Kolom

Hepatitis Akut dan Hilangnya Rasa Takut Semut

Xavier Quentin Pranata - detikNews
Selasa, 17 Mei 2022 10:25 WIB
red ant in nature, macro shot, ants are an animal working teamwork
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/lamyai
Jakarta -

"Jagalah hatimu baik-baik, sebab hatimu menentukan jalan hidupmu." Itulah ucapan orang paling bijak sedunia, yaitu Raja Salomo atau Sulaiman.

Setelah dihajar oleh pandemi Covid, Indonesia dicecar oleh Hepatitis akut. Penyakit hati ini telah merenggut jiwa, khususnya anak-anak. Itulah sebabnya masyarakat diimbau untuk menjalani hidup bersih agar penyakit ini tidak menular dan menyebar seperti Covid.

Meskipun berbahaya, namun ada 'penyakit' yang jauh lebih berbahaya lagi: sakit hati. Orang yang disakiti hatinya bisa melakukan apa saja --bahkan pembunuhan-- terhadap orang yang menyakitinya.

Air Susu Dibalas Air Tuba

Penyanyi dangdut Mansyur S pernah mempopulerkan lagu berjudul Air Susu Dibalas Air Tuba. Liriknya bisa jadi cermin kita saat mengamati fenomena saat ini.

Ke mana akan kubawa derita hati yang luka/ Dendam benci karena cinta/ Walaupun emas permata beribu kau kata cinta/ Namun akhirnya kau membuat luka/ Kasih sungguh kejam hatimu pada diriku/ Rupanya sudah biasa kau mengkhianati cinta/ Air susu kau balas air tuba.

Cinta yang dikecewakan bisa berubah menjadi benci yang mengkhawatirkan. Seorang menteri yang di-reshuffle dari jabatannya karena kurang capable bisa mangkel dengan mantan atasannya. Kalau bisa orang yang dulu dicintainya itu ikut njungkel. Vladimir Putin yang merasa dikhianati oleh Volodymyr Zelensky hatinya getir. Meskipun nama depannya mirip --karena dulunya memang sekutu-- karena sakit hatinya sudah di titik nadir, Ukraina dia bombardir.

Rakyat kecil yang hatinya mengkal karena merasa tidak tersentuh oleh pembangunan yang masif berani teriak, "Kami tidak makan aspal!" Kalangan yang tersingkir karena kemajuan dan akhirnya tersungkur bisa mencoret billboard dengan tulisan: "Kami tidak makan infrastruktur!"

Seorang disabilitas yang kursinya diduduki pejabat mengungkapkan kekecewaannya di akun Twitter-ya terhadap Garuda dan 'abdi negara' itu. Meski national flight carrier ini sudah meminta maaf dan memberikan kompensasi, dia tidak mau men-take down tweet-nya. Takut dan surut membuat peristiwa semacam akan berlarut-larut dan membuka wajah Indonesia makin carut marut.

Pasrah Menerima Air Tuba

Aku pun menyadari orang tak punya/ Tapi jangan diriku terlalu kau hina/ Walau bagi dirimu tiada mengapa/ Tapi bagi diriku kau buat kecewa/ Biarlah derita ini kutanggung sendiri/ Karna diriku sudah tiada berarti tiada berarti

Mansyur S kembali mendendangkan bahwa sebagai wong cilik dia tidak bisa apa-apa meskipun disakiti. Meskipun ada pepatah yang mengatakan, "Semut kalau terinjak akan menggigit," baginya daya gigitnya sudah tidak bisa bikin sakit. Sebaliknya malah membuat hatinya tambah pahit.

Belajar dari pengalaman, seseorang menulis begini: "Orang miskin jangan bikin perkara dengan orang kaya. Orang kaya jangan bikin masalah dengan pejabat." Hukum pun sampai saat ini masih sulit diterapkan secara adil dan bukan tebang pilih, bahkan salah tebang. Orang yang mampu bayar, meski masuk penjara, sebentar saja keluar.

Apakah mata Dewi Keadilan yang tertutup atau hati nurani para penganutnya? Di dunia yang tidak berpihak kepada wong cilik, meskipun marah, rakyat kecil hanya bisa berserah. Pasrah.

Ditelan Waktu, Air Tuba pun Dibiarkan Lalu

Yang lalu biar berlalu lupakan saja semua/ Lebih baik kini kita berpisah/ Kalau kutahu begini tak mau aku bercinta/ Air susu kau balas air tuba

Syair terakhir dendang Mansyur S menyurat dan menyiratkan kondisi yang sudah kronis. Daripada menderita, lebih baik berpisah dan ogah untuk kembali bercinta. Salah satu cara untuk mengurangi rasa sakit pengkhianatan adalah melupakan. Benarkah sayatan dan tikaman di hati itu benar-benar bisa hilang? Bukankah rasa perihnya masih menyayat setiap kali otak kembali ingat?

Itulah yang terjadi saat Ferdinand Marcos Jr memenangkan pilpres di Filipina. Para pengamat politik mengatakan, kemenangan Bongbong itu merupakan alarm bagi demokrasi di Indonesia. Mengapa mereka bisa mengingatkan seperti itu? Karena 'sikon' di Indonesia mirip sekali dengan tetangga kita. Beberapa tokoh politik dan pendukungnya mencoba dengan berbagai cara untuk menghapus citra buruknya di masa lalu untuk memuluskan jalan menuju Pemilu 2024.

Apakah strategi Bongbong mengapur kubur kebusukan masa lalu yang menyembunyikan tulang-belulang dan mengubahnya dengan glorifikasi zaman pemerintahan ayahnya dulu bisa sukses juga di Indonesia? Tergantung sedalam apa generasi muda kita mau menggali harta karun sejarah bernama jejak digital dan sejauh mana para orangtua mewariskan ancient wisdom mereka, serta tekat mereka untuk tetap mempertahankan kewarasan berpikir dan kesehatan hati nurani.

"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." Begitu pesan Sulaiman. Jika hati sudah tercemar, bagian tubuh lain pun akan terpapar dan akhirnya seluruh tubuh akan terkapar.

Xavier Quentin Pranata pelukis kehidupan di kanvas jiwa

(mmu/mmu)