ADVERTISEMENT

Kolom

Kegembiraan Saja Tidak Cukup!

Reinaldo Giovanni - detikNews
Senin, 07 Mar 2022 21:53 WIB
Shutterstock
Ilustrasi/Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Masa SMP dan SMA merupakan masa yang menggembirakan. Kita bersekolah, bermain, belajar sedikit-sedikit supaya tetap berilmu, dan bermain lagi dan belajar lagi. Sebagian anak pasti merasa lebih banyak bermain daripada belajar. Ada juga yang memilih makan sebagai 'hal menggembirakan'. Hal ini pun yang terjadi pada saya.

Dari kecil hingga SMP kelas 3, saya sangat suka makan. Setelah belajar seharian, pasti perut akan berbunyi dan kepala mulai pusing, dan tak jarang mood akan mulai naik turun. Ketiga gejala tersebut adalah tanda bahwa saya perlu mencari 'hal menggembirakan' supaya mood kembali naik. Solusinya adalah makan, makan, dan makan. Makanan yang paling saya sukai adalah nasi dengan ayam atau nasi dengan sup. Bisa dibilang makanan yang 'cukup sehat' bila dimakan dengan porsi normal. Tetapi sayangnya, saya makan hingga 2-3 porsi sekali makan. Nasi sebakul sudah menjadi kepastian. Alhasil, badan saya makin lama makin berisi dan bisa dibilang gendut.

Kegemaran olahraga saya pun menjadi sia-sia. Setelah berolahraga, badan pasti lemas dan mencari makanan. Dua porsi nasi ayam menjadi 'hal menggembirakan' sehabis keluar keringat. Berat badan pun semakin tidak teratur, tinggi tidak menambah tetapi badan melebar jauh. Bayangkan saja, pada usia 15 tahun, saya hanya memiliki tinggi badan 168 cm dan berat badan menyentuh 90 kg. Dan pada akhirnya, saya dibawa ke dokter dan dinyatakan obesitas. Bagaimana tidak, anak dengan tinggi badan dibilang normal, namun, perut makin buncit.

Suatu saat, saya berada di toilet. Seperti biasa, saya duduk di atas toilet untuk melakukan 'meditasi' sehabis makan, dan tiba-tiba merasakan perut sangat begah, kembung, dan hampir mau meledak. Nafas pun terasa sedikit sesak karena perut seperti kegencet, dan hal ini berlangsung sekitar 5 menit. Saya mencoba mengatur nafas dan memijat perut dengan harapan sakitnya segera hilang. Untungnya, hal itu berhasil. Dari pengalaman ini, saya baru sadar bahwa badan saya terlalu besar, dan saya perlu melakukan perubahan.

Perubahan yang dilakukan memang tidak bisa instan, dan tentunya, hasilnya tidak langsung terlihat. Dimulai sejak saya masuk SMA, hal pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan niat untuk berolahraga dan menjaga pola makan. Awalnya, saya merasa kesulitan untuk menjaga pola makan, karena, ya awalnya dari sekali makan bisa 2-3 porsi dan sehari bisa 2 kali makan, harus diubah porsinya dan jenis makanannya.

Dulu, saya sering sarapan dan makan nasi dengan porsi lauk seperti makan siang. Kemudian, saya ubah dengan hanya minum susu dan berolahraga singkat sebelum mandi seperti sit-up atau push-up. Paling banyak, saya minum susu dan ada telur rebus saja. Ketika istirahat, saya hanya makan buah seperti apel dan jeruk, dan lauk-sayur saja, tanpa nasi. Porsinya pun dibatasi. Memang di bulan pertama membuat saya agak lemas dan pusing, namun, terbiasa di bulan-bulan berikutnya. Sehabis pulang sekolah pun, saya mengikuti program penurunan berat badan di sekolah dengan lari mengelilingi sekolah, sit-up, push-up, dan plank. Kegiatan ekstrakulikuler yang dulu dilakukan seperti bulu tangkis dan voli masih ditekuni, tetapi badan lebih terasa enak dan enteng.

Sesampainya di rumah, saya pun tidak makan nasi juga, hanya makan sayur dan lauk. Hal paling gila yang saya lakukan adalah tidak memakan kulit dari ayam salah satu brand restoran cepat saji ternama: K*C/ M*D. Menyiksa? Sangat menyiksa sekali rasanya, tetapi saya sadar dan selalu terngiang peristiwa dalam toilet. Perubahan pola makan, pembatasan porsi makan, pemilihan makanan, dan olahraga menjadi aktivitas yang rutin dilakukan selama kurang lebih 6 bulan dan berjalan terus hingga sekarang.

Pasti ada penasaran kan dengan perubahan di angka berat badannya? Tenang, saya akan beri tahu. Berat badan saya turun cukup signifikan dari awalnya 90 kg menjadi 58-60 kg. Di awal masuk kuliah, berat badan saya hanya 60 kg, dan saya merasa perlu tambah asupan karena duduk saja agak sakit di bagian bokong. Kemudian, saya pun tetap rutin melakukan lari pagi, bulu tangkis, dan push-up, sit-up. Hingga sekarang berat badan saya pun cukup stabil di angka 65-67 kg dengan tetap menjaga pola makan. Badan pun lebih terasa sehat dan segar. Apakah ada hasil bonus lainnya? Ada, tentu saja, Saya jadi memiliki otot walaupun tidak sering ke tempat fitness ataupun minum minuman berprotein.

Saya bersyukur pada badan saya karena telah memberikan kesadaran dan akhirnya melakukan perubahan. Perubahan memang tidak dalam waktu singkat, perlu minimal 6 bulan dan itu pun tergantung apakah kita konsisten dengan perubahan yang lakukan. Hidup gembira memang bisa menjadi tujuan, tetapi lebih nikmat kalau bisa hidup gembira dengan badan dan jiwa yang sehat!

Reinaldo Giovanni, Pemenang Lomba Karya Tulis Ultra Milk

(ads/ads)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT