ADVERTISEMENT

Kolom

MotoGP Mandalika dan "Branding" Budaya Indonesia

Dadan Rizwan Fauzi - detikNews
Jumat, 25 Mar 2022 14:15 WIB
MotoGP Mandalika
Foto: Kemenparekraf
Jakarta -
Saya mau mendedikasikan kemenangan ini untuk Risman, salah satu staf hotel di tempat saya menginap. Dia pria yang sangat baik dan terus memberikan semangat kepada saya. Begitulah ungkapan dari Miguel Olivera, sang juara pertama MotoGP Series Mandalika 2022. Sambutan tersebut seakan menjadi bukti bahwa Indonesia masih menjadi bangsa yang menjunjung adat istiadat, tata krama, dan sopan santun.

Setelah penantian panjang 25 tahun, kini sorot tajam dunia otomotif kembali tertuju pada Indonesia. Ajang bertajuk Pertamina Grand Prix of Indonesia menjadi panggung hiburan paling top di Tanah Air, Minggu (20/2). Seluruh masyarakat Indonesia menikmatinya, termasuk Presiden Jokowi dan pejabat Indonesia lain yang datang langsung ke Pertamina Mandalika International Street Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Meski sempat diperkirakan akan berjalan monoton, nyatanya balapan MotoGP ini berjalan sengit dan menegangkan. Di tengah lintasan yang basah akibat hujan deras sebelum balapan dimulai, para pembalap tetap memacu gas dan memberikan penampilan terbaiknya. Hasilnya, pembalap Red Bull KTM Factory Racing Miguel Oliveira sukses finis di urutan pertama disusul oleh pembalap Yamaha Fabio Quartararo diposisi kedua, dan pembalap Pramac Racing Johann Zarco di posisi ketiga.

Euforia keberhasilan MotoGP Mandalika tidak hanya terjadi di area sirkuit, melainkan menyeruak pula di berbagai platform media. Para riders MotoGP ternama seperti Marc Marques, Fabio Quartararo, Jorge Martin, dan Vinales banyak memuji keindahan budaya Indonesia di media sosial. Bahkan, akun resmi instagram MotoGP mengapresiasi gelaran MotoGP Mandalika dengan caption "a weekend with so many cool moment #indonesianGP". Sebuah pengakuan besar Indonesia di mata dunia.

Paradoks Keberagaman

Sayangnya, hal demikian justru berbeda dengan kondisi dalam negeri. Media sosial dipenuhi dengan pro-kontra seputar pawang hujan. Bagi yang pro, keberhasilan pawang hujan bernama Raden Roro Istiati Wulandari merupakan ikhtiar sekaligus promosi kebudayaan lokal dalam kancah internasional. Sementara bagi pihak kontra, usaha tersebut merupakan hal yang memalukan serta perbuatan syirik karena tidak sesuai dengan syariat agama.

Jika dilihat secara objektif, keberadaan pawang hujan di Indonesia bukanlah fenomena baru. Pada kegiatan besar seperti nikahan, sepakbola, maupun hiburan kerapkali mereka berada di balik layar untuk memindahkan hujan. Bahkan, sebagian kalangan menyebutkan ikhtiar untuk menolak atau memindahkan hujan dapat dikategorikan dalam peristiwa budaya.

Terlepas dari pro kontra yang ada, saling kritik di ruang virtual seakan menjadi ciri khas Indonesia. Segala kebijakan publik dari level regional, nasional, maupun internasional, tak pernah luput dari perdebatan netizen. Akibatnya, laporan Digital Civility Index (DCI) yang dirilis oleh Microsoft pada Februari 2021 lalu menempatkan netizen Indonesia sebagai netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Meski data tersebut masih bisa diperdebatkan, faktanya ekspresi kebebasan yang berlebih kerap kali menjadi pemicu terjadinya perpecahan.
Penting untuk diingat, dalam perjalanan melahirkan Indonesia sampai bertahan hingga saat ini bukanlah sebuah perjalanan yang singkat. Jauh sebelum Indonesia merdeka bangsa kita telah hidup rukun dan tenteram dalam kebersamaan yang bernuansa keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika yang sekarang menjadi semboyan bangsa kita adalah penanda yang sangat jelas, betapa sesungguhnya keberagaman yang ada di Nusantara pada saat itu tak pernah menjadi sebuah persoalan.

Dalam salah satu pidatonya, Sukarno pernah mengingatkan bahwa Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke. Itu artinya, Indonesia saat ini merupakan hasil dari kesadaran filosofi kebhinekaan yang perlu kita rawat dan pertahankan.

Konsep pendirian negara bangsa (nation state) oleh Sukarno tersebut menegaskan asas kesetaraan dalam ketatanegaraan, di mana setiap orang dijamin berkedudukan sama di hadapan hukum. Hal ini menguatkan konsensus pendiri bangsa bahwa Pancasila yang berjiwa inklusif sebagai dasar NKRI. Rumusan final Pancasila merupakan kalimatun sawa atau common platform dalam konteks kebangsaan Indonesia.

Menguatkan Persatuan

Dengan demikian, Moto-GP Mandalika kemarin bukan hanya sebuah gengsi besar yang tanpa makna, melainkan juga pertunjukan sebuah keberhasilan dari pelaksanaan praktik soft diplomacy Indonesia. Di tengah ketidakpastian dunia dalam situasi pemulihan dari pandemi, Indonesia harus muncul sebagai bangsa besar yang mampu menjawab tantangan zaman

Untuk mendapatkan dukungan yang maksimal, diplomasi yang dilakukan pemerintah hendaknya tidak hanya berbasis politik antarnegara (political state to state). Melainkan harus bergeser pada diplomasi satu paket yang melibatkan berbagai unsur masyarakat (civil society). Bisa jadi segala perdebatan yang muncul saat ini disebabkan kurangnya dialog antara pemerintah dan masyarakat.

Di sisi lain, keberhasilan pelaksanaan Asian Games 2018 lalu, serta MotoGP Mandalika kemarin harus dijadikan sebagai modal sosial bahwa Indonesia punya semua sumber daya yang dibutuhkan. Sebab, ajang World Super Bike (WSBK) hingga pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pada November 2022 mendatang menjadi tantangan berikutnya bagaimana Indonesia memainkan peran dalam skala global.

Pada akhirnya, meneguhkan kembali semangat persatuan dalam suasana pandemi saat ini sangat penting bagi kita semua sebagai warga negara. Cita-cita persatuan menjadi hal fundamental yang harus kita pegang di tengah maraknya ideologi transnasional yang anti-Pancasila yang terus menggerogoti sendi NKRI.

Dadan Rizwan mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana UPI

Baca artikel detiknews, "Puasa: Merajut Keadaban Politik" selengkapnya https://news.detik.com/kolom/d-4544174/puasa-merajut-keadaban-politik.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Dadan Rizwan Fauzi mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana UPI

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT