Kolom

Menyongsong Tahun Kebudayaan Indonesia-Qatar

Ali Murtado - detikNews
Rabu, 02 Mar 2022 10:40 WIB
ali murtado
Ali Murtadho (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Kerja sama RI-Qatar memasuki babak baru dengan dipilihnya Indonesia sebagai partner country atau negara mitra dalam ajang Qatar Year of Culture 2023.

Setiap tahun pemerintah Qatar menyelenggarakan festival kebudayaan terbesar dan terlama (berlangsung selama setahun) bertajuk Year of Culture (YOC) atau Tahun Kebudayaan. Kegiatan ini diselenggarakan sejak 2012 dengan menggandeng negara mitra. Hanya negara dengan reputasi menonjol di bidang kebudayaan yang mendapat kesempatan sebagai negara mitra. Jepang, India,Turki, Prancis adalah di antara negara yang pernah menjadi partner country YOC. Indonesia adalah negara pertama dari Asia Tenggara yang dipilih Qatar menjadi partner country.

Qatar adalah salah satu negara teluk yang memberi perhatian besar di bidang kebudayaan. Negara ini menyadari betul, jika budaya dapat menjadi kekuatan yang efektif dalam menaikkan leverage mereka di panggung internasional. Salah satu langkah besar yang dilakukan Qatar untuk mempromosikan kebudayaan adalah dengan membentuk Kementerian sendiri yang terpisah dari kementerian olah raga dan kepemudaan, untuk secara khusus mengurusi kebudayaan.

Peluang

Dipilihnya Indonesia sebagai negara mitra Tahun Kebudayaan 2023 paling tidak menunjukkan tiga hal penting. Pertama, Indonesia, diakui Qatar sebagai pemain besar di bidang kebudayaan. Ini juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai negara dengan tingkat kemajemukan yang menonjol di dunia. Jika kita melihat, negara-negara yang pernah dipilih sebagai negara mitra YOC sebelumnya, semuanya adalah negara-negara yang mewarisi kebudayaan tertua di dunia dan kaya akan keberagaman.

Kedua, YOC adalah kesempatan penting untuk menaikkan reputasi positif Indonesia di Timur Tengah. Sukar untuk dibantah jika selama ini Indonesia dikenal di Timur Tengah lebih karena jumlah pekerja migran, khususnya di sektor domestik (seperti pembantu rumah tangga) yang cukup besar. Tentu kehadiran para pekerja domestik tersebut telah membawa kontribusi besar bagi perekonomian di Indonesia. Namun efek dan masalah yang kerap muncul dari pengiriman pekerja domestik yang unprocedural itu juga tidak sedikit.

Memperbaiki citra tersebut perlu waktu dan harus dilakukan dari berbagai penjuru. Selain misalnya dengan mengirim lebih banyak pelajar dan tenaga kerja terampil, cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan melipatgandakan kegiatan promosi budaya Indonesia. YOC adalah kendaraan penting untuk memperkenalkan Indonesia dalam sisi yang lain, tidak hanya sekadar dikenal sebagai negara pemasok pekerja domestik.

Ketiga, YOC harus memiliki efek rembes ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Qatar memang negara kecil, dan secara ukuran pasar mungkin tidak sebesar Arab Saudi atau Uni Emirat Arab. Namun, Qatar adalah hub bagi kegiatan ekonomi dan perdagangan dunia. Negara ini dapat menjadi gateway bagi produk-produk Indonesia untuk menyebar ke seluruh dunia.

Di luar itu, Qatar juga masih merupakan tempat bagi investor kelas dunia. Qatar yang kaya raya perlu dan harus menginvestasikan uangnya di bidang-bidang lain di luar minyak dan gas bumi. Saat ini, Qatar harus dan sedang melakukan diversifikasi besar-besaran sumber pendapatannya. Dengan segala keunggulannya, Indonesia harus menjadi pilihan terbaik bagi para investor Qatar.

Dalam konteks YOC, festival ini tidak hanya akan dilaksanakan di Qatar, tetapi juga di Indonesia. Oleh karena itu, YOC harus dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi investasi di Indonesia. Selama ini, seperti juga terjadi di negara lain, kebanyakan orang Qatar hanya mengenal Bali atau beberapa daerah tertentu di Indonesia. Banyak potensi daerah lain yang belum diketahui oleh para investor Qatar.

Aceh misalnya, menempati tempat istimewa di Qatar. Negeri Serambi Mekah ini ikut berkontribusi dalam menjadikan Qatar kaya raya seperti sekarang ini. Tentu Aceh bukan satu-satunya. Tapi sejarah mencatat, ketika Qatar baru memulai industrialisasi gasnya pada 1990-an, insinyur-insinyur asal Arun, Aceh banyak membantu perusahaan gas di Qatar hingga mereka sukses beroperasi seperti sekarang.

Legacy

Tahun Kebudayaan RI-Qatar akan berlangsung selama setahun penuh pada 2023. Namun, idealnya kerja sama kebudayaan Indonesia-Qatar harus lebih lama dan permanen dari itu. Oleh karena itu, pemerintah harus mulai memikirkan legacy atau warisan yang dapat dilahirkan dari festival ini.

Di antara warisan atau legacy yang dapat digagas ke depan adalah kerja sama di bidang pendidikan. Saat ini menurut data Kementerian Pendidikan Qatar ada sekitar 2063 pelajar Indonesia di Qatar. Sebagian besar dari mereka adalah putra-putri diaspora yang menempuh pendidikan SMP atau SMA di Qatar. Sayangnya, di tingkat universitas jumlah mereka tidak terlalu banyak.

Melalui ajang Tahun Kebudayaan, harapannya Qatar dapat memberikan kesempatan lebih besar kepada pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan di Qatar, dan sebaliknya, semakin banyak mahasiswa Qatar yang tertarik belajar di Indonesia. Di atas semuanya, kita tentu dapat berharap bahwa dipilihnya Indonesia sebagai negara mitra Tahun Kebudayaan akan dapat turut melempangkan jalan bagi kerja sama yang lebih erat di bidang-bidang lain.

Ali Murtado diplomat Indonesia di Doha

Simak juga 'Ada Stadion Unik di Piala Dunia 2022 Qatar':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)