Kolom

Peluang Wisata Daerah Mendunia Pasca-MotoGP Mandalika

Agung Iranda - detikNews
Selasa, 26 Apr 2022 10:00 WIB
Candi Muaro Jambi
Candi Muaro Jambi (Foto: Syanti/detiktravel)
Jakarta -

Event MotoGP Mandalika membawa angin segar bagi wisatawan mancanegara untuk bisa berlibur ke Indonesia. Kesuksesan acara tersebut menjadi model bagi wisata daerah lainnya untuk menggelar event internasional, dengan tujuan meningkatkan jumlah turis mancanegara dan domestik berlibur ke berbagai wilayah di Indonesia.

Di samping itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan bebas karantina bagi wisatawan pada 24 Maret 2022, setelah diuji coba di Bali, Batam, dan Bintan. Kini kebijakan tersebut berlaku seluruh Indonesia. Tujuan utama dari agenda besar ini yaitu pemulihan sektor wisata yang turun drastis akibat pandemi.

Indikator penurunan tersebut dapat kita lihat dari data statistik kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Dikutip dari halaman resmi website Kemenparekraf, tahun 2020 jumlah wisatawan mancanegara 4.052.923, lalu turun menjadi 1.557.530 pada 2021. Pemerintah perlu menyiapkan terobosan agar 2022 jumlah wisatawan tidak lesu seperti pada tahun sebelumnya.

Salah satu bentuk terobosan itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meluncurkan beberapa program seperti Kabupaten Kota (Kata) kreatif, apresiasi kreasi Indonesia, dan anugerah desa wisata. Di tingkat global, ada beberapa event yang digadang-gadang akan mendongkrak pariwisata, seperti Borobudur Merathon, sepeda jarak jauh Audax, Oceanman Bali, formula 1 di atas air Danau Toba, dan formula E di Jakarta.

Acara-acara di atas merupakan jenis sport tourism, yang memadukan kegiatan olahraga dengan wisata alam, seperti yang tersaji pada gelaran MotoGP Mandalika.

Optimalisasi

Sektor wisata tidak hanya dioptimalkan dalam bentuk sport tourism, tapi juga bisa berupa wisata sejarah, budaya, ekologi, wisata halal, dan kemasan lainnya yang dapat menampilkan daya tarik Indonesia ke mata dunia.

Optimalisasi wisata tidak hanya terfokus pada wilayah yang menjadi super prioritas, tapi juga bisa dikembangkan secara merata dan menyeluruh ke daerah-daerah di Indonesia. Sehingga pemulihan wisata dapat dirasakan bagi semua wilayah, terutama pada lingkup terkecil yaitu desa wisata.

Pemulihan wisata merupakan satu prioritas penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satu daerah yang berpeluang untuk dikembangkan yaitu Provinsi Jambi. Wisata lokal Jambi cukup banyak, mulai dari wisata sejarah dan arkeologi seperti situs cagar budaya Muaro Jambi, wisata bumi Merangin Geopark, wisata pegunungan dan danau seperti Gunung Kerinci, Danau Kerinci dan Danau Kaco, Danau Gunung Tujuh, serta wisata budaya pada kawasan suku anak dalam yang memiliki kearifan lokal tersendiri.

Provinsi Jambi mestinya masuk prioritas wisata Indonesia yang dipromosikan secara global. Dalam satu tahun ini, Presiden dan beberapa Menteri bergantian mengunjungi situs candi Muaro Jambi. Pada tahun lalu Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim mengunjungi kawasan candi Muaro Jambi, dan menyatakan akan melakukan restorasi candi Muaro Jambi sebagai destinasi budaya.

Hal senada juga disampaikan oleh Menko Marves Luhut Bansair Panjaitan, bahwa Candi Muaro Jambi merupakan warisan sejarah dan pusat pendidikan agama Budha di Asia Tenggara dan dunia pada abad ke-7. Selain itu, Menparekraf Sandiaga Uno dalam kunjungannya menyebutkan, "Candi Muaro Jambi berpeluang besar menjadi wisata kelas dunia."

Untuk melengkapi pernyataan para Menteri di atas, Presiden Joko Widodo, pada Kamis, 7 April yang lalu berkunjung langsung ke Candi Muaro Jambi, menyampaikan kepada Menteri terkait untuk segera merealisasi pemugaran candi Muaro Jambi, sebagai ikon baru wisata Indonesia yang memadukan unsur sejarah, pendidikan, dan budaya dalam satu situs peninggalan kerajaan Sriwijaya tersebut.

Candi Muaro Jambi memiliki magnet tersendiri, Selain karena luasnya mencapai 3981 hektar, termasuk salah satu candi terluas di Asia Tenggara, kawasan ini juga merupakan cagar budaya yang berfungsi sebagai dua tempat sekaligus. Pertama, sebagai lokasi peribadatan agama Budha untuk melakukan ritual, doa, dan meditasi. Kedua, sebagai pusat pendidikan atau mahavihara para biksu yang datang dari berbagai kawasan di Asia.

Candi Muaro Jambi juga bisa kita katakan sebagai universitas pada zaman dulu, atau apa yang diistilahkan Nadiem Makarim sebagai prototipe kampus merdeka di era lampau, karena di sini banyak orang dari berbagai kawasan di Asia datang untuk belajar pengobatan atau kedokteran, teologi, filsafat, seni, sejarah, dan arsitektur. Oleh karena itu, pemugaran candi merupakan upaya kita untuk merekonstruksi sejarah peradaban masa lampau, sekaligus mengembalikan spirit dan marwahnya pada masa sekarang.

Peran pemerintah dinantikan untuk melakukan restorasi; dibutuhkan keseriusan dan komitmen antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengembangan yang berkelanjutan, penataan infrastruktur dan koneksi internet yang memadai di sekitar candi, pelatihan sumber daya manusia bagi pengelola dan warga sekitar candi, serta promosi dalam skala besar baik di tingkat nasional maupun global, serta yang terakhir menggerak roda perekonomian masyarakat lewat produksi barang atau jasa wisata Candi Muaro Jambi.

(mmu/mmu)