Kolom

Menyeimbangkan Kebutuhan Digital

Joan Damaiko Udu - detikNews
Jumat, 25 Mar 2022 11:00 WIB
Era Digital dan Problem Pasca-Manusia
Joan Damaiko Udu (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Apakah suatu saat kita akan berhenti merindukan kontak tubuh, lalu pertemuan langsung di dunia nyata akan dianggap menjemukan dan membuang-buang waktu?

Era digital telah membuat hampir semua lini kehidupan kita terdigitalisasi. Beragam aktivitas, seperti bekerja, belajar, berbelanja, bertemu kerabat, mengikuti seminar, dan sebagainya kini sudah dapat dilakukan melalui kehadiran jarak jauh (telepresence) lewat mediasi teknologi digital. Perubahan ini mendadak mengubah pola aktivitas, pola relasi, dan pola pendekatan kita terhadap dunia.

Perubahan ini sekaligus menandai kelahiran masyarakat digital (netizen), yang eksistensi dan relasinya sangat ditentukan oleh kesediaannya masuk dan mengikatkan diri dalam sistem digital. Dalam sistem ini, hakikat eksistensi manusia tak lagi melulu dipahami sebagai being-in-the-world, sebagaimana dikatakan Martin Heidegger, tetapi sebagai being-in-the-World-Wide-Web (Kim, 2001: 89). Dengan modus eksistensi baru ini, manusia menikmati suatu cara berada yang canggih: berada 'di sini' dan 'di sana' pada waktu yang sama, sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah Homo sapiens.

Di masa pandemi Covid-19, yang membatasi hampir seluruh mobilitas kita, manfaat cara berada baru tersebut sangat terasa. Selain dapat mencegah eskalasi penyebaran virus, kehadiran jarak jauh lewat mediasi teknologi dapat menjamin efisiensi dan efektivitas waktu ke lokasi dunia nyata.

Ini membuktikan, teknologi mampu mentransformasi manusia sampai-sampai ia berpeluang menciptakan diri kedua dalam kehidupan keduanya di ruang digital (Supelli, 2013: 10). Gejala ini, sebagaimana spekulasi Ernesto Mays Vallenilla (2004), membuka kemungkinan manusia menjadi makhluk pasca-manusia atau meta-manusia, yang tidak lagi dibatasi ruang-waktu objektif.

Kemungkinan tersebut persis terjustifikasi dalam piranti komunikasi digital, seperti skype, zoom meeting, google meet, dan sebagainya, yang efektif membantu kita mengatasi keterbatasan fisik dalam ruang dan waktu. Di depan layar gawai, kita dapat saling memandang dari wajah ke wajah, mendengar suara, dan melihat gerak tubuh lawan bicara kita dalam waktu yang sama. Inilah representasi kemajuan paling mengagumkan di awal abad ini.

Problem

Perjumpaan interpersonal di dunia nyata kini tak lagi dianggap sebagai sesuatu yang mendesak. Perjumpaan maya lebih digandrungi sebab dinilai lebih dapat menghemat waktu, biaya, dan tenaga. Alhasil, kehangatan relasi interpersonal serta kemampuan manusia memberikan perhatian yang penuh kepada sesama di sekitarnya berangsur-angsur hilang.

Meski dapat memperluas ruang-ruang sosial kita, gejala pasca-manusia yang dimungkinkan teknologi komunikasi mutakhir memunculkan fenomena sosial yang baru: manusia makin tumbuh menjadi pertapa-pertapa sosial yang khusyuk, yang selalu merasa perlu menjadi "sendiri" di tengah perjumpaan fisik dengan yang lain. Dalam bahasa Sherry Turkle (2011), orang-orang yang hadir secara fisik dan konkret kini mengalami pauseable (dapat diberhentikan sesaat), seperti ketika kita mendengarkan musik atau menonton rekaman acara di YouTube.

Hal itu nyata ketika seseorang, misalnya, harus mengambil waktu jeda dari acara makan bersama keluarga demi bisa membalas pesan singkat yang masuk di ponsel pintarnya. Atau, yang lebih miris, tak jarang sekelompok anak muda duduk bersama di sebuah kafe, tetapi setiap mereka sibuk dengan aktivitas di gawai masing-masing, tanpa suatu percakapan interpersonal yang hangat. Era digital akhirnya menciptakan barisan makhluk digital yang kehilangan "cengkeraman terbaik" akan dunia konkret dan realitas fisik di sekitarnya.

Maka, lebih dari sekadar problem sosio-kultural, kemungkinan pasca-manusia yang dimediasi teknologi digital telah menjadi suatu problem ontologis, sebab kehadirannya telah mengubah cara manusia mengenali diri, menghayati relasi intersubjektif, dan memaknai hakikat kemanusiaannya sendiri.

Alienasi

Bagi Hubert L. Dreyfus (2009), problem ontologis paling serius yang cukup sering menimpa mayoritas masyarakat digital adalah keterasingan dari diri sendiri dan dunia sekitar. Keranjingan bermedia sosial menyuburkan keterasingan tersebut. Apalagi media sosial cenderung "membingkai" orang untuk selalu menciptakan citra diri ideal dan sempurna, atau sekurang-kurangnya tidak menampilkan anasir negatif tentang dirinya.

Mungkin karena itu jarang sekali kita temukan orang mengumbar kejelekan atau kegagalannya di media sosial. Kelemahan personalnya di dunia nyata ditekan sedemikian rupa, kemudian dilupakan dengan menciptakan profil publik yang sesempurna mungkin di dunia maya. Alih-alih menemukan identitas diri yang sejati, kesibukan di media sosial akhirnya justru membuat orang teralienasi dari dirinya sendiri.

Gejala alienasi diri ini diperburuk oleh kecenderungan masyarakat digital mengomentari segala sesuatu di media sosial, mulai dari isu penting sampai hal-hal remeh. Dengan berbagi komentar, orang hendak memancing kesan, perhatian, simpati, ataupun empati dari orang lain.

Tetapi, problemnya, komentar-komentar di media sosial seringkali dilontarkan berdasarkan impuls, bukan berdasarkan proses refleksi yang matang terkait apa yang dilihat, dirasakan, atau dipikirkan. Karena itu, apa yang orang butuhkan di media sosial sebenarnya bukanlah suatu solidaritas dalam arti yang sejati, melainkan kepuasan batin ketika diperhatikan orang lain. Untuk itu, orang cenderung mencari komentar-komentar yang membuatnya senang dan nyaman, dan sedapat mungkin menghindari komentar-komentar yang membuatnya resah, marah, terluka, kecewa, dan sebagainya.

Padahal, kehidupan konkret manusia di dunia nyata pada dasarnya kompleks dan penuh risiko: tidak selamanya nyaman dan menyenangkan, tetapi juga kadang sedih, kecewa, marah, dan terluka. Menghindari kompleksitas ini hanya akan membuat manusia makin terasing, tidak hanya dari dirinya sendiri, tetapi juga dari realitas dunia aktual yang melingkupinya.

Jalan Tengah

Tentu tak ada yang salah dengan kemajuan teknologi. Meski demikian, fenomena umum yang melanda hampir seluruh masyarakat digital setidaknya menunjukkan, teknologi telah mengubah cara manusia merasa, mengenali diri, serta mengalami dunia. Apabila tidak waspada, manusia dapat kehilangan otentisitas dan otonomi pribadi dalam berhubungan dengan teknologi. Piranti-piranti teknologi akan mendeterminasi hidupnya, membingkai kesadarannya, serta terus-menerus membentuk hasratnya. Akibatnya, manusia terinstrumentalisasi, lalu menjadi apa yang semula ia gunakan sebagai sarana.

Lantas, bagaimana jalan tengahnya? Menolak penggunaan teknologi tentu bukan keputusan yang tepat sekalipun setiap orang memiliki kebebasan eksistensial untuk memilih. Kita hidup di abad teknologi, dan karena itu sudah seharusnya kita menyesuaikan diri, sambil terus-menerus merangkul seluruh paradoksnya.

Jalan tengah terbaik, mengikuti teori keutamaan (arĂȘte) Aristoteles, yakni mengambil posisi paling moderat: kita menggunakan piranti-piranti teknologi secara seimbang sesuai kebutuhan, tidak berlebihan (kecanduan), tetapi juga tidak terlalu kurang (fobia). Dengan keutamaan ini, kita dapat menjaga keseimbangan antara intensitas kesibukan di dunia maya dan keterlibatan aktif di dunia nyata.

Orang yang mampu menjaga keseimbangan akan dapat menjaga kesehatan fisik dan mental, juga dapat menjaga suasana hati (mood), merawat kejernihan berpikir, meningkatkan konsentrasi dan produktivitas, mengasah daya kritis, serta membiasakan diri memeluk seluruh kompleksitas dunia secara berani dan bertanggung jawab. Kondisi ini akan mendorong orang bertolak lebih dalam menuju inti diri dan kemanusiaannya (relasi internal), agar dapat menjalin relasi manusiawi secara mendalam dan mengalami dunia secara lepas bebas (relasi eksternal).

Kedua model relasi tersebut hanya dapat mencapai taraf optimal lewat kebertubuhan dan kontak tubuh, sebab melalui kedua aspek itu, manusia dapat sampai pada apa yang Emmanuel Levinas sebut sebagai "pengalaman etis": menghadapi risiko, mengambil tanggung jawab, memberikan perhatian, memupuk rasa percaya, dan membentuk komitmen moral. Hanya manusia dengan kapasitas mumpuni macam ini yang dapat hidup otentik sekalipun kemajuan era digital membawanya pada kemungkinan pasca-manusia.

Joan Damaiko Udu analis sosial, founder Komodo Wander Fun Tour

(mmu/mmu)