Kolom

Memikirkan Kembali Energi Terbarukan

Ali Rahman - detikNews
Jumat, 13 Mei 2022 14:15 WIB
ReThinking Energi Terbarukan
Budi daya sorgum dengan pola agroforestry
Jakarta -

Polemik atas dualisme penggunaan CPO untuk bahan baku minyak goreng (pangan) atau biodiesel (energi) juga terjadi di belahan dunia lain dengan jenis komoditas yang berbeda. USA dan Eropa mendikotomikan penggunaan jagung untuk bioethanol dan corn oil untuk pangan. Sejatinya keadaan ini tidak mesti terjadi di Indonesia.

Ketika dikotomi pangan dan energi dihadapkan secara diametral, maka salah satu harus dikalahkan dan akan berimplikasi kepada gejolak harga dan keresahan di tingkat konsumen berupa kelangkaan masalah pangan. Bagaikan buah simalakama, memilih pangan atau energi seolah harus saling mengorbankan.

Padahal, Indonesia dikaruniai oleh beragamnya sumber plasma nutfah yang bisa dikembangkan dan digunakan sebagai sumber pangan ataupun sumber untuk energi terbarukan. Tinggal variabel apa yang akan dipakai untuk membuat keputusan soal fokus untuk sumber pangan atau energi baru terbarukan (EBT).

Komitmen

Komitmen Indonesia sebagai leader G20 dalam upaya penggunaan EBT sudah jelas dan tegas. Rencana bauran energi sudah dibuat dan sebagian sudah dijalankan. Roadmap realisasi di semua sektor pun sudah disusun dan mulai dilaksanakan.

Program bioethanol dan biodesel sudah digunakan di SPBU dan penggunaan wood pellet/ woodchips sumber energi pengganti batu bara di industri juga sudah diaplikasikan. Harapannya terjadi pengurangan emisi dari aktivitas transportasi sebagai sektor penghasil emisi terbesar penyumbang karbon. Serta, penurunan emisi dari aktivitas pabrik pengguna batu bara.

Selain itu, Indonesia masih memiliki potensi sumber EBT besar lainnya yaitu energi panas bumi (geothermal), energi angin, pasang surut laut, energi surya, dan PLTSa. Pertanyaannya, sumber energi mana yang harus diprioritaskan untuk dikembangkan? Faktor-faktor apa yang harus menjadi variabel utama ketika pemerintah memutuskan untuk fokus dalam pengembangan EBT yang terpilih untuk dikembangkan?

Jangan mengulangi lagi atau jangan lagi mengganggu CPO, singkong atau jagung karena dampak yang ditimbulkannya sungguh mahal. Baik biaya ekonomi maupun biaya sosial, bahkan eksistensi suatu rezim bisa terancam. Maka pilihan variabel untuk pengembangan EBT menjadi sangat penting dan strategis.

Beberapa variabel utama yang semestinya diperhitungkan adalah variabel yang tangible dan intangible. Sehingga sekali merengkuh dayaung dua tiga pulau terlewati. Sekali memilih komoditas bahan baku yang diambil untuk dijadikan EBT, maka banyak masalah nasional yang bisa diselesaikan.

Apalagi dampak pascapandemi Covid-19 ini menjadi sangat berat di level masyarakat. Mulai dari masalah kemiskinan, pengangguran, kelaparan, derasnya arus urbanisasi, dan berbagai masalah sosial dan bahkan mulai memicu masalah politik di dalam negeri.

Ragam Sumber

EBT merupakan komitmen dunia. Artinya semua negara di dunia akan masuk dan bersaing untuk menggunakan dan menjual (ekspor) produk EBT yang memiliki daya saing sekaligus mendorong pergerakan ekonomi suatu bangsa. Sehingga pertimbangan competitive advantage dan comparative advantage dari komoditas yang akan dijadikan bahan baku utama EBT mutlak harus 100% dihasilkan di dalam negeri.

Indonesia memiliki ragam sumber EBT. Sehingga variabel utama yang harus dipilih adalah yang mampu menyelesaikan masalah-masalah polusi lingkungan (green energy), memiliki dampak dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat agar terbebas dari pengangguran dan kemiskinan, serta produk EBT yang dihasilkan memiliki daya saing yang tinggi di pasar internasional (profit).

Ketika pengembangan EBT harus mampu menjawab masalah 3P tersebut, yaitu kemiskinan (people), green energy (planet), dan keunggulan daya saing produk EBT di pasar internasional (profit), produk yang dipilih haruslah bisa menjawab ketiga variabel tersebut. Maka secara akal sehat pilihannya akan jatuh kepada sumber bahan baku yang bisa ditanam (agriculture dan/atau aquaculture) secara berkelanjutan.

Sehingga pilihannya akan jatuh kepada tanaman atau pohon yang cepat tumbuh. Yaitu sumber bahan baku untuk produk biodiesel, bioethanol, dan wood pellet. Ketiganya akan mampu menjawab tantangan dari 3-P tersebut. Sebagai contoh pengembangan wood pellet dengan menggunakan bahan baku kayu kaliandra (Calliandra calothyrsus) misalnya. Maka semakin banyak produksi wood pellet atau wood chips yang diperlukan akan semakin luas lokasi penanaman kaliandra dilakukan.

Artinya akan semakin banyak para petani bekerja di kebun kaliandara yang dibudidayakan. Dampak lainnya akan semakin sedikit lahan tandus atau bantaran sungai yang tidak termanfaatkan. Penghijauan akan terjadi di mana-mana secara produktif dan masif sekaligus menjadi ruang untuk memberdayakan banyak sekali masyarakat yang bekerja di sector on farm.

Hal yang sama, ketika EBT yang kembangkan adalah biodiesel dengan bahan baku kemiri sunan (Reutealis trisperma) atau pohon jarak pagar (Jatropa curcas) maka budi daya secara masif akan terjadi. Lapangan kerja akan banyak tercipta, lahan-lahan tandus dan marginal akan hijau. Kondisi serupa ketika bioethanol dikembangkan. Maka hamparan kebun sorgum akan terjadi di mana-mana.

Dengan skema agroforestry, program perhutanan sosial yang akan dan sedang dikembangkan Kementerian Kehutanan dan Perum Perhutani akan tumbuh menjadi lokomotif ekonomi yang mendongkrak taraf hidup masyarakat di Pulau Jawa maupun lokasi lainnya.

Kalau di USA pernah terjadi program Civilian Conservation Corp pada rentang 1930 – 1939 dengan program New Deal Presiden Roosevelt ketika resesi besar menerjang, maka sekarang bisa dicanangkan di Indonesia Job For People dengan isu utama EBT untuk rakyat. Jutaan Lapangan pekerjaan akan tercipta ketika perkebunan sorghum, jarak pagar, kaliandara secara masif dikembangkan melalui sinergi antara pemerintah, BUMN, dan swasta.

Semua energi bangsa ini fokus untuk mewujudkannya. Program KUR, LPDB, BLU BPDLH, LPMUKP, dan semua skema pembiayaan mendukung dan fokus untuk mewujudkan program EBT untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Dampak Lain

Dampak lainnya ketika bioetahnol, biodiesel, dan wood pellet menjadi pilihan utama pengembangan EBT di Tanah Air, akan tumbuh dan berkembang industri-industri setengah jadi (intermediate industry) di tingkat pedesaan. BUMDEs akan menjadi ujung tombak dari peningkatan nilai tambah produk EBT di pedesaan. Dana desa akan terpakai secara produktif dan bertumbuh. Para pemuda desa akan mandiri dan tidak tertarik pergi ke kota, karena agroindustri pedesaan mampu memberikan ruang penghidupan yang layak.

Dampak lain adalah inovasi yang dihasilkan BRIN akan terpakai. Hasil riset kampus akan menemukan channel-nya untuk diaplikasikan. Maka domino effect EBT ini akan tumbuh menjadi pemicu kebangkitan dan kemandirian ekonomi pedesaan.

Bangsa ini punya matahari yang bersinar sepanjang tahun, air melimpah, tanah vulkanis, dan beranekaragam sumber plasma nutfah yang merupakan keunggulan komparatif sekaligus kompetitif yang hanya dimiliki oleh sedikit negara di dunia. Bangsa ini tidak hanya akan mampu menyejahterakan dirinya, tetapi akan tampil sebagai lokomotif dan leader dalam upaya menyelamatkan planet biru ini dari bahaya perubahan iklim.

Indonesia sedang mendapat momentum sebagai ketua G-20 untuk menunjukkan contoh nyata penggunaan EBT yang menyejahterakan rakyat, memulihkan lingkungan yang tercemar, sekaligus turut mempercepat tercapainya target SDGs. Yaitu terkait masalah perubahan iklim, penanganan kemiskinan, kelaparan, penyediaan air bersih, energi terbarukan, pekerjaan yang layak serta mengurangi ketimpangan ekonomi. Artinya 50% masalah SDGs dapat terselesaikan ketika pengembangan EBT diselaraskan dengan upaya pencapaian 3P (profit, people, planet).

Ali Rahman Tenaga Ahli Sinergisitas BNPT

(mmu/mmu)