Kolom

Lampu Kuning untuk Tukang "Roasting"

Kidishom Nugraha - detikNews
Kamis, 14 Apr 2022 12:03 WIB
Meme Will Smith Chris Rock
Will Smith menampar Chris Rock di panggung Oscar (Foto: Twitter)
Jakarta -
Malam anugerah Piala Oscar 2022 yang digelar belum lama ini geger. Gara-garanya, Will Smith menampar Chris Rock di atas panggung. Ketika itu, Chris bertugas untuk mengumumkan pemenang film fitur dokumenter terbaik. Dia mengawalinya dengan berbagi lelucon di atas panggung. Maklum, sebelum menjadi aktor, dia lebih dulu terjun ke dunia hiburan sebagai pelawak tunggal atau komika dan masih melakoninya sampai sekarang.

Acara penghargaan paling bergengsi bagi insan perfilman dunia itu memanas ketika Chris Rock menjadikan istri Will Smith, Jada Pinkett, sebagai sasaran lawakan. Menurut Chris, Jada dengan kepala botaknya pantas bermain di sekuel film G.I. Jane.

"Jada, aku mencintaimu. G.I. Jane 2, tidak sabar untuk menontonnya," kata Chris Rock dari atas panggung sambil menunjuk ke arah Jada.

Hadirin, termasuk Will Smith, tertawa mendengarnya. Namun, Jada yang jadi sasaran lelucon memasang muka masam. Sadar istrinya tersinggung, Will naik ke panggung, kemudian menampar Chris keras-keras dengan tangan kanannya. Tindakan ini tentu tidak bisa dibenarkan. Omongan yang tidak mengenakan cukup dibalas dengan omongan serupa.

Candaan Chris Rock soal kebotakan mungkin tidak akan bermasalah jika Jada mengalaminya bukan karena suatu penyakit. Masalahnya, rambut istri Will Smith itu rontok karena mengidap alopecia areata.

Bagi sebagian besar perempuan, rambut adalah mahkota. Jada menceritakan bahwa dia merasa ketakutan ketika pertama kali mengetahui penyakit itu menerpanya pada 2018. Bisa dibayangkan, Anda menderita suatu penyakit, kemudian seseorang menjadikannya bahan olok-olokan dalam sebuah acara yang dihadiri oleh begitu banyak pesohor. Bagaimana perasaan Anda?

"Sasaran Tembak"


Kadang, "sasaran tembak" dibutuhkan dalam pertunjukan lawak untuk membuat orang tertawa. Dalam sebuah grup, salah satu personel biasanya dijadikan sasaran itu. Misalnya, dia berperan sebagai orang yang lugu sehingga dijadikan bulan-bulanan lawakan oleh personel lain.

Seorang pelawak tunggal kerap menjadikan diri sebagai sasaran tembak. Kadang, dia membidik penonton. Strategi ini digunakan untuk memecahkan suasana. Misalnya, dia melihat temannya di barisan depan hadirin. Kemudian, dia menyebut dan menunjuknya, lalu menceritakan kelucuan—biasanya aib—sang teman. Namanya juga teman, jadi ya asyik-asyik saja.

Interaksi antara penampil dan penonton sangat penting untuk menghidupkan sebuah pertunjukan, terutama lawak tunggal atau stand-up comedy. Tanpa umpan balik dalam bentuk tawa, tepuk tangan, atau celetukan dari audiensnya, seorang komika akan seperti peminta sumbangan dalam bus yang berbicara panjang lebar, tetapi diabaikan oleh penumpang.

Kadang, komika menunjuk secara acak di antara penonton, misalnya, karena berpenampilan mencolok sebagai "sasaran tembak". Lalu, dia menjadikan orang itu bahan lelucon. Bisa jadi, inilah yang dilakukan oleh Chris Rock kepada Jada. Cara ini sering berhasil. Sayangnya, kali ini malah jadi bumerang.

Pelajaran Berharga


Dibandingkan Amerika Serikat, Indonesia belum terlalu lama mengenal pertunjukan lawak tunggal. Salah satu bentuk humor yang sedang digandrungi saat ini dikenal dengan istilah roasting. Biasanya, sebuah acara roasting menjadikan seseorang sebagai bulan-bulanan candaan satu atau beberapa komika. Orang itu bisa saja tokoh publik, termasuk gubernur atau menteri. Materinya lebih sering berupa sindiran kepada orang yang bersangkutan.

Pelawak tunggal yang melakukan roasting dengan sindiran-sindiran tajam, apalagi kepada pejabat pemerintahan, sering dianggap bernyali tinggi. Entah benar atau tidak, saya menangkap kesan seakan-akan ini bentuk humor tertinggi dan bergengsi. Menjadi tukang roasting sepertinya adalah kebanggaan dan prestasi tersendiri. Memang hebat kalau seorang komika membawakan materi yang berani. Namun, bukankah akan lebih baik jika keberanian itu dibarengi dengan etika?

Sebenarnya, melakukan roasting langsung di depan orang yang dijadikan sasaran bisa dibilang relatif aman bagi sang komika. Apalagi, jika orang itu memang diundang khusus ke acara itu dan diberi tahu sebelumnya bahwa dia akan dijadikan sasaran lawakan. Bahkan, di balik layar, dia ditanya dulu tentang materi candaan yang tidak boleh dilontarkan.

Yang cukup berisiko adalah roasting dadakan atau improvisasi kepada salah satu penonton seperti yang dilakukan oleh Chris Rock atau kepada pihak lain di luar lokasi acara. Di Indonesia, ada komika digeruduk ormas yang menganggap materi lawakannya menyinggung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Selain itu, ada juga pelawak tunggal yang diadukan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) oleh seorang selebritas yang merasa leluconnya menghina sang anak.

Di negara seliberal Amerika Serikat saja masih ada orang yang tersinggung karena lawak, seperti Will Smith dan istrinya, apalagi di Indonesia. Sah-sah saja jika para komika berlindung di balik dalih kebebasan berbicara. Namun, kebebasan bukan berarti kebablasan. Dalam beberapa situasi dan kondisi tertentu, empati harus dikedepankan sehingga komedi tidak terlalu liar.

Lewat komedi, hal-hal yang dianggap tabu dan sensitif oleh sebagian orang bisa diolah untuk membuat orang lain tertawa. Sebagai pelawak, Chris Rock dikenal sering menggunakan materi humor nyelekit yang mungkin membuat sasaran lawakannya sakit hati.

Sulit untuk membedakan antara candaan dan hinaan. Semua berpulang kepada sudut pandang masing-masing. Pelawaknya sendiri kadang tidak menyadari apakah materinya masih dapat dimaklumi atau sudah melewati batas. Insiden antara Chris Rock, Will Smith, dan Jada Pinkett bisa diibaratkan sebagai lampu—atau kartu—kuning bagi para komika, khususnya di Indonesia. Bukan untuk mengekang kreativitas, melainkan untuk mengingatkan agar lebih berhati-hati dan berempati dalam berkomedi.

Mohammad Sidik Nugraha
penyuka humor yang bekerja sebagai penyunting dan penerjemah buku

Simak juga Video: Kemunculan Pertama Jada Pinkett Usai Insiden Penamparan di Oscar 2022

(mmu/mmu)