Kolom

Kelangkaan Biosolar dan Transisi ke Euro 4

Insan Ridho - detikNews
Selasa, 26 Apr 2022 11:15 WIB
Kelangkaan biosolar di Riau (Foto: Raja Adil Siregar/detikcom)
Jakarta -

Sejumlah daerah di Tanah Air mengalami kelangkaan biosolar dalam beberapa pekan terakhir. Sumatera menjadi salah satu daerah yang terdampak dari keterbatasan pasokan bahan bakar diesel tersebut. Akibatnya, antrean panjang berbagai jenis angkutan terjadi di beberapa wilayah yang terdampak. Rantai pasok logistik menjadi terganggu akibat waktu pengisian bahan bakar yang terlampau lambat dan keterbatasan stok bahan bakar.

Di tengah kelangkaan biosolar, pemerintah tengah berupaya mendorong standar emisi baru, yaitu Euro 4. Penerapan standar emisi Euro 4 dilakukan per 12 April 2022 untuk jenis kendaraan angkutan orang dan barang. Kebijakan ini merujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017. Ini artinya semua kendaraan diesel baru dengan jenis-jenis tersebut harus berstandar emisi Euro 4.

Transisi ke Euro 4 ini memang sudah tidak terelakkan. Tingkat emisi kendaraan di Indonesia sudah bisa dibilang mengkhawatirkan. Sesuai laporan IQAir 2021, Indonesia menempati urutan ke-20 dari 117 negara dengan konsentrasi PM 2.5 tertinggi. Capaian buruk ini tentu tidak lepas dari sektor transportasi termasuk emisi kendaraan berbasis diesel yang masih berstandar emisi Euro 2 sejak 2007. Maka, migrasi ke Euro 4 tidak bisa menunggu lagi.

Salah satu kunci penting dari peralihan ke Euro 4 adalah kualitas bahan bakar. Hanya bahan bakar berstandar tinggi yang dapat mendukung operasi kendaraan diesel dengan standar Euro 4. Untuk mencapai performa yang optimal, tingkat kandungan sulfur bahan bakar kendaraan Euro 4 harus di bawah 50 parts per million (ppm). Cetane Number (CN) pada bahan bakar kendaraan diesel berstandar Euro 4 juga harus mencapai CN53.

Secara umum, kendaraan diesel berstandar emisi Euro 4 memang tidak direkomendasikan untuk menggunakan biosolar. Biosolar dengan jenis B30 yang dijual saat ini baru mencapai CN48. Kandungan sulfur dari maksimum biosolar B30 pun bisa mencapai 2.500 ppm. Singkatnya, kualitas biosolar B30 tidak kompatibel dengan kendaraan diesel dengan standar emisi Euro 4. Ini dapat mempengaruhi performa serta kondisi kendaraan yang beroperasi.

Tetapi, kelangkaan biosolar menyiratkan masalah lain, yaitu kendala rantai pasok BBM secara umum yang belum terselesaikan. Pemerintah termasuk Kementerian ESDM dan Pertamina belum sepenuhnya memegang kendali atas ketersediaan BBM bagi masyarakat. Hasilnya adalah pasokan biosolar yang tidak mudah dijumpai di berbagai daerah. Kondisi ini bisa jadi berpotensi mengganggu pasokan BBM jenis lain yang dapat mendukung Euro 4.

Di sisi lain, Pertamina telah menyiapkan Pertamina Dex sebagai bahan bakar yang direkomendasikan untuk kendaraan Euro 4. Kandungan sulfur maksimum dari Pertamina Dex adalah sekitar 50 ppm. Bahan bakar non-subsidi ini juga memiliki CN setara CN51. Dengan standar kualitas yang tinggi ini, kendaraan Euro 4 bisa menggunakan Pertamina Dex sebagai bahan bakar utama agar performa kendaraan lebih efisien dan bebas masalah.

Walaupun demikian, kelangkaan biosolar bukan berarti tidak akan terjadi pada Pertamina Dex. Pada Oktober 2021, stok Pertamina Dex menghilang dari peredaraan di wilayah Lampung. Daerah Lampung Timur dan Lampung Tengah terdampak atas minimnya keberadaan Pertamina Dex. Situasi ini tentu bisa jadi preseden bahwa pasokan Pertamina Dex juga tidak kebal terhadap kelangkaan yang akan berdampak pada kendaraan Euro 4.

Studi yang dilakukan oleh Elis dkk. (2010) menggambarkan bahaya disrupsi rantai pasok terhadap kepercayaan pelanggan. Gangguan atas suplai produk dapat mengusik produktivitas dan pemanfaatan kapasitas dari pelanggan sehingga mempengaruhi pembelian. Situasi ini tentu serupa dengan kelangkaan BBM di Indonesia. Keyakinan masyarakat untuk beralih ke Euro 4 bisa jadi menurun akibat gangguan rantai pasok BBM.

Selain soal potensi kelangkaan, perbedaan harga BBM juga dapat menjadi hambatan yang signifikan untuk transisi ke Euro 4. Harga biosolar sebagai BBM bersubsidi berada jauh di bawah dari harga Pertamina Dex. Hal ini bisa menyebabkan keengganan industri untuk beralih ke kendaraan diesel berbasis Euro 4. Pelaku industri akan merasa keberatan untuk merogoh kocek lebih dalam karena harus menggunakan BBM dengan standar Euro 4.

Di samping itu, belum semua SPBU milik Pertamina menjual Pertamina Dex. SPBU di daerah terpencil belum tentu menjual Pertamina Dex yang memang kurang populer bagi masyarakat. Beberapa SPBU di kota-kota besar bahkan belum menyediakan Pertamina Dex sesuai data di aplikasi My Pertamina. Dengan terbatasnya opsi SPBU ini, kendaraan diesel dengan standar emisi Euro 4 akan riskan dioperasikan secara masif di seluruh daerah.

Tingginya harga Pertamina Dex juga menjadi alasan mengapa Pertamina Dex sulit dijual di lokasi-lokasi tertentu. Pada tahun 2015, Pertamina Dex sempat tidak laku di sejumlah daerah termasuk Lamongan, Jawa Timur. Keberadaan tangki Pertamina Dex yang terpisah di atas tanah juga mencitrakan jenis BBM ini sebagai slow-moving product. Situasi ini tentu menyulitkan perpindahan ke kendaraan berbasis Euro 4 yang masih terlalu mahal.

Peralihan standar emisi kendaraan ke Euro 4 adalah sebuah keniscayaan. Indonesia sudah tertinggal sekitar 17 tahun sejak peluncuran standar Euro 4 di Eropa. Tingkat polusi di Indonesia yang terbilang tinggi juga menjadi alasan kuat lain peralihan ke standar emisi yang lebih baik. Maka, kendaraan angkutan berbasis diesel mesti segara berpindah ke teknologi yang lebih ramah lingkungan dengan standar emisi Euro 4.

Akan tetapi, para pemegang kebijakan harus memastikan segala potensi problem dari migrasi ke Euro 4 dapat teratasi. Isu kelangkaan BBM perlu ditangani secara segera sebelum mempengaruhi kepercayaan masyarakat. Perbedaan harga juga perlu disiasati agar tidak menjadi alasan lain untuk enggan berpindah ke standar emisi baru. Transisi ke Euro 4 yang menantang harus didukung oleh dukungan tepat yang membentang.

Insan Ridho Chairuasni lulusan MSc Transport dari Newcastle University, Inggris

(mmu/mmu)