Kolom

Praktik Ramah Lingkungan dan Infrastruktur Isi Ulang

Ica Wulansari - detikNews
Jumat, 01 Apr 2022 10:17 WIB
Top view of many hands holding different waste, garbage types with recycling sign made of paper in the center over white background. Sorting, recycling waste concept. Horizontal shot. Top view
Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/LanaStock
Jakarta -

Sampah plastik menyumbang 11,6 juta ton terhadap sampah nasional pada 2021 berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kontribusi sampah plastik memberikan tambahan permasalahan karena pengelolaan sampah terpadu yang belum terintegrasi dimulai dari pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, pengelolaan sampah yang berkelanjutan, hingga keterbatasan lokasi akhir pembuangan sampah.

Sementara itu, permasalahan sampah plastik menjadi isu tersendiri dengan adanya ancaman mikroplastik. Sampah plastik yang tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan sampah tersebut mengancam keberadaan biota laut. Residu yang berasal dari limbah plastik menyebabkan partikel sampah plastik menjadi mikroplastik yang tertelan oleh biota laut. Singkatnya, biota laut yang menjadi bagian dari rantai makanan kemudian dikonsumsi oleh manusia. Maka, selanjutnya residu tersebut menimbulkan ancaman dan gangguan kesehatan kepada manusia.

Keterhubungan residu sampah plastik mengancam kualitas kehidupan manusia merupakan dampak yang berasal dari praktik kehidupan modern. Praktik kehidupan modern menyebabkan manusia modern mengikuti logika rasional alias praktik yang efektif dan praktis. Namun, praktik tersebut hanya untuk mendukung gaya hidup instan, tetapi tidak mendukung praktek berkelanjutan dalam jangka panjang.

Manusia modern cenderung konsumtif sehingga pola konsumsi mengikuti kemampuan daya beli yang menunjang gaya hidup praktis. Gaya hidup praktis tersebut disepakati secara ramai-ramai melalui perilaku kolektif berupa konsumsi produk makanan, minuman, maupun kebutuhan sehari-hari. Konsumsi tersebut didukung oleh beredarnya kemasan plastik dan sekali pakai.

Pola konsumsi kolektif yang telah diterapkan dalam jangka waktu yang lama dan serempak menyebabkan ancaman lingkungan hidup yang serius. Maka, kondisi saat ini adalah kondisi keterlanjuran akibat praktik gaya hidup praktis. Apakah kondisi ini dapat diperbaiki? Jawabannya, ada kemungkinan dapat diperbaiki apabila praktik tersebut diubah menjadi praktik ramah lingkungan dan diperkuat oleh kecukupan infrastruktur isi ulang.

Narasi Populer

Praktik ramah lingkungan merupakan narasi populer yang dapat dengan mudah ditemukan di berbagai media sosial saat ini. Kemunculan narasi tersebut berawal dari kesadaran yang sengaja dibangun oleh lembaga formal baik oleh lembaga pemerintahan maupun lembaga non pemerintahan. Narasi tersebut pun banyak disuarakan oleh individu-individu dalam jagat media sosial. Tidak sekadar narasi mengenai ajakan melakukan praktik ramah lingkungan, namun disertai dengan langkah-langkahnya.

Praktik ramah lingkungan ini pada dasarnya diawali dari kesadaran bahwa daya dukung lingkungan hidup semakin terbatas; diperlukan perubahan gaya hidup yang mendukung kebelanjutan lingkungan hidup. Perubahan gaya hidup yang dinarasikan dan dikampanyekan oleh berbagai lembaga formal maupun individu sebagian besar menyasar pada pola konsumsi. Pola konsumsi untuk kehidupan sehari-hari yang umum meliputi makan, minum, maupun kebutuhan rumah tangga.

Kebutuhan rumah tangga meliputi kebutuhan akan sabun mandi, sabun cuci pakaian, sabun cuci piring, maupun kebutuhan rumah tangga lainnya yang menggunakan kemasan plastik sehingga menghasilkan limbah sampah plastik. Pola konsumsi inilah yang menjadi sulit untuk diubah karena alokasi waktu manusia modern cenderung dihabiskan untuk hal-hal pengejaran kebutuhan bertahan hidup yang kian kompleks.

Di sisi lain, pola produksi sebagai tindakan swadaya yang tidak populer karena efisiensi waktu dan uang yang menjadi dasar rasionalitas bagi masyarakat untuk melanjutkan pola konsumtif. Maka, tantangan yang menjadi krusial adalah bagaimana membangun pola konsumtif manusia modern yang lebih bertanggung jawab.

Untuk mengubah pola konsumtif menjadi pola produksi merupakan hal yang kompleks dan membutuhkan waktu yang panjang karena sistem permintaan dan penawaran telah diarahkan kepada sistem konsumsi manusia modern. Sehingga gagasan akan permintaan dan penawaran yang lebih berkelanjutan perlu didukung oleh sistem baru. Namun, apabila sistem yang baru belum memadai, maka ketersedian infrastruktur isi ulang menjadi solusi yang rasional.

Harus Sepaket

Bagi individu-individu yang telah sadar dan mempraktikkan tindakan ramah lingkungan memilih membawa botol minuman, tempat makanan, dan kantong belanja sendiri. Tetapi, hal tersebut tidak dapat berjalan secara maksimal apabila tidak didukung oleh infrastruktur isi ulang. Misalnya, individu-individu yang telah kehabisan cadangan air minum dapat mengisi ulang di tempat-tempat pengisian ulang air minum. Namun, apakah infrastruktur ini telah tersedia?

Negara perlu memberikan aturan dan 'paksaan' bagi kelompok bisnis yang bergerak di industri air minum untuk membangun infrastruktur isi ulang. Sebab, apabila praktik ramah lingkungan hanya menyasar kepada masyarakat umum, sedangkan kelompok bisnis tidak diberikan tanggung jawab untuk menyediakan jasa yang berkelanjutan, maka praktik tersebut akan timpang dan tidak akan maksimal mengurangi sampah plastik.

Kebutuhan manusia modern adalah menggunakan perlengkapan membersihkan tubuh, membersihkan pakaian, dan membersihkan perlengkapan rumah tangga. Maka, penggunaan produk sabun manci, sabun cuci pakaian, cairan pewangi pakaian, sabun cuci piring, hingga cairan pembersih lainnya menjadi produk konsumsi yang penting bagi masyarakat umum. Namun, produsen produk tersebut tidak menyediakan infrastruktur isi ulang produk tersebut. Sehingga, sampah kemasan plastik dan botol plastik akan terus meningkat setiap waktunya.

Maka, praktik ramah lingkungan harus sepaket dengan infrastruktur isi ulang karena narasi praktik ramah lingkungan perlu didukung secara formal baik oleh regulasi dan kehadiran infrastruktur. Apabila narasi ramah lingkungan tidak disertai dengan jalan keluar yang nyata, maka sulit mengharapkan masyarakat untuk mengubah praktiknya. Dan, perlu diingat manusia modern sudah telanjur menikmati gaya hidup instan; untuk mengubah pola konsumsi yang minim limbah diperlukan langkah yang nyata, mudah, dan efisien.

Ica Wulansari pegiat kajian sosial-ekologi, dosen Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Paramadina


(mmu/mmu)