Kolom

Fitrah yang Membebaskan

Adlan Nawawi - detikNews
Senin, 25 Apr 2022 09:27 WIB
Ilustrasi Idul Fitri
Foto ilustrasi: Shutterstock
Jakarta -

Setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan, umat Islam akan kembali kepada fitrahnya. Sebuah tahapan yang mengkulminasi segala rangkaian pengabdian selama kurun waktu sebulan penuh. Mereka ditempa dengan berbagai amalan yang kesemuanya menegaskan bahwa sebanyak apapun pengabdian itu ditunaikan, sejatinya manusia tetaplah menyandang status sebagai hamba. Penghambaan adalah tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri (QS. Adz-Zâriyât: 56).

Pengingkaran atas hakikat penghambaan dalam pengabdian adalah sebentuk keangkuhan. Tuhan mengusir Iblis dari surga bukan karena pengingkaran terhadap pengabdian kepada-Nya, melainkan penolakan untuk senantiasa berada dalam jalur penghambaan. Penolakan itu diikuti dengan sikap memandang diri lebih tinggi dan lebih mulia di antara hamba lainnya. Pun Adam dan Hawa terusir dari surga karena hasrat untuk melampaui kemanusiaan yang fanâ. Keduanya tertipu godaan setan untuk memakan buah keabadian (khuld) yang sejatinya hanya milik Tuhan.

Kisah Iblis dan Adam beserta Hawa menegaskan tentang keangkuhan dan keabadian yang sama sekali bukanlah milik manusia. Keangkuhan dan keabadian bertentangan dengan kemanusiaan. Mereka yang angkuh akan selalu berpotensi untuk berperilaku sewenang-wenang. Sementara mereka yang merasa abadi, akan selalu merasa tidak akan pernah ada akhir dari setiap perjalanan, dan batas dari segala kemampuan.

Manusia Merdeka

Selain makan dan minum, puasa identik dengan pengandalian hawa nafsu (hasrat pribadi). Kecenderungan untuk mengarusutamakan kepentingan pribadi membuat manusia terkungkung oleh dirinya sendiri. Menutup diri dari kenyataan luar dan memandang hanya pandangan dan pemikirannyalah yang benar. Subjektivisme dan individualisme menyatu menjadi tameng yang melindunginya dari kolektivisme. Pada gilirannya, yang muncul adalah mereka yang diperbudak nafsu.

Pada saat yang sama, panggilan untuk menunaikan ibadah puasa, justru ditujukan kepada mereka yang beriman. Mereka yang percaya dan meyakini keberadaan Tuhan, dan sekaligus meng-esa-kan-Nya. Sebab, kepercayaan tanpa peng-esa-an (tauhîd) hanya melahirkan kepercayaan semu dan rapuh. Sementara kerapuhan mustahil terjalin dalam keyakinan.

Hal itulah yang menyebabkan kafir Quraisy disebut tidak bertauhid, meski mereka mengakui kekuasaan Tuhan. Al-Qur'an menyinggung pengakuan mereka dalam QS. Az-Zukhruf: 9. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Pastilah mereka akan menjawab, "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui."

Keyakinan kepada Tuhan yang berbagi dengan pengakuan atas yang lainnya tidak ubahnya perilaku Iblis yang pada saat yang sama mengakui dirinya sebagai "tuhan" atas mahluk lainnya. Iblis diperbudak oleh nafsu, dan, bahkan, menjadikan dirinya sendiri sebagai nafsu yang tidak dapat ia kendalikan. Demikian halnya kafir Quraisy yang menuhankan berhala dan menjadikannya sekutu dari Tuhan. Ketiadaan tauhid telah membuat mereka menolak kebenaran Islam dan hanya mementingkan hasrat pribadi diri dan kelompoknya atas dasar keangkuhan.

Sebagai kritik atas realitas, Islam hadir dengan gagasan tauhid yang murni. Bukan sekadar meng-esa-kan Tuhan, tapi, sebagaimana diungkap oleh Asghar Ali Engineer (1999), juga memandang bahwa kemanusiaan (penghambaan) sebagai suatu hal yang "satu" (unity of mankind). Nilai keesaan yang dialamatkan kepada Tuhan akan menghadirkan penyerahan diri. Sementara nilai kesatuan kemanusiaan memunculkan kebersamaan, kesetaraan dan keadilan. Di sisi lain, keimanan (amn) menjadikan manusia merasakan keamanan, kedamaian dan keselamatan.

Hanya dengan demikian, kemerdekaan dan kebebasan dapat diraih. Merdeka dari belenggu hawa nafsu, serta bebas untuk menjalani aktivitas kemanusiaan tanpa diskriminasi, kesewenang-wenangan dan kekhawatiran.

Untuk Kemanusiaan

Beberapa hari lagi gema takbir, tahlil, dan tahmid berkumandang menandakan kembalinya manusia kepada fitrahnya. Mengingatkan manusia tentang jati diri sesunggunya yang sejak awal terlahir merdeka dan bebas. Fitrah yang juga bermakna kencenderungan pada kebenaran dan agama Allah yang lurus (hanîf) menitipkan tanggung jawab atas kemerdekaan dan kebebasan yang dimilikinya. Sejauh apapun keburukan yang dijalaninya, manusia senantiasa memiliki instrumen melekat untuk kembali kepada fitrahnya.

Puasa adalah arena latihan untuk mengasah instrumen tersebut. Sebulan penuh kebaikan menyeruak dan menggelimang setiap waktu. Begitu banyaknya kebaikan, hingga nampak pintu surga terbuka selebar-selebarnya. Dan, pada saat yang sama, pintu neraka tertutup rapat, serta setan sebagai aktor penjerumus pun sedang terbelenggu.

Fitrah yang menjadi tujuan kembali oleh mereka yang berpuasa senantiasa relevan untuk diperbincangkan. Sebab sebagai hamba, manusia ditempati salah dan dosa, bukan malaikat yang selalu terjaga dan hanya menjalani perintah. Begitu tidak terjaganya manusia, hingga mereka membutuhkan "ramadan" sebagai pembakar, pemusnah dan penghancur salah dan dosa.

Namun kisah pengusiran Iblis, Adam, dan Hawa dari surga telah mengisyaratkan bahwa pengingkaran atas penghambaan, keangkuhan atas diri pribadi dan keengganan untuk mengakui kebersamaan dan kesetaraan, menjadi penyebab murka Tuhan. Selain itu, hasrat untuk menjadi "Tuhan" atas sesama dan menjadikan diri sebagai sumber kebenaran abadi, bertentangan dengan kehendak-Nya.

Kiranya puasa hendak menyiratkan bahwa kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang diraih dengan melepaskan belenggu segala hal yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Tuhan telah menjadikan manusia sebagai ciptaan terbaik (ahsani taqwîm) sejauh manusia tidak melampaui hakikat kemanusiaannya. Relasi manusia dengan Tuhan melalui tauhid yang murni telah cukup mampu mengakomodasi sebentuk penghambaan kepada-Nya, sekaligus mengharmonisasi hubungan dengan sesamanya manusia.

Dalam situasi sosial-kemasyarakatan yang sangat dinamis dan berubah, kesatuan manusia dengan Tuhan (tauhîd ilâhiyah) dan kesatuan manusia dengan sesamanya (tauhîd insâniyah) merupakan kebutuhan yang niscaya. Tanpa kedua kesatuan tersebut, fitrah kebebasan hanya akan selalu menjadi tujuan tanpa raihan.

Muhammad Adlan Nawawi pengajar pada Program Pascasarjana PTIQ Jakarta

(mmu/mmu)