Kolom

Mencicil Melampaui Tembok Universitas

Iwan Yahya - detikNews
Rabu, 06 Apr 2022 12:48 WIB
Kolomnis Iwan Yahya
Iwan Yahya (Foto: dok. iARG)
Jakarta -

Menempuh kuliah di universitas terkemuka adalah dambaan. Resonan dengan itu, pemerintah menerapkan tiga jalur seleksi masuk universitas negeri. SNMPTN, UTBK- SBMPTN dan Seleksi Mandiri PTN. Ketiganya dirancang untuk memperluas akses calon mahasiswa. Bagi yang tidak lolos di ketiga jalur itu dapat mengambil peluang di universitas swasta. Sungguh kah tidak lagi ada cara lain menuju PTN?

Seleksi merupakan cara universitas untuk menjaring kandidat terbaik. Meski demikian, sukses belajar di universitas tidak ditentukan semata oleh kecakapan awal seseorang. Artinya, universitas elok bertumpu pada asas keadilan dan keselarasan berlogika. Setiap lulusan sekolah menengah atas pada dasarnya memiliki kemampuan intelektual memadai untuk menempuh pendidikan di universitas, karena itu tantangan universitas pasca pandemi adalah menciptakan lompatan kreativitas, menumbuhkan ruang peluang lebih besar bagi setiap warga negara untuk studi dengan keterjangkauan dan selaras kebutuhan.

Pertumbuhan pesat bisnis pembelajaran online di masa pandemi semisal Coursera, Alison, dan Udemy membuktikan bahwa internet menghapus kendala daya tampung. Internet juga menghapus jarak dan kendala geografis. Pandemi telah mendorong tiap universitas berinvestasi membangun infrastruktur penunjang pembelajaran online maupun hybrid. Pemakaian flatform semacam Zoom Cloud Meeting meningkat pesat. Namun demikian, sistem inovasi universitas umumnya tidak cukup tanggap merespons pergeseran dalam interaksi publik. Kala kampus tertatih melawan wabah, internet merebut posisi sebagai pilar utama ekosistem global kesadaran berpengetahuan. Berkembang sebagai ruang bisnis baru. Memicu ledakan kreatifitas dalam cara luar biasa. Bahkan menggeser alasan dan tujuan seseorang untuk belajar. Memunculkan ledakan studi non gelar jangka pendek.

Sejawat saya Dr. Rachmadian Wulandana, seorang pengajar State University of New York (SUNY) di New Paltz, berkisah tentang universitasnya. Akibat pandemi dan inflasi Amerika, pendidikan sarjana tidak lagi menarik. Studi berdurasi pendek dan berkait langsung dengan career path dipandang lebih realistis. Universitas kehilangan pesona sementara bisnis Coursera dan semacamnya justru tumbuh baik. Lantas bagaimana sebaiknya cara universitas merebut kembali minat publik?

Mencicil untuk Melampaui

Menempuh pendidikan tinggi merupakan wujud hak berpengetahuan publik yang dijamin konstitusi. Adapun pemenuhannya adalah ruang peran universitas sebagai manifestasi tridharma. Karenanya sistem inovasi universitas harus berselaras dengan dinamika publik baik lokal maupun global. Kreasi dan sajian pengetahuan serta inovasi harus berjalan fleksibel, maju tanpa melepas sedikit pun keteraturan disiplin akademik dan kaidah keilmuan sebagai ciri utama.

Mutlak tidak lagi cukup dijalankan secara tradisional di mana bangku kampus hanya diisi mahasiswa reguler. Universitas unggulan dalam kelompok PTNBH diharapkan menjadi pelopor migrasi peran. Menjadi panutan lompatan kreativitas berikut.

Bayangkan jika kurikulum sarjana dapat diurai ke dalam wujud modul berdurasi satu tahun, bersifat independen dan tidak sekuensial. Modul pertama dengan beban setara 30 satuan kredit semester (SKS) berisi kemampuan bahasa, wawasan kebangsaan, art, etika akademik, sains dan matematika dasar. Modul kedua berisi dasar-dasar keilmuan setara 40 SKS. Lalu modul ketiga setara 40 SKS berkait dengan pengetahuan aplikatif. Adapun 30 SKS modul keempat berkait dengan metodologi, subyek penunjang riset, scientific writing serta tugas akhir.

Modul-modul tersebut ditawarkan secara fleksibel tanpa pembedaan hak akses berpengetahuan. Artinya, siapa pun pemegang ijazah sekolah menengah dapat mendaftar sebagai peserta. Perkuliahan dan ujian dilaksanakan secara online dalam kesetaraan semua aspek dengan mahasiswa reguler. Universitas kemudian akan menerbitkan sertifikat kelulusan untuk setiap modul yang ditempuh.

Peserta berhak memilih modul sesuai kebutuhan. Sebagai ilustrasi, jika seseorang berniat belajar demi kepentingan kerja, maka dapat mendaftar studi modul ketiga. Lalu jika suatu ketika ia berhasrat memperoleh gelar sarjana, maka dapat secara fleksibel menyusun rencana untuk menyelesaikan tiga modul tersisa. Bayangkan jika program tersebut berjalan serentak pada jejaring universitas yang memiliki standar akreditasi yang sama. Betapa publik merasa dimudahkan untuk menempuh studi.

Akses tanpa batas dan fleksibiltas layanan adalah wujud nyata tindakan pemenuhan hak berpengetahuan publik. Disamping itu berimpak memperkuat sistem inovasi dan ciri keunggulan spesifik program studi. Sebagai contoh, universitas dapat bermitra dengan industri dan asosiasi profesi untuk membangun industrial satellite laboratory. Tautan dinamis yang menyelaraskan kepakaran kampus dengan domain kerja dan standar profesional industri.

Para dosen bersama mitra kerjanya dapat merancang muatan perkuliahan spesifik bersama termasuk sajian modul ketiga. Mahasiswa pun dapat memperoleh manfaat rekognisi pengalaman industri setara 20 SKS seperti dihajatkan dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Sinergi akademisi dan industri seperti itu dapat menjadi cikal penumbuhan kekuatan bisnis universitas dengan bertumpu pada keunggulan inovasinya.

Semua berpulang pada soal energi dan elastisitas sistem inovasi universitas itu sendiri. Sanggupkah bermigrasi melompati pagar paradigma lama, menjadi institusi yang dituju publik sebagai tempat menambatkan asa? Wallahualam.

Iwan Yahya Dosen dan Peneliti The Iwany Acoustics Research Group (iARG), Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta.

(yld/yld)