Kolom

"Quality Time" dan Keceriaan Keluarga yang Tersandera

John Hobamatan - detikNews
Jumat, 18 Mar 2022 11:18 WIB
Anak main gadget
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Harus seperti apakah pendidikan untuk anak-anak di rumah dilakukan sehingga mereka merasa "at home"? Apakah waktu dua puluh empat jam sehari itu masih belum cukup untuk mendapatkan quality time yang memungkinkan orangtua dan anak-anak menyatu dalam suasana kasih dan persaudaraan yang terbingkai dalam keutuhan keluarga? Saya ingin menjawab pertanyaan ini dengan mengajak Anda untuk menyimak deskripsi ringkas sebuah video di bawah ini:

Leny, seorang anak berusia sekitar enam tahun dan baru memulai pendidikannya di sebuah sekolah dasar. Ketika malam tiba, Leny ditanya ibunya:

"Leny, di sekolah tadi ibu guru ajar apa Nak?"
"Ibu guru tanya, Leny mau jadi apa ?" jawabnya singkat.
"Lalu Leny jawab mau jadi apa?"
"Leny mau jadi HP Mama."

Ibunya kaget mendengar jawaban itu.
"Mau jadi HP?" tanya ibunya diliputi perasaan heran.
"Iya, Mama. Kalau jadi HP kan Leny selalu dekat sama Mama dan Papa. Kalau Papa tidur, Papa selalu bawa HP. Begitu juga Mama, kalau Leny minta sesuatu mama selalu bilang, sabar dulu, sebentar dulu, karena Mama masih sibuk dengan HP. Kalau Leny jadi HP pasti Leny selalu dekat dengan Papa dan Mama."

Video singkat itu menggambarkan sebuah ironi kehidupan yang menggelikan. Video tersebut menggoda kita untuk menertawai diri sendiri. Ia memberi cermin bagi kita tentang perilaku kolektif dalam keluarga, yang egois, mempersetankan hal apapun di luar diri kita. Terkadang kita tidak menyadari bahwa kebiasaan kita berteknologi adalah memupuk egoisme ekstrem. Sementara pada sisi lain terjadi reduksi dan degradasi hubungan sosial.

Sering kita duduk dalam satu ruangan, tetapi saling membelakangi. Kita tidak diam, tetapi aktif melakukan komunikasi. Tidak dengan istri/suami, anak, atau siapa saja yang duduk di samping kita. Kita justru asyik bercanda, ketawa lepas, bercengkrama dengan orang jauh, yang mungkin tidak kita kenal secara fisik. Kita berselancar dalam ilusi dan bayangan kita. Merasa akrab dengan sapaan-sapaan basa-basi di dunia maya.

Kontroversi kehidupan ini berlanjut dalam berbagai hal. Guru yang mendedikasikan diri untuk masa depan kita bahkan tidak kita kenal sebatas nama saja. Kesejahteraan dan kemudahan mendorong orang untuk melakukan traveling keliling dunia, Kita belajar bahasa untuk bisa berkomunikasi dengan orang asing, tetapi tetangga sendiri hampir tidak kita kenal. Jumlah manusia semakin banyak, tetapi rasa kemanusiaan semakin menipis. Setiap hari selalu ada penambahan teman di dunia maya, tetapi tidak ada sahabat sejati. Belajar semakin mudah, tetapi guru semakin tidak dihargai.

Ilustrasi yang disampaikan pada awal tulisan ini adalah sebuah bentuk nyata pergeseran peran keluarga karena pengaruh teknologi. Perkembangan teknologi dan ancamannya dalam kehidupan kolektif tidak hanya terasa dalam dimensi sosial, ekonomi, dan budaya, tetapi juga kehidupan keluarga. Fenomena sosial kontroversial yang kita hadapi sekarang menjadi paradoks dalam kehidupan yang tidak bisa dihalau.

Quality Time

Pendidikan, fasilitas, kemampuan ekonomi, dorongan keluarga, telah menjadi pranata yang baik bagi pembangunan kualitas sumber daya manusia. Banyak anak yang cerdas mendapat pekerjaan bergengsi dengan penghasilan tinggi. Mereka sukses lebih cepat daripada usia. Namun semua ini tidak menjamin mereka untuk juga sukses membangun keluarga.

Salah satu masalah yang sering dikeluhkan adalah quality time. Mereka merasa waktu untuk keluarga semakin sedikit. Dan yang sedikit itu harus benar bermanfaat bagi keluarga. Waktu menurut saya sebenarnya sangat cukup. Hanya pemanfaatannya terasa kurang. Mata terlalu banyak berselancar di layar handphone (HP) sehingga hal yang lain terabaikan.

Dewasa ini, generasi milenial menjadi topik yang cukup hangat dibicarakan di kalangan masyarakat. Mulai dari segi pendidikan, teknologi, maupun moral dan budaya. Pada umumnya para ahli pendidikan dan psikologi mengklaim bahwa generasi milenial adalah generasi spesial dibandingkan dengan generasi sebelumnya, karena anak-anak sekarang lahir pada zaman teknologi, yang ditandai dengan smartphone, internet, Facebook, Twitter, Whatshapp, Line, dan lain-lain.

Perkembangan teknologi telah memberikan kemudahan kepada setiap anak dalam memperoleh segala informasi, berkomunikasi dan sekaligus menunjang kelancaran aktivitas dalam menyelesaikan tugas-tugas yang ada dengan menggunakan internet dan gadget. Manfaat positif yang diperoleh dari penggunaan gadget adalah mempermudah komunikasi. Teknologi memproduk berbagai alat yang canggih. Semua orang dapat dengan mudah berkomunikasi, membangun kreativitas anak. Namun dampak negatifnya tidak bisa disepelekan.

Pengaruh media sosial terhadap keutuhan rumah tangga juga cukup signifikan. Mulai dari dampak psikologis hingga konflik rumah tangga. Beragam rayuan gombal, penipuan bisnis, hingga fake news, hoax, dan hate speech mampu mengganggu kenyamanan rumah tangga.

Catatan Susanti Agustina (Kompas, 16 Oktober 2021) menunjukkan fenomena menarik tentang angka perceraian keluarga di Bengkulu Selatan pada 2018. Tercatat sekitar 447 kasus. Pemicu perceraian sebagian besar karena media sosial. Status dan komentar romantis, komunikasi sembunyi-sembunyi menjadi pemicu kecemburuan, pertengkaran, dan berujung perceraian. Tren serupa terjadi di Bandung; selama 2018 tercatat ada 4.808 perceraian dan 2.048 di antaranya terjadi akibat aktivitas di media sosial.

Tanpa disadari perkembangan teknologi saat ini telah mempengaruhi perilaku tidak hanya pada anak, tetapi juga orangtua. Quality time yang kita inginkan ternyata tidak untuk membangun keceriaan keluarga. Kita masih tetap asyik dalam kesendirian, sibuk dengan pertemanan imajinatif, dan konstruksi kehidupan teknologis yang kira rajut sendiri.

Rumah yang at Home

Semua ini adalah tantangan. Sebagai keluarga, tugas pertama dan utama adalah menumbuhkan hal yang baik. Hal yang baik itu dapat berupa perilaku, perhatian, menyediakan waktu, agar kebersamaan itu dapat tercipta setiap saat. Perlu ada interaksi yang kita ciptakan secara intensif sehingga anak memiliki kedekatan secara emosional dengan orangtua, dengan sesama saudara di dalam rumah.

Menormalkan kembali kehidupan keluarga yang kita bayangkan lebih ideal dengan menjadikan kehidupan di rumah lebih at home sudah menjadi kesulitan tersendiri. Kita terkadang bertanya, apakah merindukan sebuah suasana kehidupan yang ceria di tengah anggota keluarga yang menebar kasih sayang satu sama lain masih menjadi sebuah keinginan yang normal?

Tugas setiap keluarga adalah menjadikan rumahnya itu at home. Rumah tidak sekadar tempat untuk mendapatkan semua kebutuhan fisik dan biologis. Tetapi rumah adalah tempat nilai-nilai kemanusiaan, moral, etika, dan religiusitas ditumbuhkan. Rumah harus menjadi bahtera yang mengantar kita dalam penziarahan iman, cinta kasih, perilaku sosial melalui contoh, perilaku, dan perbuatan.

John L Hobamatan Direktur Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) HANDAL Kupang

(mmu/mmu)