Kolom

Dosen dalam Balada Publikasi Ilmiah?

Fitria Rahmawati - detikNews
Senin, 25 Apr 2022 15:20 WIB
Jakarta -

Membaca kolom detikcom tertanggal 8 April 2022 berjudul Balada Dosen dan Publikasi Ilmiah membangkitkan niat saya untuk menuliskan artikel kolom terkait bahasan tersebut. Bukan sebagai sanggahan, tapi melengkapi beberapa informasi yang belum disampaikan penulis, sehingga tampak seakan dosen benar-benar berada dalam 'balada'. Padahal publikasi merupakan cara cerdas untuk meningkatkan kualitas dan rekognisi, baik untuk peneliti, universitas maupun bangsa kita ke ranah global.

Tepat sekali, bahwa publikasi ilmiah adalah keniscayaan bagi seorang insan cendekia di perguruan tinggi karena terdapat tiga dharma yang digariskan pemerintah untuk dilaksanakan atau biasa disebut dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Dharma kedua, Penelitian merupakan salah satu tugas utama perguruan tinggi dalam mengokohkan fungsinya dalam kehidupan berbangsa, karena amanah menjaga dan mengembangkan ilmu, mengembangkan inovasi dan teknologi, memupuk kecerdasan inovatif generasi penerus bangsa memanglah layak jika dibebankan pada institusi pendidikan tertinggi.

Karena itulah, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi mengalokasikan dana penelitian kompetitif nasional dalam berbagai skema. Selain itu beragam macam jenis pendanaan penelitian juga ditawarkan oleh berbagai institusi seperti LPDP, Pertamina dan beberapa BUMN lain, pendanaan mandiri dari Universitas, serta beberapa kesempatan pendanaan dari luar negeri seperti JSPS, USAID, Erasmus dan lain sebagainya.

Konsekuensi logis dari pelaksanaan penelitian adalah mempertanggungjawabkan hasil penelitian baik kepada board of funding body, ataupun kepada masyarakat, dalam hal ini kalangan akademis yang berada dalam ranah penelitian yang sama. Di sinilah letaknya fungsi publikasi.

Penelitian dengan state of the art tinggi, latar belakang penelitian yang jelas, desain eksperimen yang matang dan mengacu pada kaidah ilmiah, validitas data yang tinggi, pembahasan yang komprehensif dan pengambilan kesimpulan yang secara tepat menjawab tujuan penelitian, akan mendapatkan potensi lebih besar untuk mendapatkan status 'accepted' kemudian 'published' pada terbitan berkala ilmiah dengan reputasi tinggi atau biasa disebut top tier.

Jika menganut pengelompokan yang dilakukan Scimago Institution Rankings dalam portal yang bernama Scimago Journal & Country Rank (SJR) beralamat di laman www.scimagojr.com, maka jurnal top tier tersebut menempati posisi Quartil 1 (Q1) dan Quartil 2(Q2).

SJR dibuat oleh SCImago, suatu grup riset dari the Consejo Superior de Investigaciones Científicas (CSIC), University of Granada, Madrid, Spanyol, yang mendedikasikan penelitian di grupnya untuk memprediksikan the shape of science, Scimago Institution Ranking (SIR), dan Atlas of Science. Sehingga apa yang telah dilakukan grup ini dan secara konsisten melakukan perbaruan data, merupakan upaya untuk membantu peneliti mengetahui struktur sains yang sedang berkembang dalam kurun waktu tertentu.

Selain itu, SCImago membantu institusi pendidikan dan riset untuk mengetahui posisi terkininya dalam kancah sains dan teknologi secara global. Data yang disajikan bisa dengan mudah diambil dan bisa dijadikan evaluasi diri setiap universitas untuk menyusun strategi ke depan. Satu hal yang tidak bisa kita lewatkan, penting bagi institusi dan peneliti untuk tercatat turut membangun the shape of science dan menempatkan satu 'titik' dalam atlas of science.

Kita memang tidak dapat menafikan kenyataan bahwa akademisi bangsa ini masih merupakan objek atau client dalam platform-platform academic publication. Bahkan, ada yang menyebutkan akademisi Indonesia terjebak masuk dalam gurita konglomerasi, karena scimagojr menyandarkan datanya pada Scopus. Sementara Scopus database dirilis oleh Elsevier, publisher raksasa yang menerbitkan ribuan jurnal yang diindeks oleh Scopus.

Hebatnya lagi, platform perangkingan universitas yang setiap tahun dirilis dengan tajuk QS World University Rankings adalah besutan Elsevier pula, dan QS mengambil data-data dari Scopus untuk perhitungan academic citation dengan porsi 20% dari total score yang dirilis. Lengkap sudah.

Eloknya lagi Scopus mendapatkan keistimewaan tempat di negeri ini, bersamaan dengan Web of Science. Hanya saja WoS kurang popular karena keterbatasan aksesnya di Indonesia. Sehingga, dosen dan peneliti lebih memilih jurnal-jurnal yang terindeks Scopus, supaya mudah melacak dan dilacak oleh reviewer kenaikan pangkat.

Namun, bagaimanapun peran pengindeks bereputasi seperti Scopus atau Web of Science sangatlah penting untuk menjaga kualitas penerbitan sekaligus kualitas penelitian yang dilakukan peneliti di seluruh dunia dalam berbagai area riset. Karena meski Scopus juga bagian pragmatis dari bisnis besar Elsevier, jika tanpa ada pengindeks bereputasi, 'mungkin' akademisi juga akan bersikap pragmatis dalam penerbitan.

Bukan cinta atas sains dan teknologi sebuah publikasi dilakukan, namun atas dasar keperluan administrasi kepangkatan. Hal ini yang memicu naiknya demand publikasi secara mudah dan cepat, dan peluang tersebut ditangkap oleh predatory journal dan predatory publisher untuk berbisnis di ranah publikasi ilmiah.

Penerbit-penerbit besar semacam Elsevier, Thomson Reuters, Taylor & Francis, John Willey & Sons, Wiley Blackwell, Royal Society of Chemistry dan lain-lain juga mempunyai financial interest, karena kebutuhan finansial untuk membiaya aktivitas penerbitan mereka. Sehingga penerbit bereputasi juga membuka model open access. Namun, tipe open access pada jurnal-jurnal bereputasi merupakan pilihan. Penulis bisa memilih non open access; sama sekali tidak ada biaya publikasi.

Tipe open access berarti beban penerbitan dikenakan kepada penulis, sehingga artikelnya yang telah terbit dapat diakses dan diunduh secara gratis oleh siapa saja di seluruh dunia. Hal ini menguntungkan penulis, karena indeks sitasinya (H indeks) akan meningkat dengan cepat. Suatu prestise dan pengakuan kapabilitas seorang peneliti.

Sedangkan pada model non-open access, penulis tidak dikenai biaya penerbitan, namun artikel hanya bisa diakses dan diunduh secara berbayar. Dengan kata lain, pembaca yang membutuhkan artikel tersebut yang membiayai penerbitan. Laman www.scimagojr.com menayangkan sejumlah 32.958 jurnal dari semua area keilmuan, sementara dari jumlah tersebut penerbitan dengan mode open access only adalah 7077, berarti hanya 22 % saja. Sisanya merupakan jurnal yang memberikan pilihan open atau non-open access. Artinya masih ada sekitar 72 % jurnal yang bisa dipilih untuk penerbitan artikel ilmiah dosen secara gratis asalkan tidak memilih opsi open access.

Apabila pencarian dipersempit misalnya pada jurnal kesehatan bidang Health Professions, maka didapatkan 165 jurnal menggunakan mode open access only dari total 595 jurnal, atau sekitar 28 %. Sisanya, 72% nya, menawarkan opsi open dan non-open access.

Jika ada opsi, maka tidak perlu lagi sangsi untuk melakukan publikasi. Karena keberanian dosen mempublikasikan hasil penelitiannya berarti satu langkah berani untuk bersedia dikaji oleh akademisi lain dengan kompetensi sama, sehingga dosen atau peneliti mengetahui dan dapat mengembangkan kapasitasnya selaras dengan standar keilmuan yang dipercayai komunitasnya.

(mmu/mmu)