Kolom

Digitalisasi Kehidupan Sosial

Abd Hakim - detikNews
Kamis, 12 Mei 2022 11:35 WIB
Kazakhstan larang ponsel pintar di kantor-kantor pemerintah
Foto ilustrasi: BBC Magazine
Jakarta -

Mungkin kita pernah melihat sekumpulan anak muda yang berkumpul dalam suatu tempat, namun mereka tidak saling mengobrol. Mereka asyik dengan ponsel pintarnya masing-masing. Padahal mereka sudah janjian untuk bertemu, tapi setelah berkumpul tidak saling bercengkerama. Atau, bisa jadi di antara kita ada yang mengalami hal tersebut.

Komunikasi verbal atau ngobrol-ngobrol sudah berkurang karena kesibukan dengan ponsel pintarnya. Mereka sibuk dengan dunia masing-masing. Seakan-akan mereka hidup di dunia yang berbeda. Saat ini, hidup terasa kurang lengkap tanpa ditemani ponsel pintar. Ponsel pintar "lowbat" saja sudah terasa gelisah, apalagi tertinggal. Dunia terasa gelap tanpa ponsel pintar.

Saya pernah gowes bersama beberapa teman. Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, kami singgah di sebuah warung kopi untuk istirahat dan menikmati kopi bersama. Istirahat dan bersantai untuk menghilangkan rasa lelah. Warung kopi favorit kami yang selalu ramai pengunjung.

Saya perhatikan sekelompok anak muda yang berada di warkop tersebut. Mereka asyik dengan ponsel pintarnya. Mereka tidak mengobrol satu sama lain, apalagi melontarkan candaan dan tertawa bersama kelompok mereka, jarang sekali. Ya, mirip-mirip dengan kami. Kami mengobrol sambil berkomunikasi dengan ponsel pintar masing-masing. Sepertinya waktu untuk bercanda dan mengobrol ria, harus bersaing dengan ponsel pintar di genggaman.

Saya masih teringat kira-kira sepuluh atau lima belas tahun lalu. Sekelompok anak-anak bermain "petak-umpet". Permainan cari-sembunyi yang biasa dimainkan oleh beberapa orang. Satu orang menjadi "kucing" yang ditentukan melalui hompimpa, sedangkan yang lainnya bersembunyi.

Tugas si "kucing" adalah mencari teman-temannya yang bersembunyi. Pertama si "kucing" akan memejamkan mata atau berbalik, yang lain bersembunyi sampai hitungan ke sepuluh. Tugas akan selesai jika semua temannya berhasil ditemukan. Orang yang pertama ditemukan akan menjadi "kucing" berikutnya.

Serba Digital


Cerita di atas mengilustrasikan bahwa zaman sudah berubah. Saat ini sudah terjadi pergeseran kehidupan sosial. Dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, anak bisa bermain sendiri dengan ponsel pintar mereka. Belajar tidak harus bersama tumpukan buku-buku. Semua serba digital.

Memang zaman sudah berubah. Pada era digital saat ini, berbagai aktivitas kehidupan dapat dilakukan melalui media digital. Kegiatan belajar-mengajar, bekerja, silaturahmi, bermain, menelusuri dunia, dan sebagainya dapat dilakukan di mana saja dengan bantuan teknologi digital. Kemajuan teknologi ini mengubah pola kehidupan sosial manusia. Perubahan yang membawa dampak besar terhadap peradaban manusia.

Pada era perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, sulit sekali rasanya menghindar dari ponsel pintar. Seorang bayi yang baru lahir saja sudah diperkenalkan dengan ponsel pintar. Bagaimana tidak, untuk mengungkapkan rasa kegembiraannya, seorang ibu atau ayah akan mem-posting foto atau video bayi yang baru lahir ke media sosial. Seorang bayi menjadi aktor utama dalam video unggahan mereka.

Mereka juga akan melakukan video call dengan sanak saudara yang tinggal berjauhan. Meskipun sang bayi tidak mengerti apa yang mereka lakukan, apa yang mereka perbincangkan, tapi para orangtua tetap saja terus bercanda dan berkomunikasi dengan sang bayi secara virtual.

Iya memang bayi tidak mengerti apa-apa. Namun itulah kenyataan bahwa seorang anak manusia zaman sekarang, sejak bayi sudah berkenalan dengan teknologi canggih. Digitalisasi tak dapat dielakkan meskipun yang bersangkutan belum mengerti sama sekali.

Terlebih lagi di masa pandemi Covid-19, penggunaan teknologi digital tak dapat dihindari. Banyak aktivitas di luar rumah dan kegiatan berkumpul dibatasi. Anak sekolah tidak belajar di sekolah, tapi belajar dari rumah. Sebagian besar orang tidak bekerja di kantor, tapi bisa bekerja di rumah. Teknologi digital sangat membantu permasalahan tersebut, dan ponsel pintar menjadi pilihan utama.

Mulanya anak-anak sekolah menggunakan ponsel pintar untuk belajar secara daring. Setelah jenuh mereka akan bermain game, nonton Youtube, atau berselancar di dunia maya. Demikian juga dengan orang dewasa. Selesai bekerja, mereka akan memanfaatkan ponsel pintar untuk kegiatan lain yang menghibur.

Walaupun penyebaran Covid-19 sudah menunjukkan kondisi membaik dengan tingkat kesembuhan yang cukup tinggi, namun penggunaan internet masih terus meningkat. Orang sudah dimanjakan dengan teknologi. Banyak hal yang dapat dilakukan dengan mudah dengan bantuan teknologi digital dan internet.

Pergeseran


Gambaran di atas didukung dengan data yang dirilis BPS. Data tersebut menunjukkan bahwa pengguna internet meningkat dari 47,69 persen pada 2019 menjadi 53,73 persen 2020 kemudian menjadi 62,10 persen pada 2021. Data tersebut berdasarkan survei yang dilakukan pada Maret.

Memang saat ini, orang telah dimanjakan oleh ponsel pintar. Berbagai fasilitas ponsel pintar yang terkoneksi dengan internet telah membuat pola hidup berubah. Fasilitas tersebut bisa berdampak positif dan bisa juga negatif, tergantung seberapa bijak kita menggunakannya. Data BPS menunjukkan bahwa sebagian besar orang mengakses internet menggunakan ponsel pintar (98,70%), sedikit sekali yang menggunakan komputer atau laptop.

Walaupun fasilitas atau fitur-fitur yang tersedia cukup banyak, tapi sebagian besar orang disibukkan dengan membuat konten medsos atau sekedar melihat-lihat (88,99%), sebagian untuk membaca berita (66,13%), dan sebagian yang lain untuk hiburan (63,08%). Sedangkan untuk kegiatan lain seperti penggunaan surel, jual beli daring, fasilitas finansial dan sebagainya relatif kecil.

Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat membuat kehidupan sosial manusia mengalami pergeseran. Dulu, orang akan senang untuk berinteraksi atau mengobrol ketika sedang berkumpul. Saat ini, orang akan acuh dengan lingkungannya karena perhatian sudah beralih pada ponsel pintar daripada berinteraksi sosial secara langsung.

Dengan bantuan teknologi, pergaulan manusia akan lebih luas menjangkau dunia. Namun banyak di antara mereka malah tidak mengenal lingkungan sekitar, tidak saling terjalin dalam pergaulan sehari-hari. Dulu, kita dianjurkan membaca doa sebelum makan. Saat ini, yang dilakukan adalah foto dulu sebelum makan. Mungkin banyak orang melakukan itu, tapi mereka tidak menyadari bahwa permasalahan kehidupan sosial telah mengalami pergeseran.

Begitulah pesatnya kemajuan teknologi. Saat ini, telah terjadi digitalisasi kehidupan sosial manusia. Kemajuan teknologi dapat membawa manfaat bagi manusia, tapi bisa juga membawa mudarat, tergantung seberapa bijak kita menggunakannya.

(mmu/mmu)