ADVERTISEMENT

Kolom: Obituarium

Membayangkan Anak Muda Orba Tanpa "Lupus"-nya Hilman Hariwijaya

Wahyudi Akmaliah - detikNews
Kamis, 10 Mar 2022 15:14 WIB
Hilman Hariwijaya, Penulis Lupus, Meninggal Dunia
Hilman Hariwijaya pencipta tokoh Lupus (Foto: HaiBunda)
Jakarta -

Bagi Anda yang lahir pada tahun sekitar 1970-1980-an, pilihan favorit figur dalam kebudayaan urban hanya dua; Catatan Si Boy karya Nasri Cheppy dan Lupus karya Hilman Hariwijaya. Si Boy merepresentasikan anak-anak muda kota yang beranjak kuliah, tajir melintir, ke mana-mana mengendarai mobil sedan, dan sering bepergian ke luar negeri. Figur Si Boy yang ganteng, gagah, dan agak nakal karena suka berantem mencerminkan segelintir kelas menengah ke atas yang berada di Jakarta Selatan.

Sementara itu, Lupus semacam antitesis dari Si Boy. Ia merupakan remaja tanggung anak SMA dan merepresentasikan kebanyakan anak remaja Indonesia. Gayanya memang tampak mencerminkan anak remaja urban; bentuk rambut ada jambulnya dengan buntut belakang mengikut tren salah satu personel grup band Duran Duran dari Inggris dan ciri khas makan permen karet. Lebih jauh, kisah yang berawal dari cerpen yang terbit di Majalah HAI pada 1986 dan kemudian menjadi cerita bersambung serta novel ini memiliki irisan kebanyakan anak-anak remaja Indonesia; mencari kodok malam-malam, bermain ke rumah kosong, kehilangan kunci sepeda saat nonton bola, pekerja keras membantu orangtua, dan postur tubuh yang kurus dengan kebanyakan wajah masyarakat Indonesia.

Lebih jauh, jika diperhatikan, karakter-karakter lain yang dihidupkan oleh Hilman dalam novel Lupus merupakan orang-orang yang tak sempurna, tapi mereka hadir dalam keseharian masyarakat Indonesia; Poppy yang cantik dan pintar tapi kesepian, Gusur berbadan besar tapi berhati lembut karena menyukai dunia sastra, Boim yang berkulit gelap dan rambut keriwil, suka menggoda perempuan tapi selalu memiliki cinta yang kandas, Fifi Alone yang ingin bercita-cita jadi artis dan berpakaian heboh tapi sering mengalami ketidaksambungan antara apa yang diucapkan dan dipikirkan, dan adiknya Lupus, Lulu; centil dan jahil seperti lupus tapi sering gonta-ganti pacar.

Di sisi lain, karakter-karakter dalam cerita Lupus adalah anak-anak remaja yang tumbuh dalam rejim Orde Baru yang memiliki kiblat Barat. Hal ini terlihat dari bagaimana barang-barang baru yang sedang tren digunakan; sepatu Adidas, mendengarkan musik dengan walkman, musik yang lagi ngetren di Eropa-Amerika, dan waralaba rumah makan ala Amerika lainnya. Meskipun demikian, perlawanan-perlawanan kecil diperlihatkan sebagai bentuk ketidakpatuhan kepada "orangtua" rezim Orde Baru, yaitu bersikeras berambut gondrong dengan tren saat itu meskipun dilarang oleh kepala sekolah dan ikutan tawuran. Dua peristiwa ini mencerminkan tentang momentum anti ketertiban yang sedang digalakkan oleh pemerintah Orde Baru. Upaya penertiban ini sebenarnya sudah muncul sejak 1970-an, ketika anak-anak muda Indonesia dilarang gondrong oleh pemerintah melalui razia di jalanan.

Gondrong bagi pemerintah Orba saat itu menandakan bentuk anak-anak berandal; pemberontak dan tidak bisa diatur. Sementara bagi Soeharto, masyarakat dan negara itu layaknya seperti hubungan bapak dan anak. Imajinasi bapak dan anak membayangkan sebuah kepatuhan yang terkontrol sebagai bakti anak kepada orangtua karena telah menafkahinya. Hubungan ini harus harmonis. Apabila tidak harmonis, maka kegoncangan akan terjadi di masyarakat Indonesia. Karena itu, upaya penertiban terus-menerus dilakukan dan struktur komunikasi ke atas selalu dimulai dengan kata-kata, "menurut petunjuk bapak presiden" (Yudhistira, 2010).

Terlepas dari itu, bagi saya, yang tumbuh di pondok pesantren saat membaca karya-karya Hilman, ini merupakan bentuk inspirasi. Inspirasi untuk dekat dengan pujaan hati dengan menyiapkan amunisi humor yang bikin orang yang saya ajak ngobrol menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Saya yakin, bukan hanya saya saja yang mendapatkan amunisi tersebut. Anak-anak muda yang membaca Lupus pasti memiliki bahan cerita yang luas untuk membuat orang tertawa. Hal yang menarik bahan bakar untuk membangun cerita humor ini tidak dibangun dari mengkritik dan menjelekkan orang lain ataupun menertawai diri sendiri, melainkan dari kejadian sehari-hari yang kerap benar-benar dialami oleh kebanyakan anak-anak muda.

Pascarezim Orde Baru, novel-novel Lupus masih hadir dan mengikuti tren yang berkembang di masyarakat. Meskipun demikian, kehadiran teknologi internet dan media sosial memberikan sumber pengetahuan yang beragam. Lambat laun membuat figur Lupus ini hanya tersisa kenangan. Saat film Lupus akan dibuat ulang pada 2012, sempat terbersit oleh Hilman untuk membuat spirit Lupus terus tumbuh pada era milenial. Namun, saat film itu diluncurkan tidak bisa menjadi bagian dari tren baru. Ini karena, karakter Lupus sudah tergantikan dengan sosok Fahri yang soleh dan akhlak yang sempurna dalam visualisasi Ayat-Ayat Cinta karya kang Abid. Pasar populer sedang mengarah ke hal yang terkait dengan moral Islam.

Meskipun demikian, Indonesia harus bersyukur memiliki produk pengetahuan populer sastra melalui karya Lupus. Saya tidak bisa membayangkan, jika karya-karya ini tidak ada, anak-anak muda Indonesia nasibnya akan suram karena membayangkan figur seperti Si Boy; hanya ditonton dan dibayangkan tapi berkali-kali menyadari diri kalau tidak mungkin seperti dia. Pada Rabu (9/3) kemarin, Hilman Hariwijaya meninggal dunia. Kabar itu segera beredar di grup WhatsApp dan media sosial. Jasadnya boleh pergi, tapi karyanya akan selalu hadir, yang menjadi pahala bagi para pembaca setianya.

Wahyudi Akmaliah peneliti di PMB-BRIN, sedang nyantri S3 di Kajian Melayu, National University of Singapore

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT