Kolom

Membaca Ambisi Lain Invasi Rusia ke Ukraina

Novita Putri Rudiany - detikNews
Selasa, 29 Mar 2022 14:30 WIB
KHARKIV, UKRAINE - MARCH 28: A man looks at a destroyed building that was hit by a Russian attack approximately two weeks ago on March 28, 2022 in Kharkiv, Ukraine. More than half Kharkivs 1.4 million people have fled the city since Russias invasion on Feb. 24, which was followed by weeks of intense bombardment. Russian forces remain to the citys north and east, but have met heavy resistance from Ukrainian troops here. (Photo by Chris McGrath/Getty Images)
Kondisi kota terbesar kedua di Ukraina usai sebulan digempur Rusia (Foto: Getty Images/Chris McGrath)
Jakarta - Satu bulan berlangsung, konflik Rusia dan Ukraina diprediksi akan lama. Jika dilihat lagi, dari awal rupanya Rusia memang tidak hanya mengincar perbatasan timur Ukrania. Tentara Rusia terus merangsek ke bagian utara dan selatan serta menguasai situs-situs krusial di Ukraina termasuk di dalamnya PLTN Zaporizhzhia. Serangan yang agresif dari Rusia ini menguatkan asumsi skenario sistem energi global yang mengarah pada ambisi pembentukan imperium energi.

Secara singkat, imperium energi mengindikasikan adanya penguasaan yang kuat dari negara kekuatan dominan untuk mengontrol lini pasokan energi mulai dari hulu ke hilir, sehingga muncul ketergantungan dari banyak negara kepadanya. Imperium energi akan menguntungkan Rusia sehingga bisa membuat Eropa terus bergantung padanya dalam konteks ekonomi politik.

Di sisi lain, penguasaan ini cenderung disertai dengan strategi militer sebagai garda terdepan sehingga tentu saja diterjemahkan sebagai ancaman bagi negara-negara Eropa. Dengan kata lain, target imperium ini bukan hanya Ukraina saja, tetapi Eropa secara keseluruhan.

Kontrol Rusia

Rusia paham betul bahwa gaung transisi energi pada akhirnya membuat ketergantungan Eropa kepadanya menjadi semakin kuat. Penguasaan terhadap energi fosil dan energi baru terbarukan akan membuka jalan bagi terbentuknya imperium energi Eropa di bawah kontrol Rusia. Hal ini terlihat dari lini masa serangan Rusia ke Ukraina yang tidak terlepas dari keterkaitannya terhadap pasokan energi ke kawasan Eropa.

Pertama, serangan penuh Moskow dilancarkan pada 24 Februari 2022, saat Eropa sedang mengalami musim dingin. Temperatur harian di beberapa kota di Eropa masih berpotensi turun hingga di bawah 0 derajat C. Tentu saja Eropa kaget, mengingat pasokan gasnya sebagian besar berasal dari Rusia. Kalau Eropa gegabah dan cenderung malah meningkatkan tensi politik, Rusia hanya tinggal menghentikan suplai gasnya.

Melancarkan ancaman untuk menghentikan suplai gas bukan hal yang baru bagi Rusia. Dilemanya ada pada Eropa sendiri karena cadangan energi hanya akan bertahan 6 minggu jika tidak ada cuaca ekstrem. Secara langsung, Rusia menunjukkan kontrolnya di sektor gas alam karena Eropa tidak mungkin bisa mendiversifikasi suplai energinya dalam waktu singkat. Hal ini jelas nampak pada pernyataan Komisi Eropa pada 8 Maret yang menunjukkan Uni Eropa masih sebatas "berusaha" lepas dari gas Rusia sebelum 2030.

Kedua, invasi Rusia yang dimulai dengan menguasai Donetsk dan Luhansk tidak hanya berdasarkan fakta tentang adanya gerakan separatis di dua kawasan ini yang didukung Moskow. Saat kedua Provinsi di Donbas ini sudah ada dalam cengkeraman, Rusia tak perlu payah menggelontorkan jutaan dolar untuk membiayai kelompok separatis. Selain itu, sistem ekspor batu bara bisa diatur ulang untuk menghabisi mafia batu bara yang meraup banyak keuntungan pribadi.

Selama ini, Donetsk dan Luhansk terkenal sebagai kawasan penting industri batu bara di Ukraina. Hingga 2019, tercatat hampir 6 juta ton produksi batu baranya juga sudah diekspor ke berbagai negara setiap tahunnya. Lima importir utama batu bara Donbas adalah Turki, Romania, Belgia, Polandia dan Bulgaria. Eropa boleh saja mengkampanyekan penghentian batu bara, tapi sasaran ekspor dari Donbas menunjukkan sumber energi ini masih diperhitungkan.

Ketiga, target vital lain di Ukraina adalah PLTN. Kali ini, Rusia menegaskan dominasinya melalui strategi senjata energi (energy weapon). Strategi ini sudah umum dilakukan oleh negara produsen energi untuk unjuk gigi. Beberapa pihak menyebutkan bahwa pendudukan Chernobyl pada 26 Februari, merupakan peringatan Rusia agar aliansi negara-negara barat dalam NATO tidak ikut campur secara militer.

Sebenarnya, Chernobyl juga merupakan simbol bagaimana nuklir menjadi proyek ambisius Uni Soviet sejak 1970-an untuk mencapai kedaulatan energi. Rusia dilaporkan telah menghancurkan laboratorium analitik pusatnya. Alih-alih berhenti, Rusia justru menduduki PLTN Zaporizhzhia yang merupakan PLTN terbesar di Eropa dengan 6 reaktor yang lebih aman dan modern. Saat sumber ini dihentikan, Ukraina akan kehilangan 20% pasokan sumber listriknya. Tentu saja ini akan menekan posisi Ukraina dan pendukungnya.

Konsekuensi

Meskipun tampak menguntungkan bagi negara produsen yang dominan, ambisi untuk membangun sebuah imperium energi tentu menyisakan kekhawatiran bagi sistem energi global. Skenario politik energi dengan kecenderungan pembentukan imperium selalu mengarah pada kondisi-kondisi negatif dan pesimis dalam relasi antarnegara.

Pertama, kekacauan pasar energi global muncul saat ada negara yang berambisi mewujudkan imperium energi baik itu di kawasan maupun di level global. Serangan pertama Rusia ke Ukranina pada akhir Februari lalu mengakibatkan harga minyak menembus 100 dolar AS untuk pertama kalinya sejak 2014. Masyarakat internasional menjadi heboh karena meroketnya harga minyak terjadi di tengah tingginya permintaan untuk memenuhi target-target pembangunan nasional di berbagai negara. Negara importir seperti India sibuk mengontrol pasar domestiknya untuk mencegah inflasi.

Kedua, negara besar produsen energi lainnya tentu tidak akan tinggal diam dan mulai berkompetisi untuk menguasai sistem energi. Ini terlihat saat Amerika Serikat menginginkan adanya penerapan sanksi dengan memblok suplai gas dan minyak Rusia. Di sektor minyak bumi, Washington bahkan juga sudah mendekati organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) untuk mengamankan pasokan minyak dan menurunkan harganya. Dengan dalih menghukum Putin, ajakan Biden ini dibuat memihak pada kepentingan global akan kebutuhan suplai minyak yang stabil. Sayangnya, OPEC enggan untuk meningkatkan produksi.

Sementara itu di sektor gas alam, Amerika berbalik menggiring aliansinya untuk turut menanggapi potensi krisis suplai energi. Australia yang berada di timur jauh, sudah menunjukkan kesiapannya untuk memasok LNG ke Eropa apabila Rusia berulah. Bahkan sejak Januari 2022, kesiapan ini ditunjukkan oleh Menteri Sumber Daya Australia Keith Pitt, yang dengan percaya diri mengklaim negaranya adalah pengekspor LNG yang dapat diandalkan. Pada akhirnya, kompetisi ini bisa berujung pada pertarungan kepentingan politik yang dibalut dalam isu energi.

Namun, yang saat ini menjadi perhatian paling utama dari semua dampak tersebut adalah posisi dilematis Eropa sebagai arena pertarungan politik energi. Gertakan Rusia melalui pendudukan PLTN tentunya mempengaruhi kestabilan yang ada di kawasan. Salah langkah sedikit, bayang-bayang perang nuklir bisa semakin nyata. Bagi Eropa, mengikuti ambisi imperium energi oleh Rusia bukanlah penyelesaian, tapi meredamnya juga butuh langkah diplomasi yang strategis.

Novita Putri Rudiany pengamat politik energi global, dosen Hubungan Internasional Universitas Pertamina

(mmu/mmu)