Kolom

Mengurai Tantangan Inklusi Keuangan Digital dengan Ekosistem Terbuka

Dina Artarini - detikNews
Rabu, 11 Mei 2022 18:24 WIB
Ilustrasi pengguna DANA
Foto: dok. DANA
Jakarta -

Di era penuh konektivitas berbasis teknologi digital, tantangan pelaku industri teknologi keuangan tidak lagi hanya bertumpu pada satu ekosistem ekonomi digital saja. Kemampuan industri teknologi keuangan untuk memiliki ekosistem terbuka yang mampu mengintegrasikan layanan yang dimiliki dengan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem ekonomi digital menjadi sebuah keniscayaan.

Selain dapat memberdayakan kapabilitas ekosistem ekonomi digital lainnya, hadirnya ekosistem terbuka yang terintegrasi antar ekosistem ekonomi digital diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dalam transaksi dan sistem pembayaran, meningkatkan inovasi dan kompetisi, serta mengantarkan literasi dan inklusi keuangan digital masyarakat Indonesia ke arah yang lebih baik.

Salah satu bukti nyata dari pentingnya ekosistem terbuka ditandai dengan kehadiran Standar Nasional Open API (SNAP) oleh Bank Indonesia. Keterbukaan Application Programming Interface (API) kini menjadi syarat penting bagi pelaku industri teknologi keuangan yang mengusung konsep ekosistem terbuka (open ecosystem). SNAP menghadirkan penyeragaman bahasa, protokol, instruksi format data, dan sebagainya yang memfasilitasi interkoneksi antar aplikasi sehingga mampu mendorong percepatan pelaku sistem pembayaran dalam melakukan kerja sama digital dan mampu menekan biaya transaksi konsumen.

SNAP merupakan salah satu bagian dari haluan tata kelola sistem pembayaran masa depan Indonesia untuk menavigasi sistem pembayaran di era digital atau yang disebut dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BPSI) 2025. Dari sisi kebijakan publiknya, SNAP hadir untuk mendukung ekonomi keuangan digital melalui interkoneksi dan interoperabilitas antar Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) atau yang dikenal luas di tengah publik sebagai dompet digital dengan pelaku perbankan. Paparan kebijakan ini berguna untuk meningkatkan efisiensi sistem pembayaran dan mendorong inklusi keuangan.

Dalam pengaturan dan pengoperasiannya, standarisasi ini juga mencakup data, teknis, keamanan, dan tata kelola yang ditujukan agar para pemangku kepentingan dapat saling 'berkomunikasi dengan fasih'. Peran data menjadi penting dalam standardisasi ini karena pertukaran informasi terjadi antar pemangku kepentingan untuk proses pembayaran hingga pembiayaan. Seluruh hal ini terjadi dalam sistem back-end SNAP.

Memahami implementasi standardisasi ini dapat dianalogikan dengan pemahaman akan keberagaman bahasa nasional yang kita gunakan saat ini. Merujuk pada era perjuangan meraih kemerdekaan, banyak perjuangan yang dilakukan mandiri sampai diselenggarakannya Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Salah satu buah hasil dari Sumpah Pemuda yang dirasakan hingga saat ini adalah kemampuan untuk saling berkomunikasi dengan bahasa yang satu, yaitu Bahasa Indonesia. Penyamarataan penggunaan bahasa ini mampu mengikat ratusan ratusan juta masyarakat Indonesia, meskipun dengan latar belakang suku yang berbeda-beda.

Kini, dalam konteks ekonomi digital, khususnya konfigurasi ekonomi dan keuangan digital, diperlukan standardisasi agar pesatnya perkembangan industri ekonomi digital dapat dipahami satu sama lain dan dapat membawa seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak bersama sekaligus berkontribusi positif terhadap perekonomian nasional. Dengan SNAP, semua pihak bisa berkomunikasi dengan satu bahasa dan tidak ada fragmentasi.

Sistem pembayaran memiliki kedudukan penting sebagai tulang punggung perekonomian suatu negara. Sebagai perusahaan rintisan dompet digital Indonesia, DANA bersinergi dengan Bank Indonesia dan asosiasi terkait untuk mendukung lahirnya konsep open platform. Nantinya, DANA akan menjadi first mover yang akan menerapkan SNAP bersama dengan first movers lainnya pada Juni 2022.

Keikutsertaan DANA dalam implementasi SNAP adalah satu dari sederet upaya yang telah DANA lakukan dalam memanfaatkan pentingnya keterbukaan ekosistem ekonomi digital. Tentunya, ekosistem terbuka DANA tetap mengedepankan tiga pilar utamanya yaitu, trusted, friendly, dan accessible untuk mewujudkan ekosistem ekonomi digital yang berkelanjutan.

Ekosistem Terbuka untuk Dorong Adopsi Transaksi Nontunai Pengguna

Masyarakat yang mempercayakan akses keuangannya kepada DANA adalah penerima manfaat utama dari ekosistem terbuka yang saling terintegrasi dalam SNAP. Keraguan pengguna yang kerap menganggap transaksi digital terlalu rumit, kini makin dimudahkan dengan integrasi yang terjadi antar ekosistem ekonomi digital di DANA.

Salah satu contohnya adalah pembayaran melalui Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS yang dikembangkan oleh naungan industri sistem pembayaran, Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) bersama dengan Bank Indonesia guna menciptakan proses transaksi dengan QR Code yang lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya. Sebagai salah satu buah karya BPSI 2025, QRIS merupakan game changer dalam sistem pembayaran, yang dimana diharapkan pada penghujung tahun ini dapat mencapai 15 juta merchant terdaftar.

DANA sebagai Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) ikut mengintegrasikan dompet digital DANA dengan QRIS guna membutuhkan masyarakat untuk melakukan pembayaran berbagai kebutuhan sehari-harinya. Kemudahan QRIS juga ikut diimplementasikan dalam fitur DANA Bisnis di mana pelaku UMKM yang tergabung dalam DANA Bisnis dapat mencetak QRIS sebagai opsi pembayaran usahanya. Jika QRIS dapat dengan mudah ditemui secara fisik di tengah masyarakat, sementara SNAP menjadi infrastruktur penyeragaman di belakang (backend) yang ikut menopang penyelenggaraan transaksi digital. Lewat sinergi yang cekatan, SNAP dapat hadir menjadi game changer lainnya dalam sistem pembayaran di Indonesia.

Kemudahan ekosistem yang saling terhubung juga dirasakan dalam fitur Kirim Uang. Berkat integrasi dalam ekosistem terbuka, pengguna memiliki beberapa opsi untuk mengirim uang dengan menggunakan metode apa pun yang tersedia di DANA, baik melalui aplikasi pesan, tautan, atau bank.

Ekosistem Terbuka untuk Berdayakan Usaha Berbagai Skala

Bagi pelaku usaha, ekosistem terbuka tidak hanya menawarkan kemudahan operasional usaha, tetapi juga meningkatkan nilai dan daya saing usaha. Dengan membangun jaringan yang dinamis dan saling berhubungan, DANA merilis Self Promo Service Merchant untuk DANA Enterprise -mitra bidang usaha makro dan waralaba yang telah memiliki izin usaha atau SIUP- yang memungkinkan merchant mengunggah promonya sendiri dalam dasbor yang disediakan.

Guna membantu melebarkan usaha para mitranya, fitur Self Promo Service memiliki kapabilitas untuk membuat promo secara mandiri melalui Merchant Portal. Sejumlah manfaat yang bisa dirasakan oleh mitra dengan adanya pengembangan ini antara lain mitra tidak perlu menyiapkan dana untuk deposit. Selain itu, mitra bisnis DANA akan mendapatkan perhatian yang lebih luas dari pengguna. Dengan mengatur promo sesuai tujuan bisnis mitra, DANA menjamin paparan iklan yang masif dari puluhan juta penggunanya.

Sementara untuk usaha mikro, DANA menawarkan DANA Bisnis untuk mendigitalisasi usaha mereka hanya dengan menggunakan aplikasi DANA. DANA Bisnis juga menyediakan suplai ke retail merchant sebagai bagian dari supply chain engagement antara distributor dengan merchant. Kehadiran DANA Bisnis telah dirasakan manfaatnya oleh para pahlawan ekonomi kita, UMKM. Baru-baru ini DANA berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menyukseskan perhelatan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia di Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Ekosistem Terbuka untuk Sektor Perbankan

Untuk menciptakan layanan keuangan digital yang makin inklusif, sinergi dengan sektor perbankan sebagai lembaga utama dalam ekonomi keuangan digital menjadi kian penting. Lewat ekosistem terbuka, DANA menggandeng berbagai lembaga keuangan untuk ikut menyukseskan literasi dan inklusi keuangan digital yang inklusif. Sejak awal, DANA telah bermitra dengan bank dengan mengaktifkan fitur Simpan Kartu (Card Binding).

DANA telah terhubung dengan principal kartu seperti VISA, Mastercard, dan JCB sehingga pengguna dapat memiliki kartu debit dan kredit Indonesia mereka di dompet digital DANA. Saat ini, DANA sudah terhubung langsung dengan berbagai Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV atau yang sekarang dikenal dengan Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV dan terkoneksi secara langsung dan tidak langsung dengan semua bank di Indonesia melalui acquirer dan switcher.

Integrasi ini dilengkapi dengan keamanan Three Domain Secure (3D) yang disediakan oleh bank atau agregator kartu untuk memastikan semua transaksi aman. Fitur Simpan Kartu pun diterima positif juga makin diminati oleh pengguna dan mengukuhkan posisi DANA sebagai pemain finansial teknologi (fintek) yang mengusung ajakan untuk 'ganti dompet'. Hal ini tercermin dengan tumbuhnya Simpan Kartu sebesar 34% di 2021. Sementara jumlah kartu yang disimpan dalam dompet digital DANA sepanjang 2021 meningkat 29%.

Dalam hal transaksi, DANA juga terintegrasi dengan penyedia keuangan ritel seperti toko serba ada. Ekosistem terbuka ikut mengubah fungsi toko konvensional menjadi lebih dari sekedar toko retail tetapi juga sebagai layanan OTC (Over the Counter) bagi masyarakat untuk mencairkan dana dari saldo digitalnya.

Sebagai contoh, DANA baru saja merilis Kirim Uang dan Tarik Tunai di Alfamart. Fitur ini memungkinkan penggunanya untuk mengirim uang kepada penerima yang tidak memiliki akses ke layanan keuangan digital, baik bank ataupun nonbank. Lewat pembaruan ini, penerima kini dapat mencairkan uang yang dikirim dari aplikasi DANA, hanya dengan membawa KTP dan kode verifikasi ke Alfamart terdekat.

Industri teknologi finansial seperti DANA yang mampu mengubah ekosistemnya menjadi ekosistem terbuka memiliki kesempatan untuk memberikan nilai baru serta pengalaman yang lebih baik bagi pengguna maupun pelaku ekosistem ekonomi digital lainnya. Berkat ekosistem terbuka yang dimilikinya, DANA terus dipercaya oleh lebih dari 100 juta penggunanya, 500 ribu pelaku UMKM, dan 5 ribu merchant online. Kemudahan integrasi ini juga turut membawa DANA untuk mendukung berbagai program elektronifikasi pemerintah, dari digitalisasi bantuan sosial (bansos) lewat Program Kartu Prakerja, fitur pembayaran pajak, dan moda transportasi, hingga menjalin kerja sama dengan mitra global terkemuka seperti App Store, Google Play, Spotify, Netflix, IQIYI, dan banyak lagi.

Ekosistem terbuka terbukti menghasilkan banyak manfaat untuk seluruh ekosistem ekonomi digital agar terus tumbuh beriringan seraya menyesuaikan diri dengan perubahan pasar atau menangkap peluang baru yang hadir di era digitalisasi. Lebih jauh lagi, ekosistem terbuka akan membuka jalan bagi terwujudnya Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia di tahun 2025 mendatang.

Hal ini turut menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga ekosistem agar terus dipercayai oleh masyarakat dan memberikan manfaat yang seluas-luasnya lewat efisiensi yang diberikan oleh teknologi. Perlindungan konsumen dan perlindungan data pribadi menjadi harga mutlak dalam menjaga ekosistem ini dan mendorong bersama bagaimana teknologi dan inovasi dapat berjalan secara harmonis dengan kebijakan dan pengaturan ke depannya.

Oleh: Dina Artarini, Chief Legal Officer DANA Indonesia

Simak juga 'Airlangga: Ekonomi RI Tumbuh 5,01%, Jumlah Tenaga Kerja Meningkat':

[Gambas:Video 20detik]




(prf/ega)