Kolom

Kebutuhan untuk Bebas dari Bising

Christina Eviutami Mediastika - detikNews
Kamis, 28 Apr 2022 12:00 WIB
llustrasi telinga
Foto ilustrasi: thinkstock
Jakarta -

Rabu, 27 April 2022 adalah Noise Awareness Day atau Hari Sadar Bising. Untuk apa "bising" diperingati? Sejak kecil kita hidup dalam lingkungan yang mengajari untuk memaklumi banyak hal, termasuk kebisingan. Maklum, namanya sedang ada acara. Dan kini, makin sering kita dengar, "Maklum, namanya tinggal di kota."

Hidup pada zaman modern dengan berbagai peralatan bermesin yang mempermudah dan mempercepat pekerjaan membuat kita lupa bahwa berbagai kemudahan itu juga membawa perubahan besar pada bebunyian di sekitar kita. Kita hidup, maka kita diliputi kebisingan, dan itu wajar. Salah!

Di negara maju, kesadaran akan pentingnya membebaskan kegiatan sehari-hari dari kebisingan sudah sedemikian tinggi. Pun, didukung dengan aturan-aturan yang terus diperbarui dan diterapkan sungguh-sungguh disertai sanksi. Itu masih belum cukup; mereka menyadari bahwa dalam kehidupan yang makin modern, tingkat kebisingan juga makin tinggi. Hal ini memicu Center for Hearing and Communication di New York menginisiasi International Noise Awareness Day (INAD) pada 1996.

Setiap Rabu terakhir pada bulan April, kita diajak mengistirahatkan telinga (otomatis juga berhenti dari semua kegiatan yang menimbulkan bunyi) selama 60 detik, dari pukul 14.15 sampai 14.16 sesuai zona waktu masing-masing.

INAD diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai Hari Sadar Bising. Sesungguhnya, noise berbeda dengan bising. Noise adalah derau, yaitu semua bebunyian yang tidak diinginkan, yang sifatnya subjektif. Bunyi tetesan air keran bocor pun bisa dianggap noise oleh orang sakit gigi. Namun, bising cenderung lebih objektif, karena diukur dengan angka. Misalnya di Indonesia --yang sampai saat ini masih menggunakan KepMenLH No. 48/1996-- bunyi yang dianggap bising adalah di atas 65 dBA.

Jadi meski tidak benar-benar tepat, terjemahan INAD menjadi Hari Sadar Bising memang cukup sesuai untuk lingkup Indonesia, karena jangankan terganggu tetesan air keran, terganggu raungan knalpot pun masih dianggap aneh di Indonesia. Padahal alat ukur sound level meter jelas menunjukkan di atas 65 dBA.

Mempengaruhi Tubuh

Bunyi mempengaruhi manusia secara fisik, psikis, kognitif, dan perilaku, sebagaimana dipaparkan Treasure lewat Ted's Talk (2012). Bagaimana mungkin bunyi bisa mempengaruhi kita sebegitu rupa? Telinga manusia mampu menangkap frekuensi dari sekitar 20 Hertz sampai 20 ribu Hertz. Rentang ini setara dengan 9 oktaf nada. Sementara, mata manusia hanya bisa menangkap gelombang cahaya tampak, kurang dari 1 oktaf, seperti disampaikan Kulkarni dalam kuliah Introduction to Electrical Signals and System (2016) di Princeton University.

Kemampuan menangkap 9 oktaf nada membuat telinga menjadi pintu masuk berbagai hal yang mempengaruhi tubuh. Setiap benda, termasuk manusia beserta organ tubuhnya, memiliki frekuensi alami. Jika definisi frekuensi adalah getaran yang terjadi setiap detik, maka frekuensi alami benda adalah frekuensi suatu benda untuk bergetar ketika dipukul, dipetik, atau diganggu kedudukannya. Ada yang perlu dipukul kencang baru bergetar, ada yang dengan sentuhan lembut sudah bergetar dan berbunyi.

Karena frekuensi alami (jumlah getaran per detik) tiap benda berbeda-beda, maka, meski tidak berada di dapur, kita bisa menerka barang yang terjatuh di dapur pecah belah atau peralatan dari logam. Begitupun tubuh manusia memiliki frekuensi alami dan bisa teramplifikasi oleh getaran benda di luar tubuh. Amplifikasi ini bisa berdampak positif atau negatif.

Penelitian dampak positif bunyi bagi tubuh manusia sangatlah banyak. Sebut saja beberapa diantaranya yang terbaru oleh Fernandez di Jurnal Pediatric Annals (2018) dan Haslbeck dkk di Jurnal NeuroImage (2020), terkait bebunyian untuk mengembalikan frekuensi alami tubuh agar lebih sehat dan mengakselerasi pertumbuhan otak serta organ tubuh pada janin dan bayi. Sementara itu, Ahn dkk lewat Jurnal Software Engineering Research, Management and Applications (2018) serta Stanhope dan Weinstein dalam Jurnal Complementary Therapies in Medicine (2020) mengungkap fakta ilmiah terapi singing bowl untuk mengembalikan frekuensi alami tubuh.

Jika kajian ilmiah membuktikan bahwa bebunyian bisa mempengaruhi tubuh secara positif, maka seolah naif jika kita tidak sepakat bebunyian-pun bisa berdampak negatif. Apakah bunyi bisa mempengaruhi fisik manusia pada organ-organ tubuh yang sama sekali tidak terkait pendengaran? Sangat banyak fakta ilmiah bisa ditemukan dengan mengetikkan kata kunci noise and health effects di laman Google Scholar. Salah satu yang terlengkap diungkap MacCutcheon dalam Jurnal Noise & Health (2021).

Mengganggu Konsentrasi

Sementara terkait gangguan kognitif, Liebl dan Jahncke dalam seminar Noise as a Public Health Problem (2017) membuktikan bahwa kebisingan mengganggu konsentrasi belajar dan bekerja. Dan ternyata, kebisingan juga mempengaruhi perilaku manusia. Sejak 1974 Sherrod dan Downs, dan diikuti para peneliti lain seperti Mathews dan Canon (1975), Korte dkk (1975), serta Page (1977), memastikan bahwa orang yang terpapar kebisingan, kehilangan sensitivitasnya untuk menolong orang lain dibandingkan yang tidak terpapar.

Bagaimana dengan efek psikis? Efek negatif kebisingan pada psikis manusia justru telah diteliti sejak 1959 oleh Jerison lewat Jurnal Applied Psychology, dan terus dibuktikan oleh yang lain, bahkan sampai 2021 oleh Golmohammadi dkk dalam Jurnal Applied Acoustics. Secara khusus pada 1961 lewat Jurnal Stahl und Eisen, Jansen menyatakan bahwa buruh yang bekerja di area paling bising pada suatu pabrik ternyata lebih sering memiliki konflik sosial baik di rumah maupun di lingkungan kerja.

Jadi, kalau saat ini banyak teman kita lebih mudah tersinggung, marah, dan beringas, sebenarnya jawabannya sudah ada sejak 1961. Fakta berbagai hasil penelitian yang menyatakan bising dan kebisingan memberikan pengaruh besar pada kualitas kehidupan manusia seyogianya dapat menyadarkan kita bahwa bukan sekadar seremonial Hari Sadar Bising yang kita butuhkan, tetapi bebas bising dalam kehidupan sehari-hari.

Christina Eviutami Mediastika Guru Besar Ilmu Sains Bangunan dan Akustika

(mmu/mmu)