ADVERTISEMENT

Kolom

Menyambut Kembalinya Mahasiswa di Kota

Iwan Yahya - detikNews
Senin, 11 Apr 2022 12:00 WIB
Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo hentikan aktivitas di kawasan kampus akibat virus Corona. Seperti apa suasana di kampus itu saat tutup sementara?
Foto: Agung Mardika
Jakarta -

Pandemi surut beriringan dengan bergantinya tahun akademik baru. Dalam waktu sangat dekat kampus akan kembali ke geliat rutin tahunan. Membuka gerbang untuk penyambutan. Generasi baru penuntut ilmu dari beragam kalangan, berbagai provinsi, kota dan desa di Tanah Air. Mereka yang terseleksi untuk memulai kehidupan kampus sebagai mahasiswa baru.

Kampus bukanlah semata pihak berkepentingan dalam siklus tahunan itu. Jumlah yang besar memantik untai niaga bernilai besar di kota tujuan. Sebut saja usaha rumah kos, warung makan, kedai kopi, hingga jasa laundry dan potong rambut tumbuh berkembang. Mereka menjadi segmen penting laju putaran ekonomi masyarakat. Lebih dari itu bahkan menjadi ikon dalam citra kota. Seperti citra Yogyakarta sebagai kota pelajar. Pertanyaan yang muncul kemudian apa yang dapat diberikan oleh universitas, pemerintah kota, dan pelaku usaha untuk mereka? Apakah mahasiswa baru itu sepenuhnya aman dalam posisi itu?

Keberagaman budaya dalam dinamika kehidupan kota pelajar laksana memandang Indonesia pada skala kecil. Unik dalam dinamika kompleks. Sangat membutuhkan keselarasan agar tidak terdistorsi oleh usikan yang merusak dinamika itu sendiri. Hal itu masuk akal karena kata mahasiswa dalam perspektif keindonesiaan otomatis menautkan nalar kepada impresi masa depan, letupan energi, intelek, dan semangat pembaharuan.

Untaian kata kunci yang dapat menjadi penguat sajian diskusi dan gelora berprestasi. Namun tentu bukan itu saja. Letupan energi dan karakteristik merespons cepat para jiwa yang penuh semangat itu tak jarang dimanipulasi secara tidak terpuji. Kata kunci yang seharusnya memicu kegemilangan akademik justru dijadikan diksi pembungkus difusi prinsip dan nilai faham terlarang. Menjadi retorika yang disusupkan dalam klaim gerakan pro pembaharuan melawan kezaliman. Tentu tak ketinggalan frasa lain yang maknanya berseberangan dengan esensi kesetaraan, keadilan, dan harapan masa depan yang lebih sejahtera.

Belajar dari kasus di masa lampau, sebaran paham dan aktivitas terlarang di sejumlah kampus tidaklah bersifat instan. Mekanisme kerjanya terstruktur dengan strategi beragam. Ada yang disusupkan ke dalam aktivitas intra kampus, sebagian lagi melalui tautan sosial di luar kampus. Keadaan yang elok tidak dibiarkan membesar. Jika tidak tertangani, maka dapat mendistorsi keselarasan masyarakat yang plural dan bahkan menjadi sebab perpecahan bangsa.

Strategi kendalinya harus bersifat kolektif dalam sinergi universitas, pemerintah kota dan masyarakat termasuk para pelaku usaha. Kebersamaan dalam ikhtiar bukan saja demi rasa aman dan citra kota. Lebih dari itu, merupakan aliansi yang menjadi bagian skema pendidikan bela negara. Tentu saja harus dikemas dengan cara yang benar, sangat maju, sangat mendidik dan kreatif. Menghadirkan kenyamanan sembari menciptakan ruang bagi bertumbuhnya ekonomi kota dalam spirit keindonesiaan.

Tumbuh selaras dari kota hijau

Kesatuan dan keselarasan dalam keberagaman etnik, budaya, bahasa dan keyakinan adalah inti keindonesiaan kita. Saya membayangkan kehidupan para mahasiswa baru itu menjalani hari-hari di tahun pertama mereka sebagai mahasiswa dalam keriangan. Penuh kebersamaan, semangat disertai rasa bangga menjadi bagian sebuah bangsa besar, Indonesia. Terbingkai dalam dinamika kehidupan asrama yang nyaman, sehat, tenteram, membelajarkan dan menguatkan karakter kebangsaan.

Kampus menyediakan seluruh kebutuhan dan fasilitas penunjang belajar. Kamar tidur, sarana ibadah, makan dan minum, air bersih, fasilitas olah raga, rekreasi, layanan kesehatan, internet, kebutuhan sehari-hari hingga transportasi. Masa tinggal setahun penuh itu dirancang bersama oleh universitas dan pemerintah kota dengan dukungan negara. Karena itu saya membayangkan ketentuan wajib tinggal setahun di asrama sebagai amanat peraturan daerah. Bahkan jika perlu ditetapkan dengan ketentuan hukum yang lebih tinggi. Konsekuensinya, pemerintah daerah dengan dukungan negara ikut bertanggung jawab membangun fasilitas asrama beserta infrastruktur penunjangnya.

Saya akan menggunakan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan kota Solo sebagai ilustrasi. Misal saja UNS menerima 6000 mahasiswa baru S1 dan Program Diploma setiap tahun. Itu berarti terdapat kebutuhan 3000 kamar tidur untuk mereka. Atau setidaknya 1500 unit jika diasumsikan satu kamar asrama dihuni oleh empat mahasiswa baru. Jika digabungkan dengan keseluruhan universitas, akademi dan institut yang ada di Solo, maka terdapat kisaran 12000 mahasiswa baru yang harus dilayani setiap tahun. Artinya, beriringan selaras ikhtiar mendidik generasi muda, tercipta ruang untai bisnis pasti.

Saya tidak sedang membincangkan asrama dalam pengertian konvensional. Yang terbayang di benak saya adalah sebuah model kota masa depan. Smart student city (SSC) adalah imajinasi sebuah kota hijau yang seluruh kebutuhan energinya dicatu oleh teknologi energi terbarukan. Bebas polusi dengan dukungan IoT canggih, infrastruktur lengkap bahkan memiliki hall, bioskop dan mall sendiri. Bayangkan potensi ekonomi baru yang dapat ditumbuhkan. Sebuah Kawasan dinamis tempat 12000 mahasiswa baru menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar, beribadah, berprestasi bahkan bermain dalam suasana tenteram sepanjang tahun.

Sebuah bisnis pasti yang bernilai besar. Pemerintah kota menyediakan lahan, universitas, akademi dan institut menghadirkan mahasiswa baru sebagai warga kota. Menjadi paduan paket ucapan selamat datang sempurna bagi investor. Pemerintah pun dapat hadir melalui kementerian terkait membangun fasilitas laboratorium dasar untuk digunakan bersama. Kalangan industri pengembang teknologi transportasi bersih dapat menjadi mitra. Menyediakan wahana untuk transportasi publik sekalian berpromosi.

Lantas bagaimana dampaknya terhadap pelaku usaha di sekitar kampus? Mereka adalah bagian dari strategi penguatan ekonomi kota di level berikutnya. Sebanyak 12000 alumni SSC akan mendatangi mereka di awal tahun kedua. Karena itu pemerintah kota pun harus berkomitmen memperkuat branding dan kualitas layanan mereka.

Bayangkanlah sebuah sistem layanan kependudukan migran canggih yang dikembangkan bersama oleh pemerintah kota dengan universitas. Termasuk aplikasi layanan informasi dan reservasi rumah kos online. Portal resmi yang dikelola bersama pemerintah kota dan asosiasi pelaku usaha rumah kos. Dengan begitu publik dapat memperoleh kemudahan layanan senyaman aplikasi pemesanan hotel online. Bersamaan dengan itu diterbitkan pula regulasi yang mengatur harga dasar dan standar fasilitas yang harus tersedia. Jika untuk hotel dikenal predikat bintang dan melati, maka pemerintah dapat misalnya menggunakan predikat Pena untuk rumah kos. Karena itu semua rumah kos wajib memiliki nomor registrasi di sistem yang dikelola pemerintah kota.

Cara itu dapat menekan persaingan tidak sehat antar pelaku usaha. Dari perspektif layanan kependudukan memberi benefit bagi pemerintah. Setidaknya terdapat basis data yang memuat identitas, daerah asal, kerabat terdekat, bahkan riwayat berpindah alamat mahasiswa dan warga migran. Nilai strategis lain berupa data untuk estimasi penerimaan pajak dari usaha rumah kos.

Bayangkan lagi jika aliansi kampus, pemerintah dan pelaku usaha mengembangkan pula standar kualitas niaga kota sebagai penanda terpercaya. Sebut saja namanya sebagai Solo Quality Label (SQL) yang merupakan bagian integral strategi penguatan ekonomi kota. Di dunia kuliner SQL menjadi laksana bintang Michelin versi lokal. Isyarat bahwa pemerintah kota merekognisi dan menjamin kualitas produk kuliner tersebut.

Keseluruhan uraian di atas merupakan bukti. Betapa kekuatan berimajinasi secara selaras dapat menjadi jalan memunculkan solusi yang membesarkan. Cara untuk membalikkan keadaan. Mengubah potensi bahaya menjadi jalan pertumbuhan. Cara untuk menjadi lebih Indonesia, tenteram dan berkesejahteraan. Ayo!

Iwan Yahya dosen dan peneliti The Iwany Acoustics Research Group (iARG) Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta, founding member Asosiasi Akustik dan Vibrasi Indonesia (AAVI), member Physical Society of Indonesia (PSI)

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT