Kolom

Menghadapi Era Pasca-Covid

Kholis Abdurachim Audah - detikNews
Rabu, 13 Apr 2022 12:00 WIB
Beda Pandemi dengan Endemi, Peralihan Transisi yang Disiapkan Pemerintah
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Pandemi COVID-19 telah memberi kita banyak pelajaran dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang penyakit menular, misalnya, satu virus yang kemudian secara berurutan terus bermutasi, tidak hanya menyebabkan dampak bencana yang luar biasa tidak hanya untuk satu atau sekelompok negara, tetapi juga telah membentuk peradaban baru manusia di seluruh dunia.

Sebagian kita tentunya ada yang bertanya, apakah hal ini sebuah kejadian yang terjadi secara alami atau merupakan hasil perbuatan manusia? Jawabannya, kita tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi. Satu-satunya yang kita tahu, pandemi ini telah membuka mata dan pikiran kita tentang betapa rentannya kita, bahkan untuk hal-hal kecil seperti virus.

Perlu diingat bahwa virus SARS CoV-2 yang menyebabkan pandemi COVID-19 bukan satu-satunya yang ada di sekitar kita. Ada ratusan bahkan ribuan mikroba patogen lain (tidak hanya virus) yang menyebabkan penyakit yang lebih ringan, serupa, atau bahkan lebih parah daripada COVID-19. Beberapa di antaranya adalah Virus Dengue penyebab Demam Berdarah, Chikungunya, Demam Kuning, Polio, Tuberkulosis, Malaria dan munculnya mikroba resisten terhadap antibiotik atau obat.

Juga, harap diingat bahwa ada miliaran mikroba dalam berbagai bentuk kehidupan di alam yang awalnya tidak dapat menginfeksi manusia, karena perubahan lingkungan tertentu, suatu hari nanti akan memiliki kemampuan untuk menular. Artikel singkat ini tidak dimaksudkan untuk membuat kita takut dengan apa yang sedang dan mungkin terjadi di masa depan, namun lebih untuk menjadi pengingat bagi kita semua, terutama para pemimpin atau pengambil keputusan untuk menyikapi peristiwa pandemi ini dengan serius. Pengambil keputusan harus mengambil tindakan yang diperlukan dalam menangani situasi saat ini dan situasi yang mungkin terjadi di masa depan.

Bagi mereka yang mempelajari atau berpengalaman dalam menangani mikroba pathogen atau bagi mereka yang terlibat baik secara langsung atau tidak langsung dalam menangani pandemi COVID-19, pasti merasakan dan memahami betul betapa dahsyatnya pandemi ini. Bahkan hal yang lebih buruk dari ini sekalipun sangat mungkin terjadi.

Pandemik ini juga telah mengajarkan kepada kita bahwa dalam banyak hal negara kita belum memiliki kesiapan yang memadai dalam menghadapi kejadian dengan skala seperti ini. Maka itu, menurut hemat saya, pandemi ini adalah momentum yang sangat tepat bagi kita sebagai negara untuk mempersiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan dengan sebaik-baiknya untuk menghadapi peristiwa seperti itu terjadi di masa depan.

Ada beberapa tindakan penting yang harus dilakukan agar negara kita siap menghadapi pandemi berikutnya, baik yang terjadi secara alami dan/atau karena buatan manusia (perang biologis) yang merupakan bagian penting dari sistem pertahanan biologis (biodefense).

Pertama, meningkatkan dan memperluas infrastruktur kesehatan dan sumber daya manusia tidak hanya dari segi jumlah, tetapi juga dari segi kualitas. Sehingga rasio antara penduduk dengan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit misalnya, akan lebih proporsional (jika tidak ideal) dan pelayanan yang diberikan memenuhi syarat minimal.

Apapun penyebab pandemi, itu akan menyebabkan hasil yang sama, yaitu korban manusia yang perlu dirawat di fasilitas kesehatan. Lebih banyak fasilitas berarti lebih banyak sumber daya manusia yang dibutuhkan. Menurut Lembaga Akreditasi Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit (LAM-KPRS), hingga akhir 2021, baru ada 3.145 rumah sakit di Indonesia dan baru 2.482 di antaranya yang telah terakreditasi. LAM-KPRS adalah lembaga independen yang dapat melakukan akreditasi rumah sakit dan diamanatkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/6604/2021 tanggal 12 November 2021.

Jumlah rumah sakit ini tentu tidak cukup untuk menampung sekitar 280 juta orang Indonesia. Menurut Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) (2021), rasio tempat tidur rumah sakit terhadap populasi di Indonesia adalah 1:1000, yaitu sekitar 0.1 persen dari jumlah penduduk. Jumah ini relatif sangat rendah dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang dengan 13,05:1000 sebagai negara tertinggi untuk rasio tempat tidur rumah sakit terhadap penduduk.

Tidak mengherankan, pada masa puncak pandemi COVID-19 seperti yang pernah terjadi, dengan persentase kasus sekitar tiga persen, rumah sakit tidak dapat menampung jumlah pasien yang ada.

Kedua, memperkuat penelitian dan pengembangan di bidang mikrobilogi khususnya mikroba berbahaya, biomedis, bioteknologi medis, teknologi medis (alat kesehatan) dan sektor farmasi untuk mengikuti perkembangan yang sangat dinamis di bidang kedokteran diagnostik, terapeutik dan preventif. Setiap pandemi adalah unik sehingga harus ditangani dengan cara yang spesifik. Misalnya, suatu jenis vaksin hanya cocok untuk jenis patogen tertentu.

Kita tidak bisa hanya terus membeli vaksin dari luar negeri, bukan hanya karena harganya yang lebih mahal, tetapi juga mungkin ada masalah kesesuaian vaksin untuk patogen lokal serupa. Belum lagi aspek lain seperti isu politik dan ekonomi yang menyertai yang dapat mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil.

Untuk sektor farmasi khususnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya baik di darat maupun di laut yang telah digunakan sebagai sumber obat selama berabad-abad. Potensi ini menjadi daya tarik tersendiri dari berbagai negara baik pemerintah maupun swasta untuk menemukan obat dari produk alam Indonesia. Hal ini harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan bangsa.

Ketiga, melaksanakan kegiatan surveillance untuk emerging and reemerging pathogens. Kegiatan surveillance sangat penting untuk mengantisipasi munculnya mikroba pathogen seperti virus yang terjadi saat ini. Deteksi dini adanya mikroba berbahaya ini sangat menentukan pengendalian dan langkah-langkah lain yang perlu dilakukan.

Keempat, meningkatkan kapasitas laboratorium keselamatan biologi (biosafety laboratory) baik dari segi kuantitas maupun kualitas yang meliputi tingkat biosafety yang berbeda dari tingkat satu sampai empat (BSL 1 – BSL 4). Fasilitas laboratorium yang memadai sangat diperlukan untuk melakukan berbagai kegiatan baik penelitian dan pengembangan, maupun sebagai fasilitas pendukung untuk kegiatan surveillance.

Kelima, mempromosikan dan mempercepat rekayasa sosial dalam rangka merevolusi perilaku manusia dalam meningkatkan gaya hidup baik untuk kesehatan individu maupun lingkungan. Perilaku manusia memainkan peran penting dalam memastikan bahwa kita berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup umat manusia dan pada saat yang sama mendukung lingkungan yang berkelanjutan dan sehat.

Hal-hal yang dipaparkan di atas adalah beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam upaya mempersiapkan untuk mengantisipasi kejadian-kejadian luar biasa yang mungkin terjadi lagi di masa-masa yang akan datang baik yang terjadi secara alami maupun yang dilakukan oleh manusia. Satu hal yang perlu kita ingat bahwa peperangan di masa datang tidak hanya melulu dalam bentuk perang fisik, tetapi perang biologi yang kedatangannya sulit dideteksi, namun akibatnya dapat jauh melebihi perang fisik yang secara kasat mata dapat kita lihat.

Kholis Abdurachim Audah, Ph.D Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, dan Dosen Senior (Biomedical Engineering Department) Swiss German University Alam Sutera, Banten

(mmu/mmu)