Kolom

Refleksi Idul Fitri: Lahirnya Pemimpin yang Merakyat

Salim Segaf al-Jufri - detikNews
Kamis, 05 Mei 2022 07:45 WIB
Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf al-Jufri
Foto: dok ist/FB Salim Segaf Al-Jufri
Jakarta -

Hari Raya Idul Fitri dimaknai secara beragam oleh kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Yang paling lumrah, disambut sebagai hari kemenangan. Ini jenis peperangan sangat unik, bukan melawan siapa (against whom), tetapi melawan apa (against what). Yakni, hawa nafsu yang lebih besar bahayanya dari segala jenis musuh.

Makna lain adalah kembali kepada fitrah (the nature of human). Sejalan dengan hadits sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, sanadnya dari Abu Hurairah r.a.: "Barangsiapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosanya yang telah berlalu." Putih bersih seperti bayi yang baru dilahirkan.

Pemaknaan berbeda membentuk sikap dan disiplin berbeda pula. Bagi mereka yang ingin merebut kemenangan, maka bulan Ramadhan dipersepsikan sebagai kawah candradimuka untuk membakar segala rupa nafsu angkara. Bukan kebetulan, jika Muhammad Rasulullah Saw sendiri menghadapi perang besar (Ghazwat al-Badr) pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah (17 Maret 624 Masehi). Semangat berkobar untuk menaklukkan hawa nafsu berujung pada pekik takbir, tahlil dan tahmid.

Itu salah satu keunggulan nilai Islam yang universal, karena mampu memadukan potensi kemarahan (ghadab) dan perlawanan (muqawamah) dengan kemaafan (afwu) dan perdamaian (salam) dalam diri sendiri. Betapa keliru, pandangan segelintir pengamat yang berteori bahwa persepsi tentang jihad dan ghirah Islam memunculkan sikap intoleran dan kekerasan (terorisme). Mereka hanya menyorot Islam dari dari aspek negatif.

Sementara, mereka yang ingin kembali ke fitrah diri akan melakukan proses purifikasi menuju orisinalitas atau otensitas pribadi. Menanggalkan segala kepalsuan dan pencarian yang justru melahirkan kekosongan makna hidup. Kekayaan (fortune), kemasyhuran (fame), dan kekuasaan (power) merupakan target yang dikejar kebanyakan manusia. Bahkan, ada orang yang sengaja bermain-main (play the game) untuk mendapat semua kepalsuan itu.

Ketika kesadaran meruak, maka orang terkaya (crazy rich), figur popular (selebrity) dan tokoh berkuasa (powerful person) akan tunduk., Lemah tak berdaya. Kekayaan, kemayshuran dan kekuasaannya ternyata tak bisa membantunya mencapai tujuan yang diinginkan atau menyelamatkan dirinya dari marabahaya. Dari sini kita menyaksikan fenomena hijrah yang melanda berbagai kalangan di seluruh pelosok dunia.

Tetapi, ada makna lebih sederhana dari Idul Fitri, yaitu hari berbuka (afthara, yufthiru) setelah sebulan penuh berpuasa. Pada saat berpuasa (karena menjalankan kewajiban) kita merasakan betul penderitaan orang-orang yang berpuasa karena terpaksa (tidak ada yang bisa dimakan), orang-orang miskin yang bertahan hidup di bawah standar normal. Setelah berbuka, apakah kita akan 'kembali' kepada gaya hidup semula: berfoya-foya dan penuh inefisiensi (mubazir)?

Makna sederhana itu (hari raya berbuka) sejalan dengan makna perang dan purifikasi. Bahkan, saling melengkapi. Perang besar (jihad al-akbar) yang telah dimenangkan dan otensitas diri yang telah ditemukan membuka lembaran baru dalam perjalanan hidup manusia. Setiap orang akan terlahir kembali (reborn) dengan kualitas hidup lebih baik. Secara khusus, bulan Ramadhan menggembleng mereka yang berkualifikasi sebagai pemimpin agar peduli dengan nasib rakyat kecil.

Pemimpin yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan benar-benar peduli dengan warga yang hidup dalam kekurangan, bukan hanya terbius dengan capaian angka statistik. Dari mereka inilah lahir suri teladan di tengah masyarakat, baik sebagai individu maupun tokoh yang dipercaya publik. Tidak ada kontradiksi atau manipulasi perilaku. Tak perlu berpura-pura dalam pencitraan.

Ramadhan menjadi persemaian manusia-manusia baru, mencetak pribadi-pribadi yang memiliki kesalehan personal, kemudian bertransformasi menjadi kesalehan kolektif. Kesalehan kolektif selanjutnya dapat memperbaiki kondisi bangsa dan negara yang sedang terpuruk, baik secara sosial, ekonomi maupun politik. Ukuran keberhasilan training Ramadhan selama satu bulan akan terlihat dalam praktek yang dijalankan selama sebelas bulan ke depan.

Bagi seorang pemimpin, Ramadhan merupakan momentum untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah Ta'ala (Malik al-mulk). Tidak ada yang ditakutinya selain Sang Pencipta dan semua tindak-tanduknya selalu diawasi oleh Sang Mahamelihat. Dia tidak takut pada sorotan media atau desakan publik, tapi takut pada janji-janjinya sendiri yang pernah diucapkan dan nanti di akhirat justru menjadi beban pertanggung-jawaban.

Memperkuat nilai-nilai tauhid merupakan kebutuhan paling fundamental bagi seorang pemimpin sebelum mengarahkan masyarakatnya. Sebagaimana dilakukan Nabi Ibrahim a.s. dalam mencari nilai-nilai tauhid sebelum memperbaiki keyakinan umatnya dan juga dilakukan Nabi Muhammad s.a.w. dengan berdiam diri (tahannuts) di gua Hira sebelum tampil menata kembali kepercayaan masyarakatnya untuk menyembah Allah Ta'ala semata. Di gua Hira itu, Nabi Muhammad menerima wahyu Allah pertama kali, pada bulan Ramadhan.

Selain perayaan penuh dengan kegembiraan dan suka cita, Idul-Fitri juga menghadirkan sosok pemimpin yang memiliki jiwa spiritualitas. Sosok itu mencerminkan lahirnya kembali pemimpin yang bersih, peduli dan dekat dengan masyarakat. Meninggalkan segala jejak (legacy) untuk kesejahteraan masyarakat, bukan keamanan pribadi dan keluarga. Ruang privat yang dimilikinya sudah semakin mengecil dan digantikan dengan ruang publik yang semakin membesar.

Bangsa kita masih memiliki pekerjaan rumah mendasar, permasalahan yang menunjukkan kesenjangan dengan cita-cita dan tujuan kemerdekaan bangsa yang tercantum dalam Pembukaan UUD NRI 1945. Beberapa persoalan mendasar yang masih kita hadapi saat ini, antara lain: Masih tingginya tingkat korupsi (IPK: 38), angka kemiskinan (9,71%) dan pengangguran (6,49%), terdapat anak-anak dengan kondisi gizi buruk dan stunting di beberapa daerah (24,4%), serta ketimpangan pembangunan yang cukup lebar antar wilayah di Indonesia (0,381).

Pada tataran kebijakan, kita melihat masih minimnya sikap dan kesadaran para pemimpin terhadap krisis (sense of crisis) dan kesadaran akan kesigapan bertindak (sense of urgency), sehingga seolah-olah pemimpin tidak hadir menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Saat ini masyarakat dihadapkan pada kondisi tingginya harga-harga bahan kebutuhan pokok yang dimulai dengan kenaikan harga minyak goreng yang sudah berlangsung selama hampir sembilan bulan sejak September 2021.

Kebijakan yang diharapkan mampu meringankan beban masyarakat tidak kunjung hadir, justru sebaliknya Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang menambah beban hidup masyarakat semakin berat. Tercatat kenaikan harga barang yang seharusnya bisa dikendalikan Pemerintah (Administered price) sepanjang 2022, antara lain: kenaikan harga Pertamax, elpiji non-subsidi, tarif beberapa ruas tol, tarif PPN, yang semuanya bisa memicu kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok masyarakat.

Datangnya Idul Fitri yang disepakati semua ormas keagamaan, penuh kegembiraan dan suka cita seolah-olah menutup beratnya beban hidup yang dirasakan mayoritas warga. Tapi, pemimpin sejati tidak membiarkan 'kegembiraan palsu' yang justru menyimpan potensi 'ledakan keresahan' dalam jangka dekat atau panjang.

Pemimpin yang memahami kegelisahan rakyat akan mencari jalan keluar paling selamat untuk semua. Terutama dengan mengendalikan nafsu kuasa (perpanjangan masa jabatan) dan meninggalkan segala kepalsuan yang tercipta (pencitraan). Pemimpin sejati tidak terjebak oleh pujian para buzzer dan pemujanya, tetapi juga tidak terpancing emosi oleh para haters dan pengkritiknya.

Telah berlalu berbagai model kepemimpinan dalam sejarah Indonesia. Kita berharap pemimpin yang akan lahir mencerminkan kemajuan dan kearifan hidup berbangsa dan bernegara.

*) Salim Segaf al-Jufri

Ketua Majelis Syura PKS dan Wakil Ketua Persatuan Ulama Muslim Sedunia (IUMS).

Simak juga 'Jokowi dan Iriana Ucapkan Selamat Idul Fitri 1443 H':

[Gambas:Video 20detik]



(hri/hri)