Kolom

Ekonomi Kolak Ramadan

Junaedi - detikNews
Selasa, 12 Apr 2022 15:10 WIB
Kolak pisang (Foto: detikFood)
Jakarta -
Pada setiap Ramadan ada pemandangan yang jamak kita lihat, yaitu menjelang berbuka puasa banyak penjual takjil dengan aneka penganan. Salah satu penganan untuk takjil yang sering kita jumpai adalah kolak. Penjualnya tidak saja orang-orang yang biasa berjualan, tetapi juga dilakukan oleh masyarakat yang biasanya tidak berjualan atau penjual musiman. Otomatis, penganan kolak pada Ramadan seperti saat ini mudah dijumpai dibanding dengan hari-hari biasanya.

Kolak ini umumnya terbuat dari pisang, labu, ubi jalar, durian, singkong dan semacamnya. Santan kelapa, penyedap daun pandan atau kulit kayu manis dan gula aren atau gula merah. Ada berbagai jenis kolak di Indonesia, seperti kolak pisang, kolak ubi jalar atau ketela rambat, kolak singkong, kolak labu, kolak biji salak, atau kolak durian yang popular di kampung saya, dan sebagainya, termasuk "kolak kombinasi" yang berisi aneka komoditas tersebut.

Kolak memang menjadi salah satu sajian ikonik pada saat Ramadan. Penganan dengan rasa manis dan gurih serta aroma harum menyegarkan ini banyak dicari orang menjelang waktu berbuka puasa. Keberadaannya laksana oase pada padang tandus nan gersang yang mampu memberi kesegaran para penikmatnya.

Kolak juga bukan sekadar makanan biasa. Di balik kelezatan kolak, ada makna yang menghiasi, baik makna filosofis maupun makna religius. Konon pada zaman dahulu kolak menjadi sarana kaum pendakwah dalam menyebarkan agama Islam. Banyak ahli sejarah yang mengemukakan bahwa kolak kemungkinan berasal dari kata khalik yang artinya Sang Pencipta.

Ada juga yang mengartikan kolak sebagai kata kula dalam bahasa Jawa yang artinya bersama atau berkumpul, karena kolak juga merupakan sajian dari beragam bahan dan komoditas yang terkumpul dalam satu wadah (gelas, mangkok, panci, dan sebagainya).

Bahan atau isian penganan kolak juga dikaitkan dengan ajaran Islam. Bahan pisang, terutama pisang kepok berasal dari kata "kapok" dalam bahasa Jawa yang berarti taubat. Kemudian ada bahan ubi jalar atau telo pendem, yang berarti mengubur kesalahan dalam-dalam. Demikian juga dangan santan dalam bahasa Jawa disebut santen yang merupakan kependekan dari kata pangapunten atau permintaan maaf.

Namun yang pasti bahan-bahan untuk membuat kolak mudah dijumpai di seluruh Indonesia. Perkembangan varian kolak pun juga cukup pesat, isiannya lebih variatif dan beragam menyesuaikan dengan 'selera lokal', baik rasanya maupun bahan bakunya. Hal ini menunjukan bahwa penganan ini tercipta karena daya adaptasi masyarakat dengan kondisi sumberdaya alam yang ada. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa secara kemandirian pangan, kolak merupakan hidangan yang paling berdaulat.

Selanjutnya dalam pandangan ilmu ekonomi, kehadiran pedagang kolak pada setiap Ramadan tentu akan mendongkrak dan menggerakan perekonomian. Perputaran uangnya tak boleh disepelekan. Harga seporsi kolak bervariasi dari 3000 sampai belasan ribu rupiah. Kalau diambil rerata harga per porsi Rp 5.000 dan setiap penjual bisa menjual 50 porsi dalam setiap sore menjelang berbuka, total penjualannya bisa mencapai Rp 250.000 dengan asumsi semua terjual. Ini untuk satu penjual.

Jika di seluruh Indonesia ada setengah juta saja penjual kolak, jumlah uang yang beredar pada seputar penganan kolak ini bisa mencapai Rp 125.000.000.000 setiap hari. Dalam sebulan bisa mencapai Rp 3,75 triliun. Sangat fantastis bukan? Di samping angka nominalnya yang sangat fantastis tersebut, ada lagi efek pengganda yang lebih besar yang mengikuti penganan kolak Ramadan.

Dari kolak Ramadan ini bisa menggerakan roda-roda perekonomian lainnya. Ada serapan bahan baku yang diproduksi oleh para petani. Kelapa untuk santan kolak, pisang, ubi jalar, labu atau pun singkong dan berbagai produk pertanian lainnya. Belum lagi produk penyertanya seperti gula aren atau gula merah dan penyedap rasa atau aroma semacam daun pandan dan kayu manis.

Tak ketinggalan ada jasa pendistribusian atau transportasinya, jasa penggiling-pemarut kelapa dalam pembuatan santan, permintaan plastik kemasan atau cup meningkat, pedagang kelapa, pisang, ubi jalar dan singkong omsetnya juga melonjak. Pedagang elpiji juga kecipratan rezeki dengan aktivitas pembuatan kolak. Khususnya kaum perempuan yang sebelumnya tak banyak punya aktivitas atau pekerjaan tiba-tiba disibukkan dengan proses pembuatan dan penjualan kolak.

Tak pelak lagi Ramadan memang merupakan bulan penuh berkah dan momentum yang tepat untuk memperluas lapangan kerja dan menumbuhkan profesi baru bagi kaum perempuan. Itu baru dari produk kolak, belum terhitung es kelapa muda, es cincau, beragam kue dan gorengan, dan aneka penganan lain yang "membahana" di bulan puasa.

Namun itu semua juga tergantung dari perilaku permintaan atau konsumsi kita. Jika kita enggan membeli dan mengonsumsi kolak dan lebih menyukai hidangan bukan produk lokal, maka rantai-rantai ekonomi rakyat yang telah dibentuk kolak Ramadan semacam ini tak akan bergerak bahkan akan terputus. Semoga tidak seperti itu, dan selamat menikmati (ekonomi) kolak Ramadan!
Junaedi Ketua Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Universitas Darul 'Ulum Jombang

(mmu/mmu)