Kolom

Banyumas: Transit Budaya

Arda Rahayu - detikNews
Jumat, 13 Mei 2022 10:30 WIB
Tari Lengger dipentaskan di Pendopo Kecamatan Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (6/3/2022). Bupati Banyumas Achmad Husein ikut menari.
Tari Lengger khas Banyumas (Foto ilustrasi: dok. Pemkab Banyumas)
Jakarta -

Secara kebahasaan Banyumas memiliki ciri khas yang unik dibanding bahasa Jawa lainnya (gaya wetanan). Kecenderungan berbahasa lugas yang sering disebut sebagai "ngapak" adalah salah satu cirinya. Namun, sebenarnya term "ngapak" bukanlah gaya bahasa, melainkan kata tersebut merupakan cemooh yang muncul dari pengguna bahasa wetanan (Solo-Jogja) untuk melabeli bahasa lugas ala banyumasan.

Tindakan orang wetan melabel cara berbahasa orang Banyumas juga dilakukan oleh orang Banyumas. Kata "bandhek/gandek" adalah upaya orang banyumasan untuk membalas cemooh orang wetan dengan memberikan label terhadap bahasa wetan. Tidak berhenti di situ, orang Banyumas juga menyebut bahasa Sunda sebagai "badeol-badeol".

Hal lain yang unik dari Banyumas adalah keberadaan alat musik tradisi, yakni Calung. Kekhasan ini akan dapat dirasakan jika membandingkan kecenderungan pilihan pahan alat musik di pusat kerajaan dan pinggiran kerajaan. Di pusat kerajaan (Jogja-Solo) alat musik seringkali berbahan metal; tidak mengherankan karena pusat kerajaan memiliki kemungkinan akses terhadap bahan metal lebih mudah. Di sisi lain secara ekonomi lebih mapan dibanding pinggiran kerajaan (Banyumas).

Banyumas disebut sebagai pinggiran kerajaan karena memang secara jarak dari pusat ibu kota Mataram lumayan jauh, maka keterpengaruhan budaya juga cukur minor. Di Banyumas alat musik cenderung berbahan tanaman. Calung misalnya. Calung adalah alat musik berbahan bambu. Lahir dari kreasi seniman masa lalu yang menyesuaikan keterbatasan akses terhadap bahan metal --entah karena harga ataupun faktor lain.

Mulanya bambu berfungsi sebagai penanda suara dengan mengubahnya menjadi kentongan, melalui penyesuaian bentuk berpadu dengan rasa seni akhirnya menemukan bentuk baru bambu sebagai sumber bunyi yang memiliki notasi.

Apakah dengan kekhasan dua hal tersebut Banyumas memiliki peluang mengejar Jogja dan Solo menjadi pusat kebudayaan?

Banyak hal perlu dilakukan; bahasa dan alat musik adalah modal awal ,namun tidak cukup untuk bertransformasi sebagai pusat kebudayaan yang baru. Sebenarnya masih banyak keunikan lain yang dimiliki tlatah banyumasan, potensial untuk dieksplorasi dan dieksploitasi demi kemanfaatan yang lebih luas.

Secara hitungan matematis, mengejar perkembangan Solo dan Jogja tidak bisa diraih dengan mudah. Apalagi iklim seni yang sudah terbangun di sana, rasanya Banyumas perlu kerja ekstra untuk mengimbanginya.

Hal yang memungkinkan adalah menjadikan Banyumas sebagai ruang transit budaya. Yakni, tempat persinggahan budaya antara pusat-pusat kebudayaan. Dalam skup kecil antara Jogja-Solo-Jakarta-Bandung. Jogja-Solo dengan tradisional etnik, Bandung dengan pop, Jakarta dengan urban-liberalisme. Di antara pusat-pusat budaya tersebut ada Banyumas sebagai "jalur sutra" lalu lintas budaya.

Keuntungan

Ada sejumlah keuntungan yang bisa diperoleh dengan menyediakan diri sebagai ruang transit budaya. Pertama, membuka terjadinya pertukaran budaya. Kedua, melahirkan karya baru yang hibrid. Ketiga, jangka panjang menjadi kiblat baru barometer kebudayaan.

Namun sejumlah keuntungan itu belum dapat diraih sebelum terjadinya transit budaya itu sendiri. Maka perlu menyiapkan sejumlah perangkat yang memungkinkan menjadi tempat transit. Perangkat ini secara umum terbagi menjadi dua, yakni perangkat fisik dan non fisik.

Perangkat fisik utama adalah gedung pertunjukan yang representatif (lengkap pendukungnya). Apakah ketersediaan Gedung Soetedja belum mencukupi? Jawabanya, belum. Berkaca dari Taman Budaya Surakarta secara koleksi jenis lampu, pilihan gedung pertunjukan/pameran/atau art space lainya, terkoneksi penginapan, pengelolaan, dan lain-lain, Gedung Soetedja bisa dikatakan tertinggal. (Dibanding kota yang tanpa gedung pertunjukan, Gedung Soetedja patut dimanfaatkan semaksimal mungkin).

Perangkat non fisik berada pada ghirah publik untuk men-support, menghargai berkembangnya kebudayaan. Keberadaan kampus dengan kelompok teaternya sangat diharapkan berkontribusi banyak. Penelitian dosen dengan tema kebudayaan perlu ditingkatkan agar dapat dirasakan dampaknya lebih luas. Kesediaan seniman (tradisi-modern) untuk membuka diri dengan ilmu-gaya kebudayaan yang sedang berkembang. Jika tidak terbuka dengan perkembangan, maka akan terjadi kesia-siaan meskipun gedung dan segala fasilitasnya tersedia.

Tentang ghirah publik dalam semangatnya men-support kebudayaan, secara prinsip warga Banyumas tidak bisa diragukan. Terbukti tontonan dengan genre kolosal dan free ticket selalu ramai. Ebeg, wayang, apalagi konser musik. Tetapi untuk pertunjukan yang memiliki kecenderungan dalam gedung dan mengharuskan ticketing masih belum menunjukkan penghargaan yang diharapkan. Pengecualian industri film dengan adanya beberapa bioskop.

Mendesak

Menyediakan diri sebagai transit budaya cukup mendesak, sebab ada kecenderungan pegiat seni (mahasiswa) yang memiliki kesempatan studi di Solo ataupun Jogja memilih mengembangkan kekaryaannya di tempat ia belajar --males balik Banyumas. Mungkin karena iklim di sana lebih cocok dengan semangat berkarya mereka. Atau malah karena enggan kembali menjadi "tertinggal" kalau balik ke Banyumas.

Jika tidak ditangani, kecenderungan ini akan berdampak pada turunnya kuantitas pelaku seni terdidik di Banyumas dan dalam jangka panjang menghambat perkembangan kebudayaan di Banyumas itu sendiri. Memungkinkan pula sejumlah budaya akan ditinggalkan karena tidak mendatangkan manfaat bagi para penganggitnya.

Mewujudkan Banyumas sebagai ruang transit akan menjadikan Banyumas semakin dewasa. Peluang terjadinya pertukaran pengetahuan dari tempat lain semakin terbuka. Keunikan dan kekhasan akan dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Utamanya, memicu pegiat seni dan budaya termotivasi untuk melahirkan semakin banyak karya berkualitas sebagai impact atas pertemuan dengan arus perkembangan budaya dari kota atau tempat lain.

Arda Dwirahayu Sekretaris Yayasan Seni Kie BAE, Sekretaris LESBUMI NU Banyumas

(mmu/mmu)