Kolom

Mbak Rara dan Wajah Kearifan Lokal Kita

Krismanto Atamou - detikNews
Senin, 28 Mar 2022 12:10 WIB
Pawang hujan Rara Isti Wulandari melakukan ritual saat hujan mengguyur Pertamina Mandalika International Street Circuit, Lombok Tengah, NTB, Minggu (20/3/2022). Start balapan MotoGP seri Pertamina Grand Prix of Indonesia sempat diundur dari jadwal semula karena cuaca buruk. ANTARA FOTO/Andika Wahyu/foc.
Foto: Andika Wahyu/Antara
Jakarta -

Mbak Rara, sang pawang hujan di sirkuit Mandalika itu menarik perhatian dunia. Kisahnya menjadi trending topic dan menimbulkan kontroversi di masyarakat. Ada yang menyanggah, tapi ada juga yang mengapresiasi.

Sebenarnya praktik-praktik kearifan lokal seperti yang dipertunjukkan Mbak Rara bukanlah hal baru. Praktik memohon kekuatan supranatural alias kekuatan tertinggi tak kasat mata untuk melakukan sesuatu hal sudah berurat akar di masyarakat tradisional Indonesia. Meski sebagian orang menentang karena bertentangan dengan keyakinannya, praktik kearifan lokal supranatural ini terus bertahan dan diwariskan turun-temurun.

Nilai dan praktik kearifan lokal seperti ini dalam perjalanan waktu seolah tertutupi atau sirna karena kehadiran nilai-nilai lainnya. Namun dalam realitanya, nilai ini terus hidup. Contoh nyata ialah dalam hal mengendalikan hujan, Mbak Rara tidak sendiri. Ada banyak daerah lain dengan kearifan lokal yang sama.

Bulan lalu salah satu orangtua tetangga saya meninggal dunia. Saat bergotong royong dengan warga lain menyiapkan kuburan almarhum, spontan saya menyampaikan kepada salah satu tetua untuk menghentikan hujan. Caranya ialah dengan melemparkan salah satu baju bekas almarhum ke atas atap rumah bagian depan.

Sang tetua lalu memerintahkan seseorang untuk melakukan hal yang saya sampaikan. Namun beberapa jam setelah itu, hujan tetap turun sedikit. Saya bertanya pada tetua, apakah hal yang saya sampaikan telah dilaksanakan. Ia menjawab bahwa sudah tapi orang yang diperintah membuang baju di bagian belakang atau atap dapur, makanya hujan tetap turun sedikit.

Membuang baju almarhum ke atap depan rumah untuk menghentikan hujan tentu bukan perbuatan yang rasional. Dan praktik supranatural ini mungkin akan ditentang oleh sebagian orang tertentu, tapi secara praktis, cara ini berhasil.

Sebuah cerpen berjudul Hujan Pertama dari Kampung Kafir yang ditulis oleh Silvester Petara Hurit, pengarang asal Flores Timur, mengisahkan hal yang sama. Dalam cerpen yang terbit di Jawa Pos itu, Silvester mengemukakan kerinduan warga tani untuk mendapatkan hujan. Upaya lewat jalan agama ditempuh, doa-doa dipanjatkan, namun setelah sekian lama, hujan belum juga tiba.

Dalam kondisi itu, ada warga yang teringat kepada ritus tradisi leluhur untuk meminta hujan. Sebelum ritual tersebut dilaksanakan, tuan tanah mengundang seorang kepala sekolah yang beragama dan fanatik untuk ikut hadir. Sebagai penganut agama yang taat, sang kepala sekolah awalnya protes. Namun karena tak mau dicap terlampau fanatik, ia berkonsultasi dengan pemimpin agama lalu menghadiri ritus meminta hujan. Alhasil hujan langsung turun dengan derasnya. Sang Kepala Sekolah melaporkan kepada pemimpin agama dan dijawab bahwa hujan yang turun merupakan jawaban doa kita yang tertunda sekian lama.

Konon dalam sebuah hajatan besar di lapangan mini kota Kalabahi-Alor, sang penyelenggara salah membawa gong yang akan dipukul untuk acara pembukaan. Gong tersebut seyogianya merupakan gong pemanggil hujan. Alhasil, saat ditabuh sekonyong-konyong turun hujan lebat hingga peserta dan penyelenggara berlarian mencari tempat berteduh.

Objek wisata periuk tumbuh di Maipiy-Alor Selatan kini ditutup sementara oleh pemiliknya. Pasalnya, menurut pengakuan sang pemilik, jika pengunjung yang datang tidak "cocok" dengan hawa daerah tersebut, maka hujan lebat akan turun dan menyusahkan warga Maipiy dan sekitarnya. Tahun lalu, saya membawa seorang rekan ke sana, namun tidak diperbolehkan melihat lokasi periuk tumbuh karena alasan tadi.

Saya rasa setiap daerah pasti punya kearifan lokal yang berkaitan dengan pengendalian alam atau cuaca. Yoval Noah Harari dalam bukunya berjudul Sapiens menguraikan bahwa berdasarkan kajian terhadap situs desa tertua di bumi yaitu Gobekli Tepe di Turki, umat manusia sudah mengembangkan sistem kepercayaannya sejak zaman pemburu-pengumpul. Lalu lebih berkembang saat manusia memasuki zaman pertanian dimana kehidupan pertanian bergantung kepada kondisi cuaca (hujan). Tampaknya kondisi kehidupan dan sistem kepercayaan itulah yang kemudian bertumbuh menjadi hubungan transaksional manusia (misalnya melalui sesajen atau ritual) dengan kekuatan adikodrati untuk mendatangkan hujan, dan berhasil.

Sistem kepercayaan yang kemudian disebut kearifan lokal ini telah berurat-akar dalam tatanan masyarakat tradisional. Meski komunitas masyarakat menjadi lebih modern dan sudah beralih ke sistem kepercayaan lain, kearifan lokal seolah masih membayang-bayang di belakang kepala. Dan hanya butuh pemicu untuk menghadirkannya kembali sebagaimana yang saya alami dan dikisahkan dalam cerpen Silvester P. Hurit tadi.

Dalam realitas kearifan lokal, hubungan manusia dengan kekuatan adikodrati kemudian tidak hanya berhubungan dengan kepentingan pertanian semata, tetapi juga berkembang untuk memenuhi berbagai kepentingan lainnya. Dalam konteks Mbak Rara, kepentingannya ialah memperlancar kegiatan lomba balap sepeda motor di sirkuit Mandalika.

Akhir kata, di negara Indonesia yang konstitusinya menjunjung kebebasan beragama dan memeluk kepercayaan (UUD 1945 pasal 29 ayat 2), fenomena Mbak Rara akan menguji tingkat toleransi/ketaatan kita terhadap pasal ini. Masihkah kita menjadi warga negara yang taat kepada konstitusi lalu bertoleransi, atau sebaliknya?

Krismanto Atamou warga Desa Kuimasi, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT

(mmu/mmu)