Kolom

Save Re(y)og Ponorogo!

Frengki Nur Fariya P - detikNews
Jumat, 22 Apr 2022 10:30 WIB
Seniman Reog Ponorogo desak pemerintah segera daftar ke UNESCO
Jakarta -

Reog atau Reyog? Perdebatan mana sebutan paling benar pasti mewarnai tahapan pengajuan kembali Reyog sebagai Warisan Tak Benda (ICH) UNESCO. Tarik-ulur yang hanya sekadar mencari mana kakak dan adik, lupa jika keduanya adalah saudara seasuhan --yang diasuh oleh perkembangan zaman dan peradaban. Gothak-gathuk argumentasi filosofis dideklarasikan dan dianut massa zaman. Puluhan ragam makna seturut pengetahuan zaman pun terlahir.

Reproduksi makna budaya mengiringi rentetan laku budaya yang terwariskan dan ikut pula menggandeng beragam kepentingan zaman. Di sanalah produksi representasi sangat menarik untuk mawas diri. Stuart Hall memetakan fenomena ini sebagai circuit of culture. Budaya dipandang dari perspektif yang melibatkan semesta subjektivitas kolektif dalam proses perkembangannya. Dengan kata lain, representasi budaya tak sepenuhnya tunggal. Sungguh teramat sukar jika masih terjebak dalam kungkungan spasial ini.

Konon, hilangnya huruf (Y) ikut melenyapkan unsur illahiyah dalam kesenian Reyog yang adi luhung. Bertahan sekian tahun, Reog atau Reyog menjadi polemik debat kusir yang tak kunjung terurai ujung pangkalnya. Para pewaris terlibat tanding argumentatif berebut pengakuan kebenaran. Ujungnya bukan mempersatukan, malah semakin membentuk polarisasi yang berpotensi membuka lubang deskriminatif, serupa bingkai ideologi kanan-kiri yang pernah melanda Reyog Ponorogo di masa kemelut 1965. Perlu menarik busur ke belakang dengan dinginnya nalar.

Bisri Effendy sebagai peneliti LIPI pernah mempublikasikan gerangan apa hingga dipakainya Reog (tanpa huruf Y) dalam majalah kebudayaan Desantara edisi 5 tahun 2002. Sarasehan tahun 1993 yang dihadiri oleh konco Reyog memutuskan penulisan Reog tanpa huruf Y. Para yang hadir menitikberatkan pada penyeragaman administrasi. Karena pada saat itu Kamus Umum Bahasa Indonesia yang diterbitkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional tahun 1983 menginventarisasi kata Reog tanpa huruf Y. Hilangnya huruf /y/ yang di interpretasi sebagai Hyang Widhi menuai kritik cukup pedas dan tak berujung.

Namun, ada sisi menarik jika menghadirkan ilmu linguistik dalam perbincangan ini. Bidang kajian yang mempelajari semesta kata ini mampu menghadirkan jawaban lain. Kata Reog terdiri dari huruf /r/ /e/ /o/ dan /g/ akan memiliki persinggungan dengan kata Re(y)og. Fonem (baca:bunyi huruf) /e/ yang bertemu dengan /o/ memunculkan bunyi pelancar atau cluster [y]. Sehingga kata reog akan terdengar re[y]og. Sangat lumrah dalam pelisanan bahasa, yang kadang disebut pula sebagai persandian. Perdebatan Reyog atau pun Reog dapat terselesaikan. Kedua sah digunakan. Tak perlu memperdebatkan berbagai wacana yang terlalu rumit. Agar tercapai kata sepakat guna pengembangan hasil kebudayaan lebih lanjut.

Menyudahi Debat

Alih lain, Reyog dianggap sebagai reyod-reyod dari rengkek (kerangka bambu) topeng harimau dan merak raksasa atau Barongan/Dadhak Merak. Pemaknaan seperti ini akan cenderung kabur manakala kesenian bernama sama diharikan dalam perbandingan. Di tlatah Sunda ditemukan kesenian Bernama Reyog Sunda atau Reyog dog-dog dan di Blitar pun ditemukan kesenian Reyog Bulkiyo. Penemuan penyebutan kesenian lokal ini menimbulkan tanda tanya besar, apa sebenarnya arti kata Reyog?

Korpus asal kata Reyog ini harus ditemukan. Bukan tiba-tiba mendaulat "asli" dan memunculkan makna kata Reyog seperti tersebut di atas. Masyarakat luas akan cenderung yakin dan tak memandang "negatif" pernyataan yang dikeluarkan. Begitu pula dalam memunculkan asal kata Reyog yang konon dari akar kata bahasa Arab Riyoqun, masih begitu rancu tertelan logika. Karena, kesenian bernama Reyog bukan satu-satunya yang berada di Ponorogo.

Memang, Serat Centhini mengonteks kesenian Reyog di Ponorogo dalam jalan ceritanya. Namun, Serat Centhini tak menggambarkan wujud kesenian Reyog persis seperti Reyog Ponorogo pada hari ini. Ilustrasi Reyog dalam Serat Centhini malah menggambarkan Reyog layaknya kesenian Jathilan/Kuda lumping, yang oleh masyarakat luar Ponorogo disebut pula sebagai Reyog. Hal ini yang menjadi catatan penting!

Secara tegas, saya berpendapat, fokus kajian Reyog Ponorogo bukan pada klaim Reyog sebagai warisan Majapahit yang dibawa oleh putra Brawijaya V, yang secara historiografi masih kabur. Namun lebih pada kajian laku panjang kreativitas hingga Reyog mencapai bentuk demikian, yang tiada duanya di dunia. Reyog Ponorogo berhasil bertransformasi menjadi kesenian yang secara kasat mata dikenal "ini dari Ponorogo!" Tak lagi debat kusir pembenaran kata Reyog atau Reog. Masih banyak hal lain yang perlu dikaji lebih mendalam.

Penggunaan kata Reyog ataupun Reog sudah menjadi pilihan masing-masing pribadi. Tinggal lihat search engine dan tentukan sendiri cara mem-branding-nya. Semoga debat segera disudahi. Sama-sama bergandengan tangan mendukung pengajuan Reyog sebagai ICH UNESCO tanpa menengok lagi perdebatan usang. Jangan sampai keburu diklaim lagi oleh negara lain, karena terlampau sibuk debat kusir. Semoga para pejabat berwenang segera memberi kebijakan bijak mana yang lebih dulu diselamatkan. Kabar baik semoga segera datang di tahun 2022.

Save Reyog Ponorogo!

Frengki Nur Fariya Pratama mahasiswa Magister Ilmu Susastra Undip, peneliti Reyog Ponorogo, bergiat di Komunitas Sraddha Sala

(mmu/mmu)