Analisis Zuhairi Misrawi

Ramadan di Tunisia

Zuhairi Misrawi - detikNews
Jumat, 08 Apr 2022 15:39 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi (Foto: istimewa)
Jakarta -

"Insya Allah, Ramadan kamu lalui dengan penuh keberkahan," ucap salah seorang warga Tunisia kepada saya. Terlihat warga menyambut kehadiran Ramadan dengan penuh suka-cita. Saya pun menyambutnya dengan riang gembira tahun pertama Ramadan di negeri para Waliyullah ini. Meski selalu ada kerinduan suasana Ramadan di Tanah Air, tetapi Ramadan di Tunisia akan memberikan nuansa spiritualitas baru. Ramadan selalu spesial, di mana pun.

Bagi saya, selain nuansa spiritual yang melekat dalam bulan Ramadan, ada makna intelektual yang sangat mendalam. Ramadan menjadi momen intelektual yang sangat produktif dan kreatif. Beberapa karya intelektual saya lahir pada bulan Ramadan, di antaranya Al-Quran Kitab Toleransi dan Mekkah, Madinah, dan Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari. Di samping mengkhatamkan al-Quran, saya juga mampu melahirkan karya tafsir tematik perihal ayat-ayat toleransi di dalam al-Quran.

Maka dari itu, saya pun menyambut Ramadan pertama di Tunisia dengan penuh gegap-gempita. Kebetulan Ramadan bersamaan dengan permulaan musim semi. Cuaca yang bersahabat menjadikan Ramadan tahun ini menyimpan kesan tersendiri. Pengalaman berharga ini akan menjadi catatan bermakna dalam perjalanan hidup saya.

Secara umum, warga Tunisia menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan. Mereka menyambut Ramadan dengan membersihkan rumah dan menghiasinya dengan dekorasi yang khas. Mereka merayakan Ramadan dengan estetika karena Ramadan adalah bulan yang indah dan momen menempa dan memperbaiki diri untuk melahirkan etika. Ramadan menjadi bulan yang akan membentuk kepribadian setiap muslim agar menjadi manusia paripurna, yang tujuannya tercermin dalam akhlak mulia dalam kehidupan mereka.

Warga Tunisia mempersiapkan diri mereka dalam rangka menyambut bulan suci ini. Seminggu sebelum Ramadhan mereka sudah berbelanja untuk keperluan selama sebulan penuh. Pasar dan toko swalayan dipenuhi warga untuk menyediakan seluruh kebutuhan yang diperlukan keluarga hingga larut malam. Menurut data statistik Tunisia, selama Ramadhan konsumsi warga naik hingga 27 persen.

Satu hal yang khas dari bulan Ramadan di Tunisia, ibu-ibu rumah tangga biasanya mengganti peralatan dapur dengan yang baru. Mereka membeli piring dan baskom yang baru sebagai pertanda Ramadan telah tiba. Mereka pun menghiasi meja makan dalam rangka santap buka puasa dan sahur, dan biasanya sanak saudara berdatangan selama bulan Ramadan.

Ramadan di Tunisia menjadi bulan keluarga karena mereka secara umum melakukan sahur dan buka puasa di rumah masing-masing. Jam kerja ditetapkan pemerintah dari pukul 08.00 hingga 15.00. Sejak pukul 16.00 sore hingga malam jalanan di kota Tunis, yang dikenal padat pada hari-hari biasa, terlihat lengang selama bulan Ramadan. Sejak Pukul 16.00, warga Tunisia sudah bersama keluarga untuk berbuka puasa di rumah masing-masing. Restoran dan hotel pun terlihat sepi, tidak ada tradisi buka puasa bersama sebagaimana di Tanah Air.

Setiap rumah menyediakan kue-kue manis, nasi dicampur susu, dan pastinya kurma. Untuk makanan utama, mereka menyediakan kuskusi, makanan khas Tunisia. Yaitu, masakan yang terbuat dari gandum, plus sayur-sayuran dan lauk. Saya pun mulai terbiasa dengan kuskusi, karena menjadi masakan utama bagi warga Tunisia. Jika ada undangan makan, mereka pasti menyediakan kuskusi.

Kegiatan warga Tunisia terlihat kembali saat azan Isya berkumandang, ditandai dengan shalat Isya berjemaah, dan dilanjutkan shalat tarawih di berbagai masjid. Saya melihat langsung suasana tersebut di salah satu masjid bersejarah di kota Tunis, Masjid Zaitunah. Saya juga melihat para mahasiswa Indonesia berbondong-bondong ke masjid tersebut, yang kemudian menjadi tonggak lahirnya Universitas Zaitunah.

Salat Tarawih berlangsung dengan penuh saksama karena setiap malam dibacakan ayat-ayat suci al-Quran dari juz pertama dan dikhatamkan pada hari ke-27. Presiden Tunisia biasanya menyemarakkan khataman al-Quran di Masjid Zaitunah pada tanggal tersebut sembari syiar Lailatul Qadar. Masjid Zaitunah dipenuhi para jemaah, begitu pula Masjid Kairouan. Saya sangat menikmati suasana malam Ramadan di Tunisia karena Salat Tarawih laksana menikmati lantunan ayat-ayat suci dan makna-makna yang terkandung di dalam al-Quran.

Masjid-masjid biasanya menyelenggarakan lomba hafalan al-Quran (musabaqah hifdzil Quran). Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya al-Quran, yang dikenal Nuzulul Quran. Sebab itu, warga Tunisia merayakan Ramadan dengan menggelar lomba hafalan al-Quran sebagai penghormatan terhadap momen Nuzulul Quran.

Selain itu, yang khas dari bulan Ramadan di Tunisia adalah kegiatan-kegiatan kebudayaan yang semarak setelah Salat Tarawih. Tahun ini gedung teater kota Tunis menggelar konser musik dengan menghadirkan para musisi ternama, di antaranya Luthfi Basynak. Saya sendiri mendapat undangan dari pihak penyelenggara kegiatan kebudayaan ini. Saya juga diundang untuk mengikuti konser musik sufi di Kota Hammamat. Tahun ini konser musik sufi mengambil tema "sufi perempuan".

Setelah Salat Tarawih, kafe-kafe mulai terlihat dipenuhi warga. Musik yang dilantunkan di dalam kafe juga bernuansa keagamaan, seperti salawat Nabi dan bacaan kaum sufi. Pada malam hari ke-15 hingga akhir bulan, malam-malam Ramadan terlihat lebih semarak. Konon, pada musim panas biasanya kafe dibuka hingga menjelang sahur.

Saya sendiri sebagai Duta Besar RI untuk Tunisia, selama bulan Ramadan memilih blusukan ke WNI untuk silaturahim sekaligus dialog dan menyerap aspirasi. Saya juga memberikan sembako dan santunan Ramadan. Di samping itu, KBRI Tunis membuat program khusus "Serba-Serbi Tunisia Bersama Gus Dubes" yang disiarkan secara langsung di Youtube Indonesia in Tunis. Saya ingin berbagi kepada publik di Tanah Air perihal peradaban, hubungan bilateral, dan aktivitas para mahasiswa Indonesia di Universitas Zaitunah. Semoga Ramadan membawa keberkahan kepada kita semua.

Zuhairi Misrawi Dubes RI untuk Tunisia

(mmu/mmu)