Mimbar Mahasiswa

Mengundang Rusia dan Ukraina ke Pertemuan G20

Trystanto - detikNews
Rabu, 20 Apr 2022 13:18 WIB
Presidensi G20 Digelar di Bali
Foto: Sylke Febrina/detikFinance
Jakarta -

Semenjak penyerangan Ukraina oleh Rusia pada 24 Februari 2022, telah banyak seruan dari negara-negara Barat untuk mengeluarkan Rusia dari G20 dan tidak mengundang Presiden Rusia Vladimir Purin ke pertemuan puncak G20 di Bali akhir tahun nanti. Namun, negara-negara seperti China, India, dan Afrika Selatan dengan tegas menolak rencana tersebut dengan alasan bahwa Rusia merupakan negara yang penting dalam perekonomian dunia sehingga tidak bisa dicampakkan begitu saja.

Isu ini telah mengundang perdebatan di masyarakat pemerhati hubungan internasional di Indonesia dan negara lain. Apa yang harus dilakukan Indonesia dalam menghadapi isu ini? Menurut saya, Indonesia harus mengundang Rusia dan Ukraina ke pertemuan puncak konferensi G20 di Bali pada November mendatang.

Indonesia memang tidak boleh serta-merta tunduk begitu saja kepada tuntutan Barat bahwa Rusia tidak boleh diundang ke konferensi G20. Perdana Menteri Australia, misalnya, menyatakan bahwa duduk bersama Presiden Putin merupakan sebuah langkah yang "terlalu jauh" baginya. Presiden Amerika Serikat juga menyatakan hal yang sama bahwa Rusia sebaiknya tidak diundang di pertemuan puncak G20. Terakhir, Perdana Menteri Kanada juga menyatakan bahwa mengundang Presiden Putin ke pertemuan puncak G20 akan membuat pertemuan menjadi "sangat sulit bagi kita dan tidak produktif untuk G20."

Pernyataan-pernyataan ini mungkin terlihat seperti pernyataan emosional atau pernyataan superioritas dari negara-negara Barat. Namun, kita juga harus melihat bahwa mungkin saja para pemimpin negara tersebut memiliki tekanan dari berbagai elemen domestik negara mereka untuk tidak terlihat dalam satu meja dengan Presiden Putin.

Jelas Indonesia tidak boleh serta-merta tunduk kepada tuntutan mereka. Sebagai negara yang berdaulat, Indonesia harus dapat berdiri tegak menentukan nasibnya sendiri tanpa desakan negara mana pun. Sebagai negara netral, citra Indonesia akan rusak apabila dapat dipaksa negara-negara Barat untuk melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki negara anggota G20 lainnya. Lebih buruknya, Indonesia bisa saja dianggap sebagai "antek-antek" negara Barat dalam G20.

Indonesia tidak boleh membiarkan itu terjadi. Mau bagaimanapun, Rusia merupakan bagian penting dari perekonomian dunia. Rusia merupakan salah satu pengekspor minyak mentah di dunia pada 2021 dan merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi. Di samping itu, Rusia juga meruakan eksportir gas alam terbesar di dunia dan merupakan sumber dari 40% gas alam di Uni Eropa.

Jelas sekali bahwa kerja sama dengan Rusia sangat penting untuk pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Maka dari itu, eksklusi Rusia dari pertemuan G20 merupakan langkah yang salah dan kontraproduktif dengan tema pertemuan G20 tahun ini, yaitu Recover Together, Recover Stronger.

Meskipun begitu, Indonesia juga harus memiliki pengertian terhadap tekanan-tekanan yang menekan para pemimpin negara Barat di G20. Di negara-negara Barat yang demokratis, penyebaran foto pemimpin negara mereka berdiri dekat dengan Presiden Putin bisa jadi merupakan sebuah tindakan bunuh diri bagi prospek politik mereka di pemilihan umum selanjutnya. Bisa jadi pemimpin negara tersebut dituduh memberikan legitimasi terhadap Putin karena telah memberikan Putin kesempatan foto bersama di mana ia terlihat dalam derajat yang sama dengan pemimpin negara lainnya.

Lebih buruknya lagi, bisa saja pemimpin Barat tersebut dituduh telah melakukan "perjanjian dengan setan" dan tidak memperhatikan rakyat Ukraina. Besar kemungkinan bahwa negara-negara Barat lebih memilih untuk memboikot pertemuan G20 di Bali agar para pemimpin negara mereka tidak terpampang dalan satu foto dengan Putin.

Apabila itu terjadi, maka Presidensi Indonesia di G20 dapat hancur dan tidak dapat menjalankan tema Recover Together, Recover Stronger. Partisipasi negara Barat sangat dibutuhkan dalam pemulihan ekonomi dunia dan partisipasi seluruh negara G20 amat diperlukan agar agenda-agenda G20 Indonesia dapat terwujud dengan baik. Tidak ada jalan lain. Agar Presidensi G20 Indonesia berhasil, Indonesia harus dapat membujuk seluruh anggota G20 untuk datang ke pertemuan puncak G20.

Kompromi

Mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy ke pertemuan puncak G20 pada November 2022 di Bali nanti merupakan sebuah kompromi agar pemimpin negara-negara Barat tidak canggung terlihat dalam satu foto dengan Presiden Putin. Bahkan, usulan ini sebenarnya diajukan oleh Presiden Amerika Serikat sendiri. Apakah langkah ini diperbolehkan?

Ukraina memang bukan negara anggota G20. Namun, pemegang Presidensi G20 memiliki hak untuk mengundang negara lain sebagai tamu undangan. Pada 2022, Presiden Joko Widodo telah mengundang Putra Mahkota Uni Emirat Arab Mohamed Bin Zayed. Maka dari itu, tidak ada halangan hukum Indonesia mengundang Presdien Ukraina ke pertemuan puncak G20 nanti. Ini merupakan win-win solution yang dapat memuaskan kedua belah kubu pro- dan anti-Rusia di G20.

Kubu pro-Rusia mendapatkan apa yang mereka mau, yakni partisipasinya Presiden Putin di pertemuan puncak G20. Kubu anti-Rusia juga mendapatkan apa yang mereka mau, yakni partisipasi Ukraina di G20 dan mereka tidak harus satu foto dengan Presiden Putin saja. Plus, karena usulan ini merupakan usulan dari Presiden AS sendiri, tidak akan banyak alasan lagi negara-negara Barat untuk memboikot G20.

Bahkan, pemimpin Barat bisa berargumen bahwa partisipasi mereka di G20 berhasil mempertemukan Presiden Rusia dan Ukraina. Sebagai gantinya, Indonesia bisa meminta jaminan tertulis dari Amerika Serikat dan sekutunya bahwa mereka pasti akan datang ke G20. Hal ini sangat diperlukan mengingat partisipasi negara Barat juga amat diperlukan dalam pemulihan ekonomi pasca-pandemi.

Mengundang Ukraina ke G20 juga dapat meningkatkan citra Indonesia di mata dunia dan memenuhi kewajiban konstitusional untuk berpartisipasi aktif untuk menjaga perdamaian dunia. Indonesia dapat mengorganisasi pertemuan antara Putin dan Zelenskyy di sela-sela pertemuan puncak atau setelah pertemuan puncak.

Meskipun pertemuan tersebut tidak menghasilkan apa-apa, misalnya, Indonesia dapat memperbagus citranya sebagai negara netral yang berperan aktif dalam penyelesaian perang di Ukraina dengan mempertemukan kedua belah pihak yang berseteru.

Forum Ekonomi

Ada yang beranggapan bahwa G20 bukan forum politik, melainkan forum ekonomi. Maka dari itu, tidak ada urgensi penting bagi Indonesia untuk mengundang Ukraina ke pertemuan puncak G20 dan membahas perang Rusia-Ukraina di forum tersebut. Forum G20 merupakan forum ekonomi dan perang Ukraina-Rusia merupakan isu politik.

Sayangnya, pemegang argumen ini tidak (atau belum) dapat memperkuat argumennya dengan membuktikan bahwa perang Rusia-Ukraina sama sekali tidak memiliki dampak ke perekonomian dunia. Alih-alih, bukti yang ada malah berkata sebaliknya. Perang Rusia-Ukraina telah berdampak pada kenaikan harga minyak dunia yang berimbas pada naiknya harga BBM di Indonesia (walaupun perang Rusia-Ukraina bukanlah penyebab satu-satunya).

Selain itu, akibat dari invasi ke Ukraina, Rusia telah dikeluarkan dari sistem komunikasi bank dunia SWIFT dan dijatuhi sanksi bertubi-tubi oleh Barat. Seluruh hal ini jelas memiliki implikasi langsung dan tidak langsung ke perekonomian dunia dan penyelesaian konflik Rusia-Ukraina sangat diperlukan.

Memang keadaan saat ini tidak ideal. Keadaan ideal adalah Indonesia dapat menjalankan tugas-tugas dan memenuhi agenda G20 tanpa ada gangguan apapun dari perang Rusia-Ukraina. Dalam keadaan ideal, Indonesia dapat menyelenggarakan pertemuan G20 yang fokus pada pemulihan ekonomi dunia dan negara-negara G20 dapat mengesampingkan kepentingan politik mereka. Indonesia harus dapat beradaptasi dan berdiplomasi dengan cemerlang dalam melalui ladang ranjau geopolitis ini.

Trystanto mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional UGM, Ketua Divisi Riset dan Pengembangan Foreign Policy Community Indonesia chapter UGM

(mmu/mmu)