Kolom

Menyulut Prestasi di Bulan Suci

Banon Keke Irnowo - detikNews
Rabu, 27 Apr 2022 13:00 WIB
Muslim businesswoman working at her office.
Foto ilustrasi: Getty Images/SrdjanPav
Jakarta -

Saya teringat percakapan dengan seorang sahabat saat mengikuti iktikaf di sebuah masjid daerah Senayan beberapa tahun lalu. "Bro, minta doanya ya, besok aku mau ujian IELTS nih," katanya. Saya ingat saat itu dia memang sedang berjuang untuk mencari beasiswa ke luar negeri. Sungguh, saya salut ketika ternyata dia memilih mengambil waktu ujiannya di siang hari saat sedang berpuasa.

"Justru itu, Pak! Aku jadi lebih fokus, waktu ujian nggak perlu memikir enaknya makan siang apa karena berpuasa," ungkapnya sembari bercanda.

Ini menarik, karena tidak sedikit umat Islam termasuk saya yang berpandangan bahwa maskot Ramadan adalah ritual ibadah sebanyak-banyaknya di malam hari. Imbasnya, ancaman dehidrasi dan kantuk kerap menghinggapi saat bekerja siang hari. Tak ayal produktivitas dan prestasi bekerja di siang hari pun menurun.

Sejatinya, kelaziman ini tidak boleh menjadikan umat Islam tidak produktif dalam urusan dunia dan prestasi kerja. Justru semangat Ramadan hendaknya meningkatkan takwa dan optimisme dalam meraih prestasi. Banyak literatur mendukung hipotesis ini.

Dr. Yusuf Qardhawi ketika menulis Fiqih Puasa mengatakan bahwa Islam menetapkan sesuatu melainkan karena memiliki hikmah. Allah tidak menciptakan sesuatu yang batil dan tidak pula menetapkan sesuatu yang sia-sia. Dia tidak memerlukan ketaatan sebagaimana kemaksiatan tidak akan membahayakannya, maka hikmah dalam ketaatan kembali kepada kita sendiri.

Dalam bukunya bertajuk Puasa Bukan Hanya Saat Ramadan, Ahmad Sarwat, Lc M.A pun menuturkan bahwa pada masa lalu, ada begitu banyak prestasi yang berhasil diraih umat Islam yang terjadi justru pada bulan Ramadan. Dalam sejarah, umat ini telah mengukir tinta emas sejarah dengan kaya prestasi fenomenal dan bermakna perjuangan pada bulan Ramadan.

Kemenangan pada Perang Badar, penggalian parit saat Perang Khandaq, dan perjalanan menuju Perang Tabuk, semua terjadi pada bulan Ramadan. Akbar Shah Najeebabadi dalam The History of Islam mencatat bahwa pada 11 Ramadan tahun 8 Hijriah juga bertepatan dengan dimulainya arak-arakan sepuluh ribu pasukan muslimin menuju Fathu Mekah.

Bangsa Indonesia dimerdekakan saat proklamator bangsa sedang berpuasa Ramadan. H.M Sismono, BA berkisah dalam buku berjudul Puasa Pada Umat-Umat Dulu dan Sekarang bahwa para pemimpin perjuangan kita dulu memanfaatkan bulan Ramadan sebagai bulan penggemblengan jiwa militansi para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Hasanuddin (Makassar), Hasanuddin (Banten), Teuku Umar, Fatahillah, Zainal Mustafa memanfaatkan bulan Ramadan untuk membina jiwa beragama, takwa, kebangsaan, dan perjuangan para santri dan masyarakat tentang arti kemerdekaan, persatuan, keberanian dan kekuatan sebagai bangsa yang terjajah dan tertindas.

Esensi mengenai produktivitas ini juga pernah dibahas Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, ulama terkemuka asal Suriah yang menemui kesyahidannya saat mengisi pengajian di Masjid Damaskus, pada 2013 silam. Ia pernah menjawab tudingan orientalis yang mempermasalahkan kevalidan Al-Quran tentang sepertiga malam Lailatul Qadr yang menurut mereka bukan sekali. Hal ini dipicu oleh keterbatasan logika berpikir atas perbedaan wilayah waktu belahan bumi yang bervariasi.

Melalui kitabnya, La Ya'tihil Bathil atau Takkan Datang Kebatilan Terhadap Al-Qur'an, dia berhujah bahwa makna dari ayat yang disengketakan adalah agar manusia tidak meninggalkan tugas dan pekerjaan mereka dengan menghabiskan seluruh hidupnya untuk terus menerus beribadah, salat, dan berdoa kepada Allah. Perbedaan itu sejatinya membuat seluruh manusia memperoleh kesempatan untuk mereguk rahmat ilahi sesuai dengan waktu dan tempat bergulir, tanpa mendorong mereka untuk berhenti beraktivitas dan meninggalkan pekerjaan.

Ada kisah menarik yang dituangkan Mohammed Faris dalam The Productive Muslim: Where Faith Meets Productivity (2016). Dia menantang koleganya, Graham Allcot yang notabene non-muslim untuk berpuasa tiga hari pada Ramadan 2013 bersamanya. Setelah tiga hari berpuasa, Graham merasakan bahwa puasa membuatnya lebih produktif dan fokus menyelesaikan pekerjaan karena tidak membuang waktu untuk memikirkan makanan dan distraksi lain seperti kongko-kongko.

Di buku itu juga, Faris menyitir hasil survei Dinarstandard.com dan ProductiveMuslim pada 2011 mengenai produktivitas muslim di bulan Ramadan. Hasil menarik didapat bahwa 77% persepsi umat muslim yang berpuasa Ramadan ingin produktivitas kerja mereka tidak menurun walaupun sedang berpuasa. Ditambah lagi, 52% dari mereka tetap menjalan ibadah di malam harinya namun dengan energi sisa. Temuan ini merekomendasikan pentingnya peran pemerintah dalam penetapan kebijakan penyesuaian waktu kerja demi menjaga produktivitas masyarakat saat Ramadan.

Dalam Islam membangun kompetensi diri adalah dengan melakukan puasa. Yaitu puasa Ramadan setiap tahun. Sebab, hakikat puasa adalah menahan diri. Tidak saja menahan diri dari makan dan minum tapi juga menahan diri dari hal-hal yang diharamkan seperti berdusta, menggunjing, melihat aurat lawan jenis. Hal ini diungkapkan Palgunadi T. Setyawan dalam bukunya Daun Berserakan (2004).

Sementara itu, Adian Husaini mengaitkan Bulan Kemenangan ini dalam buku Doa Anak Kecil (2007). Menurutnya kemenangan adalah anugerah Allah. Pertolongan Allah akan datang ketika kaum muslim memenuhi syarat-syarat yang ditentukan Allah berupa keimanan yang kokoh, kesungguhan, kerja keras, profesionalitas, ketawakalan, dan doa yang tulus hanya kepada Allah. Syarat inilah yang seharusnya kita penuhi dahulu.

Salah satu penulis nasional favorit saya, Mas Ahmad Rifai Rifan dalam bukunya Bahkan Tuhan pun Berkurban (2011) berpendapat bahwa puasa adalah metode peragian iman paling hebat sampai saat ini. Puasalah yang mampu mengantarkan manusia menuju derajat tertinggi di hadapan Allah yaitu takwa.

Namun perlu berhati-hati bahwa tidak semua orang yang puasa menjadi lebih bertakwa. Prof. Dr. Zakiah Darajat dalam bukunya Ilmu Fikih menuliskan bahwa kehilangan nilai, makna, dan ruh puasa yang terlihat dalam masyarakat selama ini karena bentuk puasa mereka. Pertama sebagai tradisi saja. Kedua, hanya mementingkan nilai jasmani. Ketiga, hanya memenuhi formalitas sebagai "orang Islam". Keempat, hanya menjalankan syariat dan rukun puasanya saja.

Pada akhirnya saya teringat nasihat Buya Hamka melalui bukunya Tasawuf Modern. Dia berpesan, jangan lupa bahagia saat bekerja. "Orang yang hidup hanya diikat oleh mencari sesuap nasi, bukan diikat oleh keenakan mengerjakan pekerjaan, amat sukarlah merasakan bahagia, tetapi kian lama mundur tenaganya dan kian kecewa hatinya." Seperti sabda Nabi SAW, "Berapa banyak orang yang puasa namun mereka tidak mendapatkan sesuatu kecuali lapar dan dahaga."

Saya dan sahabat akhirnya bertemu kembali di musim Ramadan tahun selanjutnya. Di tempat yang sama saat kami berdua ditugasi menyiapkan takjil berbuka. Salut saya bertambah saat dia mengulangi percakapan kami setahun lalu. Katanya, "Bro, aku minta doanya lagi ya. Tapi kali ini sekalian pamit. Sebakda Idul Fitri kami sekeluarga berangkat studi ke luar negeri." Masya Allah. Tabarakallah.

(mmu/mmu)