform digital. Yang tadinya hanya berjualan lewat Whatsapp Stories kini sudah bisa merambah ke lokapasar Shopee, Bukalapak, Lazada, ataupun Tokopedia. Perempuan pun tak hanya mampu berjualan dengan memanfaatkan platform digital saja. Kaum perempuan juga mengasah kemampuan pendukung lain seperti mengelola konten iklan untuk toko daringnya serta mempelajari sistem pembayaran digital.

Perempuan pada era pandemi nyatanya tak lagi hanya berperan menjadi pendamping suami, namun banyak pula yang bertransformasi menjadi soko guru perekonomian keluarga.

Menjadi Relawan

Tak bisa dimungkiri bahwa era pandemi telah berhasil membuat masyarakat lebih melek dengan teknologi. Hal ini tentunya dapat mempermudah pelaksanaan program-program digitalisasi yang dirancang oleh pemerintah. Pada Mei 2021 Kemenkominfo meluncurkan Program Literasi Digital Nasional dengan tema "Indonesia makin cakap digital". Program tersebut bertujuan untuk melandasi aneka program digitalisasi nasional.

Agenda Literasi Digital Nasional sendiri sudah diinisiasi oleh Kemenkominfo sejak 2017. Terkait dengan program tersebut, kaum perempuan, khususnya para ibu, secara tidak langsung telah menjadi relawan bagi pelaksanaan program Literasi Digital Nasional. Peran perempuan dalam pembelajaran daring serta dalam kegiatan perekonomian keluarga jelas telah menempatkan para ibu sebagai pelaku sekaligus fasilitator literasi digital dalam tingkat rumah tangga.

Terdapat empat pilar utama kecakapan literasi digital, yaitu etis bermedia digital, aman bermedia digital, cakap bermedia digital, dan budaya bermedia digital. Dari keempat aspek pilar utama tersebut, kaum perempuan pada umumnya sudah menguasai perihal etis bermedia digital, cakap bermedia digital, serta sudah memiliki budaya bermedia digital. Jika dianalisis lebih mendalam, hanya pilar aman bermedia digital saja yang masih butuh dikenalkan lebih mendalam untuk para perempuan.

Contoh-contoh kecakapan kaum perempuan, khususnya para ibu pun sudah sangat jelas. UMKM yang didominasi oleh perempuan dan sebagian besar dilakukan dengan mengandalkan platform digital menjadi salah satu bukti. Tentu hal ini juga membuat perempuan secara umum sudah terbukti menguasai minimal dua pilar kecakapan literasi digital, yaitu kecakapan budaya digital dan cakap menggunakan media digital.

Sementara untuk kecakapan etis digital sebenarnya sudah cukup banyak dimotori oleh berbagai komunitas parenting yang penggeraknya didominasi oleh perempuan. Lewat komunitas-komunitas parenting, hal-hal etis terkait penggunaan teknologi telah diperkenalkan untuk para ibu. Sebenarnya perihal aman bermedia digital pun kadang sudah disinggung, namun memang kadangkala kendala teknis menjadi salah satu penghambat perempuan dalam memperoleh kecakapan literasi terkait keamanan digital.

Kewalahan

Bisa dikatakan bahwa ibu punya kemampuan yang sangat baik untuk beradaptasi dengan teknologi. Pendidikan literasi digital bagi keluarga pun faktanya tak bisa lepas dari peran ibu. Bahkan, acap sosok ibu juga berperan sebagai pelindung dalam penggunaan teknologi digital di rumah tangga.

Meski demikian, kemajuan teknologi yang sangat pesat kadang dapat juga membuat para pelindung keluarga ini kewalahan. Seperti yang sering didengar dalam berbagai pemberitaan media ada kasus-kasus anak tak sengaja berbelanja di lokapasar atau anak melakukan top up untuk game online menunjukkan bahwa ibu sebagai pemilik gawai masih kurang cakap dalam hal keamanan digital.

Tentunya kendala semacam ini berkaitan erat juga dengan kemampuan membaca yang rendah. Sehingga, meski perempuan sudah menjadi pengguna teknologi, namun masih sering enggan untuk mempelajari hal-hal teknis yang dijelaskan dalam dokumen manual terkait keamanan dan privacy data. Padahal, kedua hal ini merupakan hal yang sifatnya sangat penting.

Selain itu, ada hal-hal yang dapat menjadi tantangan eksternal akibat kurangnya kecakapan literasi terkait pilar keamanan digital. Perempuan dan anak-anak masih sering menjadi korban eksploitasi konten. Dalam hal ini, perempuan membutuhkan pendampingan dan pengetahuan tentang hak-hak feminisme positif. Tantangan terkait isu gender tersebut tentu masih bertaut secara tidak langsung dengan perihal kesejahteraan dan pendidikan perempuan.

Harapan

Sebagai seorang ibu, saya memiliki harapan terkait Program Literasi Digital Nasional yang masih gencar dilakukan hingga 2025 nanti. Semoga program yang diagendakan dapat menjangkau kelompok ibu di daerah-daerah dengan keterbatasan perangkat digital. Sehingga, kelak para perempuan di daerah terpencil juga mendapat kesempatan menjadi perempuan berkemajuan, sama seperti para perempuan yang tinggal di kota besar.

Seperti yang sudah terlihat dalam data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, disebutkan bahwa mayoritas pelaku UMKM adalah perempuan. Dengan angka 52 persen dari 63,9 juta pelaku usaha mikro dan 56 persen dari 193 ribu usaha kecil, perempuan jelas memiliki peran penting dalam laju perekonomian nasional.

Sudah seharusnya prestasi perempuan berdasarkan data tersebut diapresiasi, salah satunya dengan jaminan ketersediaan perangkat serta dukungan edukatif berupa pelatihan tepat sasaran yang mudah diakses. Tentu pada akhirnya, sila "keadilan sosial" akan dapat dirasakan secara nyata di masyarakat, lewat meningkatnya kesejahteraan finansial dalam keluarga-keluarga yang telah mendapatkan pendampingan literasi digital.

Butet RSM ibu tiga anak, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)