Kolom

Dana Abadi bagi Pelaku Kebudayaan

Linda Efaria, Roso Prajoko - detikNews
Selasa, 26 Apr 2022 15:00 WIB
Dana Indonesiana sebagai dana abadi kebudayaan akan mendukung pemajuan kebudayaan Indonesia secara stabil dan berkelanjutan
Menteri Nadim Makarim saat meluncurkan
Jakarta -

Dalam rangka memberikan perlindungan kepada pelaku seni budaya di Indonesia, yang terkena dampak Covid-19 pemerintah meluncurkan program bertajuk Merdeka Berbudaya dengan Dana Indonesiana. Peluncuran program ini demi mewujudkan visi Indonesia maju, berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.

Peluncuran ini merupakan salah satu implementasi dari terobosan Merdeka Belajar. Merdeka Belajar diusung memiliki tujuan untuk mencapai pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia melalui transformasi: 1) infrastruktur dan teknologi, 2) kebijakan, prosedur dan pendanaan, 3) kepemimpinan, masyarakat dan budaya, 4) kurikulum, pedagogi, dan asesmen.

Dirjen Kebudayaan di Kemdikbudristek Hilmar Farid menjelaskan, latar belakang lahirnya dana abadi kebudayaan merujuk pada UU No 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Salah satu pasalnya mengatakan perlunya dana perwalian bagi pelaku seni budaya.

Pandemi Covid-19 turut menghambat pembangunan di bidang kebudayaan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku budaya. Juni 2021, UNESCO melaporkan 10 juta pekerja kreatif di seluruh dunia kehilangan pekerjaan, berbagai pertunjukan dan festival ditiadakan, museum dan galeri terpaksa ditutup secara massal bahkan hingga 13% dari museum dan galeri tutup secara permanen.

Selanjutnya, temuan pada riset yang dilakukan Dirjen Kebudayaan Kemdikbudristek bahwa kegiatan kebudayaan sangat menurun, 65% dari pelaku budaya tidak bekerja, 70% ruang publik dan organisasi kebudayaan tidak bisa aktif karena tidak ada aktivitas, serta pendapatan para pelaku budaya mengalami penurunan hingga 70%.

Berlatar persoalan di atas, upaya revitalisasi perlu segera dilakukan. Untuk itu bersama Kemenkeu, Kemdikbudristek memberikan solusi dan mewujudkannya melalui Dana Indonesiana. Dana tersebut merupakan dana abadi kebudayaan salah satu amanat UU No 5 Tahun 2017, yakni adanya dana perwalian.

Dana tersebut dapat digunakan untuk mendanai berbagai program; pertama, dukungan institusional, yaitu organisasi budaya yang melakukan berbagai aktivitas, pendayagunaan ruang publik, event-event yang inisitaif dan strategis, serta festival-festival. Sehingga tidak hanya mengaitkan individu, tapi menguatkan organisasi juga.

Kedua, produksi, yakni kreasi konten sebagai stimulan terhadap karya cipta. Ketiga preservasi, bahwa mendokumentasikan serta mengkodifikasikan semua keahlian termasuk pengetahuan para maestro secara tepat perlu dilakukan agar generasi berikutnya tetap dapat menikmati dan mempelajarinya.

Keempat distribusi internasional dengan kata lain maju ke kancah internasional. Panggung internasional merupakan salah satu tujuan dan kunci agar rasa bangga generasi muda semakin bertambah sebagai orang Indonesia. Kelima, adalah riset terhadap Objek Pemajuan Kebudayaan guna mendukung saintifik.

Tidak Diganggu

Disebut dana abadi artinya bahwa dana pokok dari Dana Indonesiana tidak akan pernah digunakan dan akan diinvestasikan agar terus menghasilkan uang yang stabil. Dana pokok tersebut akan ditambah dan diakumulasikan setiap tahunnya, dan prinsipnya tidak diganggu. Sehingga mampu mengurangi dampak fluktuasi besaran anggaran negara pada sektor kebudayaan.

Jadi hasil pengelolaan atau bunga dari dana pokok yang digunakan hanya untuk pendanaan kegiatan kebudayaan dan dari pengembangan dana tersebut dapat digunakan secara fleksibel, multiyears, standar biaya lebih sesuai dengan kebutuhan serta dari sisi administrasi lebih sederhana. Penggunaan hasil pengembangan dana ini berorientasi dampak jangka panjang bagi industri dan komunitas kebudayaan di Indonesia.

APBN sebagai wujud dari kehadiran negara dalam hal anggaran, pendapatan, maupun belanja negara memiliki tata kelola serta standart yang harus dipenuhi, yakni sistem akuntansi. Mulai dari berapa diterima, berapa digunakan, barapa dilaporkan, hingga audit.

Faktanya, ada aktivitas-aktivitas kegiatan di masyarakat yang perlu didanai namun tidak bisa mengikuti mekanisme tahunan anggaran. Oleh karena itu pemihakan pemerintah untuk bisa menjaga keberlangsungan pengembangan kebudayaan tidak bisa hanya stop-and-go begitu saja.

Dengan demikian filosofi dana abadi; pertama, mengamankan agar dana yang setiap tahun dialokasikan tidak hangus dan kembali ke kas negara di akhir tahun sehingga bisa dimasukkan kembali ke dalam celengan, yang mana dalam mekanisme keuangan negara disebut BLU LPDP.

Kedua, mengangkat kendi sebagai kearifan lokal masyarakat Indonesia yang terbuat dari tanah liat. Salah satu fungsinya sebagai wadah penyimpanan uang secara sederhana yang telah diperkenalkan sejak dahulu. Kebiasaan menabung menggunakan celengan tradisional tersebut merupakan bentuk pembelajaran pertama bagi anak-anak Indonesia dalam mengelola dan merencanakan dalam penggunaan dana untuk mewujudkan sebuah keinginan.

Melibatkan Komunitas

Penggunaan Dana Indonesiana secara intensif melibatkan pemangku kepentingan pada sektor kebudayaan. Selain Kemdikbudristek, Kemenkeu, juga ahli di bidang kebudayaan sebagai dewan pengarah program dan komite seleksi. Suksesnya program ini melibatkan komunitas dalam membuat keputusan-keputusan secara konsensus untuk memutuskan mana yang akan didanai atau tidak.

Pengembangan dana abadi ini nantinya untuk berbagai program layanan meliputi Fasilitas Bidang Kebudayaan (FBK) bagi komunitas dan pelaku budaya di bidang produksi kegiatan budaya, produksi media, dan program layanan kegiatan lainnya sesuai dengan arahan dewan penyantun. Penerima manfaat FBK ini diberikan melalui proses seleksi yang dilakukan oleh komite seleksi.

Pentingnya FBK sebagai dana publik adalah bagaimana signifikansi dana publik kembali ke publik terutama disektor kebudayaan yang tidak selalu memperoleh dukungan dari sektor komersil. Selain itu, dana abadi ini penting agar setiap kegiatan atau program tetap berjalan dengan baik karena adanya pembiayaan stabil dan administrasi yang sederhana.

Selama ini para pelaku budaya bergerak secara ortodidak dan mandiri serta pengembangan kebudayaan yang selalu terkendala dengan dana. Akibatnya para pengiat budaya mengalami berbagai kesulitan untuk membiayai karya maupun kegiatan ekspresinya.

Dana abadi ini merupakan penyelamat pemecah kebuntuan kreativitas para pelaku budaya dalam berkreasi dan berkarya. Oleh karena itu penting bahwa keberpihakan kepada mereka yang telah memberikan bukti kerja nyata memajukan kebudayaan Indonesia.

Linda Efaria
Analisis Data Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemdikbudristek dan Roso Prajoko dosen Komunikasi Universitas Boyolali
Simak juga 'Penampilan Parade Adat Nusantara di Hari Kebudayaan Makassar':

(mmu/mmu)