ADVERTISEMENT

Kolom

Mendorong Konsumsi Pangan Lokal

Munawar Khalil N - detikNews
Rabu, 09 Mar 2022 11:30 WIB
Umbi Goreng PEdas
Inovasi singkong goreng pedas (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Seringkali kita mendengar ujaran "belum kenyang kalau belum makan nasi". Itu merupakan ungkapan yang menunjukkan beras masih menempati kasta tertinggi dalam pangan pokok mayoritas orang Indonesia.

Hal ini juga bisa dilihat pada Pola Pangan Harapan (PPH) 2021 yang menunjukkan komposisi kontribusi energi; beras mengambil porsi hingga 60,3 persen, masih melampaui angka ideal sebesar 50 persen. Sedangkan umbi-umbian hanya menempati porsi 2,3 persen dari angka ideal sebesar 6 persen. Sementara sayuran dan buah 4,9 persen dari porsi ideal 6 persen.

Menaikkan Gengsi

Menaikkan gengsi pangan lokal perlu memperhatikan dua entitas, media sosial dan kaum milenial. Media sosial menjadi sarana yang penting dalam menyampaikan pesan-pesan diversifikasi pangan lokal. Begitu juga dengan keterlibatan kaum milenial dan generasi Z untuk mendorong masyarakat dapat mengonsumsi pangan lokal.

Keterlibatan ini penting mengingat proporsi penduduk produktif usia 15-64 tahun di Indonesia mencapai 70,72% (BPS, 2021). Kelompok ini merupakan pengguna media sosial terbesar dan aktif. Generasi Y dan Z (di bawah 40 tahun) menjadi kelompok usia yang paling banyak mengakses media sosial di antara kelompok usia lainnya.

Internet memberi peluang tak terbatas. Pertarungan dunia maya untuk merebut pengaruh. Yang bertahan adalah yang punya kreativitas. Kreativitas dan inovasi sangat penting untuk menghadirkan pangan lokal yang segar dan menarik.

Akhir 2021 lalu, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian menggelar Kreasi Pangan Lokal Nusantara (KPLN). Lomba ini berhasil menciptakan kreasi menu pangan lokal oleh para milenial dan generasi Z. Unsur tradisionalisme dan modern dipadukan sehingga menghasilkan menu-menu dengan tampilan elegan berbahan dasar pangan lokal.

Saya tertarik dengan ajang lomba masak bergengsi Masterchef Indonesia pada tahun lalu. Di ajang tersebut, salah satu sesi memberi tantangan kepada kontestan terkait bagaimana mengolah makanan dengan bahan yang sudah ditentukan. Tantangan pertama mengolah berbagai jenis beras seperti beras cokelat, beras jagung, beras singkong, beras merah, beras sorgum.

Tantangan kedua memasak bahan dari umbi-umbian seperti talas, uwi, gembili, dan garut. Tidak semua kontestan mengenal bahan pangan tersebut. Ini menjadi indikasi bagaimana pangan lokal di sekitar kita masih belum dikenal luas.

Ini upaya yang baik untuk mengangkat gengsi pangan lokal sebagai pangan yang keren. Dengan menu-menu baik dari sisi rasa dan estetika menjadi nilai lebih yang harus didorong agar masyarakat aware dan tertarik untuk mencobanya. Tidak lupa juga aspek gizi dan kesehatan menjadi perhatian sehingga resep-resep pangan lokal tersebut juga memenuhi unsur gizi seimbang.

Menciptakan Atmosfer Baru

Lingkungan yang mendukung akan memberikan dampak luar biasa dalam perkembangan pangan lokal. Pemerintah perlu mendukung melalui penciptaan atmosfer yang kuat dalam mengusung gerakan diversifikasi pangan lokal ini. Begitu juga dengan seluruh masyarakat, komunitas, dan juga berbagai pihak lainnya.

Sejak pandemi melanda pada awal 2020, Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan terus mendorong upaya diversifikasi pangan dengan fokus pada peningkatan produksi dan pengembangan aksesibilitas pangan lokal sumber karbohidrat non beras seperti singkong, sagu, talas, kentang, jagung, dan pisang.

Peningkatan produksi ini terus didorong dengan memperluas areal pertanaman komoditas pangan lokal tersebut, dan mengonsentrasikan pangan lokal tertentu di wilayah yang memang menjadi sentra produksinya. Sebagai contoh sagu yang dikembangkan di Papua, Maluku, dan Kepulauan Riau yang memang potensi dan sumber daya lokal mendukung.

Arus informasi yang begitu mudah diakses saat ini harus digunakan untuk mendiseminasikan berbagai produk pangan lokal ke masyarakat. Dukungan terhadap UMKM Pangan sangat penting. Sepanjang 2021 BKP Kementan memberikan pendampingan terhadap lebih dari 100 UMKM Pangan Lokal agar masuk ke pasar digital.

Penyediaan akses ini penting untuk memperluas pasar dan membangkitkan minat masyarakat terhadap pangan lokal. Gerai pangan lokal yang dibangun di seluruh Pasar Mitra Tani di berbagai daerah diharapkan menjadi trigger yang akan mendukung terciptanya atmosfer pangan lokal ini.

Munawar Khalil N ASN Kementerian Pertanian

Simak juga 'Harga Bahan Pokok Jelang Ramadhan Naik: Cabai Sampai Minyak Goreng':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT