Kolom

Perempuan, "Digital Skills" dan Ekonomi Inklusif

Thania Novita - detikNews
Kamis, 21 Apr 2022 13:00 WIB
Jualan Online Sayur - Blitar
Jualan online tanaman hias di Blitar (Foto ilustrasi: Fitraya Ramadhanny/detikcom)
Jakarta -

Pandemi menuntut produktivitas dari rumah. Pandemi yang memberikan banyak dampak negatif secara ekonomi khususnya dalam memberhentikan banyak orang dari pekerjaannya memaksa tiap orang dan keluarga untuk bertahan. Salah satu bisnis yang tetap maju saat pandemi adalah bisnis online. Fenomena ini menjadi contoh bagi yang lainnya untuk mempertahankan kehidupan perekonomian melalui pemanfaatan teknologi.

Perempuan menjadi salah satu survivor yang terdorong memulai bisnis online. Hal ini dapat dilihat dari riset yang dilakukan Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, bahwa 18,6 persen pelaku baru Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berasal dari kalangan perempuan dengan memanfaatkan layanan e-commerce. Pandemi secara tidak langsung menumbuhkan bisnis digital.

Peran Terbatas

Perempuan memiliki peran terbatas dalam kehidupan keseluruhan, utamanya ekonomi. Hal ini lantaran banyak perempuan masih terikat dengan budaya patriarki dan memilih mengurus hal-hal domestik seputar keluarga saja. Dalam budaya masyarakat pun perempuan yang bekerja masih memiliki perdebatan lantaran anggapan bahwa mereka tidak akan becus mengurus keluarga, utamanya anak. Namun, ekonomi digital memiliki fleksibilitas yang mampu menyesuaikan diri dengan peran perempuan.

Tak perlunya lokasi dan waktu yang kaku membuat perempuan dapat fleksibel mengurus rumah tangga sekaligus bekerja jarak jauh. Namun, kemudahan teknologi tak serta-merta memberi kemudahan jalan bagi perempuan berkontribusi dalam sektor ekonomi. Jika melihat fenomena ketimpangan ekonomi perempuan dan laki-laki, pembangunan peran perempuan dalam sektor ekonomi perlu dorongan yang tepat.

Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2019 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), perempuan menghadapi kesenjangan akses internet selama kurun waktu 2016 hingga 2019. Pada 2016, jumlah perempuan yang menggunakan internet 7,6% lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Pada 2017 persentase tersebut menurun sedikit ke angka 7,04%. Pada 2018 berada di angka 6,34%. Pada 2019 persentasenya 6,26%. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya tak terlepas dari problematika sosial yang beranggapan bahwa ibu rumah tangga tak akan memahami dunia luar karena mereka hanya paham urusan pekerjaan rumah saja.

Keadaan ini secara tidak langsung membangun kesenjangan antara laki-laki dan perempuan. Meskipun belakangan ini perempuan mulai unjuk diri, tetapi dalam kehidupan ekonomi perempuan dan laki-laki masih memiliki ketidaksetaraan. Berdasarkan data BPS, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan pada 2020 masih sekitar 53% dari populasi perempuan. Meskipun angka ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, tetapi masih tak sebanding dengan jumah laki-laki yang sebesar 83%.

Penelitian dari Rowntree (2019) juga menunjukkan bahwa kesenjangan digital antara perempuan dan laki-laki di Indonesia dalam kepemilikan telepon seluler untuk mengakses konten digital adalah sebanyak 11%.

Laporan G-20 Women 20, Ernst & Young, dan Global System for Mobile Communcations Association menyebutkan bahwa minimnya akses dan penggunaan teknologi digital merupakan salah satu masalah utama terciptanya kesenjangan yang menghambat terjadinya pertumbuhan ekonomi digital di suatu negara. Padahal, jika perempuan dapat berkontribusi dalam perekonomian, perekonomian global akan mendapatkan manfaat sebesar US$12 triliun pada 2025. Sedangkan khusus kawasan Asia Pasifik, dapat memberikan nilai tambah hingga US$4,5 triliun (Kemenkeu.go.id).

Perlu diingat kembali bahwa beberapa tahun ke depan Indonesia akan berada dalam bonus demografi yang perkiraan puncaknya berada pada 2030. Bonus demografi ini bisa menjadi petaka jika tak dipersiapkan dengan manajemen yang baik. Beberapa tahun ke depan, jumlah usia produktif yang lebih banyak pastilah menuntut adanya pemenuhan hidup. Namun, jika usia produktif hanya fokus mencari kerja ditambah mayoritas dari mereka adalah laki-laki saja, maka yang dapat terjadi adalah pengangguran besar-besaran dan permasalahan ekonomi.

Bayangkan saja, pada 2020 jumlah laki-laki di Indonesia sebesar 137,52 juta jiwa dan perempuan 134,71 juta jiwa, sementara hanya laki-laki yang mendominasi sektor perekonomian. Akan ada ketimpangan dan kesenjangan jika dibandingkan keduanya dapat berkolaborasi bersama. Karena itu, sedari dini ekonomi inklusif harus didorong melalui memberikan ruang peran dan kemampuan bagi perempuan untuk aktif dalam kegiatan ekonomi digital. Dengan ekonomi digital, perempuan memiliki akses untuk mengembangkan kegiatan ekonominya dengan pengaturan kerja yang fleksibel dan independen melalui platform digital.

Tantangan Selanjutnya

Meskipun beberapa perempuan telah menyadari pentingnya berperan dalam sektor ekonomi, tetapi tantangan selanjutnya adalah ekonomi digital harus dijalankan dengan kemampuan digital yang baik pula. Sementara ada problem akses dan kemampuan digital bagi perempuan, utamanya perempuan yang dengan terpaksa terdorong memulai bisnis digital lantaran desakan kebutuhan saat pandemi tanpa keahlian apapun sebelumnya.

Kemampuan penggunaan teknologi sangatlah penting sebagai tahap awal pengoptimalan ekonomi inklusif melalui ekonomi digital ini. Dibutuhkan kemampuan literasi digital yang baik, yaitu kemampuan untuk mengakses, memahami, membuat, mengomunikasikan, dan mengevaluasi informasi melalui teknologi digital yang bisa diterapkan dalam kehidupan ekonomi dan sosial.

Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) melalui program Literasi Digital Nasional menjelaskan lebih lanjut bahwa literasi digital mencakup 4 hal, yaitu Cakap Bermedia Digital (digital skills), Aman Bermedia Digital (digital safety), Etis Bermedia Digital (digital ethics), dan Budaya Bermedia Digital (digital culture). Keempat poin ini menuntut adanya pemahaman digital yang baik dan akses terhadap kebutuhan ekonomi digital, ada keamanan dalam data maupun aktivitas ekonomi, memanfaatkan media digital dengan baik, jujur, dan moral, serta meskipun digital ekonomi tak memiliki batas jangkauan, tetapi tetap mencintai dan mengembangkan produk dalam negeri.

Pengoptimalan Literasi Digital Nasional dalam ekonomi digital khususnya bagi perempuan menjadi salah satu langkah awal dalam upaya kemajuan ekonomi, utamanya dalam pembangunan ekonomi Indonesia beberapa tahun ke depan. Akan sulit jika kemajuan ekonomi ini menyeret perempuan-perempuan agar keluar dari rumah dan pandangan budayanya untuk bekerja, lantas kenapa kita tidak memanfaatkan teknologi untuk masuk ke rumah tiap perempuan dan memberi mereka ruang untuk turut berkontribusi dalam perekonomian?

Kolaborasi perempuan dan kemampuan digital yang baik dapat menjadi salah satu obat bagi recovery dunia akibat pandemi, khususnya di sektor ekonomi.

(mmu/mmu)