Mendung Gelap Mayangsari
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Sepanjang hari, Senin (22/5/2006) lalu, Jakarta pekat. Mendung menyelimuti langit, sehingga kota yang masuk kategori paling kotor udaranya di dunia ini, menjadi gelap. Beberapa pekan terakhir kondisi seperti itu sering terjadi, meskipun menurut Ilmu Geografi, sejak April sebetulnya sudah memasuki musim kemarau.Saya yang sedang bekerja di kantor kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan tiba-tiba mendapat pesan dari kawan yang bekerja di kawasan Sudirman. "Apa situ merasakan sesuatu di bawah langit Jakarta yang gelap," bunyi pesan itu dikirim via Yahoo Messenger. "Biasa saja. Mendung, tapi rasanya gak akan hujan," jawab saya."Saya merasakan sesuatu. Mendung kali ini beda dengan mendung biasanya," kata kawan saya yang memang menekuni dunia lain, dunia supranatural. Dia gemar hidup prihatin; puasa, tidak tidur bermalam-malam, biasa dilakukannya.Saat mahasiswa dulu, dia pernah bertutur, sebetulnya dia tak berniat memasuki wilayah itu. Namun, bakat dan pengaruh keluarga sepertinya mengarahkannya. Meski demikian banyak orang tak tahu kalau dia memiliki banyak 'kelebihan' karena penampilannya yang biasa-biasa saja.Kalau saya dan beberapa kawan sering memanfaatkan keahliannya dalam memijit. Kalau cuma sakit kepala, migren, dan sebangsanya, cukup dia tekan kulit kepala dengan jarinya. Kalau stres berat, dia kerjakan pakai kayu congkel. Kami merasakan kemanjurannya.Dari Yogyakarta, kami sama-sama mencari penghidupan di Jakarta pada akhir 1993. Saya jadi wartawan, dia menekuni profesi hukum, jadi konsultan. Tapi sebetulnya kami sama-sama pernah alih profesi. Kerja serabutan. Saya sejak pembredelan 21 Juni 1994, dia sejak kantor konsultannya bangkrut diterpa krismon."Inget gak, suasana Jakarta sebelum Ibu Tien meninggal," katanya. Saya katakan terus terang, lupa. "Suasana Jakarta persis seperti ini: mendung, gelap, tapi gak ada hujan," katanya. "Kamu mau menghubung-hubungkan suasana sebelum Ibu Tien meninggal dengan sakitnya Pak Harto yang kian kritis," tanya saya. "Ya, he he he."Chatting kami via YM berhenti sejenak karena saya harus menyelesaikan pekerjaan. Mungkin dia juga sedang sibuk. Tapi tak sampai setengah jam, dia nge-BUZZ. "Apa?" ketik saya."Ada persamaan yang kedua," katanya. "Persamaan apa?," kata saya. "Itu suasana menjelang meninggalnya Ibu Tien dengan sakitnya Pak Harto sekarang," tulisnya. "Ya, apa?""Inget gak. Beberapa hari sebelum Ibu Tien meninggal, di Jakarta beredar rumor bahwa Tomy dan Bambang bertengkar sengit sampai tembak-tembakan...?" katanya. "Ya, saya inget. Bahkan orang menyebut-nyebut, Ibu Tien meninggal karena serangan jantung akibat shock menyaksikan anaknya berantem," jawab saya. "Persis situasinya seperti hari ini," jawab dia. "Apanya yang persis?" tanya saya. "Tuh lihat berita detikcom-mu. Gara-gara Mayangsari, Bambang digeruduk istri dan anak-anaknya. Bahkan Bambang dibogem mentah anaknya.... Oke. Paham man!""He he he.. Hebat juga ilmu gotak-gatukmu. Jadi, kamu mau bilang Pak Harto sebentar lagi akan meninggal," tanya saya. "Eit, saya tidak bilang seperti itu. Silakan wartawan cari sumber lain yang lebih kompeten he he he," jawabnya. "Sumprit, saya gak bilang seperti itu, silakan wawancara sama malaikat," tegasnya, lantas log out. Keterangan Penulis:Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(/)











































