Kolom

Memperkuat Diaspora Indonesia

Abdul Kodir - detikNews
Rabu, 02 Mar 2022 09:10 WIB
Abdul Kodir
Abdul Kodir (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Di sela-sela pengukuhan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang baru terbentuk sekaligus peringatan Harlah NU yang ke-95 (31/1), Presiden Jokowi secara terbuka menyampaikan kepada seluruh kiai dan fungsionaris PBNU untuk memulangkan salah satu warga nahdliyin, Ainun Najib, ke Indonesia. Najib saat ini bekerja sebagai data science di salah satu perusahaan di Singapura.

Bagi publik Indonesia, terutama mereka yang aktif menggunakan media sosial Twitter, Ainun Najib adalah sosok yang tidak asing. Dia merupakan salah satu diaspora Indonesia yang saat ini berkarir di Singapura. Meskipun tidak tinggal di Indonesia, kontribusinya terhadap Indonesia tidak perlu dipertanyakan. Ini bisa dilihat dari inisiatifnya membentuk relawan Kawal Pemilu dan Kawal Covid. Usahanya ini terbukti cukup membantu dalam mengawal proses demokrasi dan tranparansi tata kelola kebijakan Indonesia.

Saya menyadari bahwa keinginan Presiden Jokowi memulangkan Ainun Najib bukan tanpa sebab. Terutama dilihat dari tujuannya untuk membuat platform edutech untuk mengembangkan pendidikan pesantren yang banyak dimiliki oleh NU di berbagai pelosok Nusantara. Namun, barangkali, secara pribadi saya tidak sependapat. Sebab, keinginan tersebut secara langsung akan melemahkan diaspora Indonesia di mancanegara --yang seharusnya saat ini pemerintah memperkuat posisi mereka.

Saya meyakini bahwa jumlah orang Indonesia yang pintar dan ahli pada bidang-bidang tertentu tidak sedikit. Namun mereka yang memiliki kesempatan berkarier pada lembaga atau perusahaan di luar negeri sangat terbatas.

Memaknai Kembali Nasionalisme

Dalam perkembangan dunia yang begitu cepat, kita tidak bisa lagi terkurung dalam satu kredo bahwa kembali dan berkarier di Indonesia adalah bentuk nasionalisme yang sesungguhnya. Bukti nyata bahwa kita cinta terhadap tanah air. Barangkali anggapan ini tidak salah, namun kita perlu memahami kembali dengan pikiran yang sedikit terbuka. Bahwa saat ini, wujud kontribusi terhadap Indonesia tidak perlu harus hadir secara fisik di Indonesia.

Apa yang dilakukan oleh Ainun Najib dengan relawannya, menunjukkan sebuah contoh yang menurut saya bisa mematahkan tafsir nasionalisme sempit tersebut. Dengan menggunakan platform berbasis IT, Ainun Najib tidak perlu hadir secara fisik untuk mendorong relawan terlibat dalam platform Kawal Pemilu dan Kawal Covid. Dengan skill dan resources yang dia miliki, Najib mampu mendorong publik secara luas untuk berpartisipasi secara aktif membantu mengadvokasi kebijakan pemerintah dari bawah.

Oleh karena itu, kita tidak bisa lagi memaknai bahwa nasionalisme itu menuntut kehadiran fisik kita di Indonesia. Menurut saya pemahaman tersebut sudah usang. Dan, argumentasi yang mendukung pemahaman itu akan dengan mudah dipatahkan, terutama karena faktor perkembangan teknologi dan komunikasi.

Belajar dari India

Menurut saya, India menjadi salah satu negara yang bisa dijadikan kiblat untuk memperkuat peran warga Indonesia di mancanegara. Bagi kebanyakan orang Indonesia, India dikenal dari industri filmnya. Nama Shahrukh Khan adalah salah satu artis India yang dikenal publik secara luas. Namun bukan itu yang ingin saya sampaikan di sini, melainkan tentang posisi orang India di antara multinasional korporasi.

Posisi orang India dalam perusahaan-perusahaan multinasional tidak bisa dianggap remeh. Mereka menduduki posisi sebagai top leader, bukan sekadar karyawan biasa. Terutama di perusahaan bidang teknologi. Sebut saja di antaranya Rajeev Suri (CEO Nokia), Satya Narayana Nadella (CEO Microsoft), Sundar Pichai (CEO Google), Shantanu Narayen (CEO Adobe), dan Arvind Krisna (CEO IBM).

Namun pertanyaannya, apakah posisi tersebut hanya dinikmati secara personal oleh orang-orang tersebut tanpa memberi kontribusi terhadap India? Tentu saja jawabannya tidak. Kehadiran para CEO tersebut mendorong perusahaan besar yang dipimpinnya berinvestasi di India. Seperti halnya Google, Amazon, Microsoft, dan beberapa perusahaan teknologi yang lain. Semua memiliki kantor di India, tepatnya di Bangalore.

Bahkan saat ini Tesla sebagai perusahaan mobil listrik asal Amerika juga menunjukkan keinginannya untuk membangun pabrik mobil di India. Tentu saja, alasan pentingnya ialah ekosistem teknologi di India yang terbesar setelah Silicon Valley.

Memperkuat Diaspora

Ketika bertemu dengan para pelajar Indonesia di United Kingdom (UK), saya akan selalu melontarkan pertanyaan di sela-sela obrolan kami, yakni apakah tidak ada niat untuk berkarier di UK saja? Secara jujur, mayoritas dari mereka menjawab ingin berkarier di luar negeri. Namun, karena satu kontrak dari beasiswa pemerintah, mereka dengan terpaksa harus kembali terlebih dahulu ke Tanah Air sesuai dengan kontraknya.

Saya tidak terlalu begitu heran dengan jawaban tersebut. Sebab, beberapa bidang yang saat ini mereka dalami, di Indonesia memang belum sepenuhnya mendukung salah satunya seperti bidang cell dan gene therapy yang mana bidang ini di masa depan akan dapat mengatasi semua penyakit yang berbasis gen/DNA seperti kanker darah, kanker payudara, kanker otak, dan semua jenis penyakit kanker.

Pengobatan atas penyakit tersebut dilakukan secara langsung kepada spesifik sel atau DNA yang bermasalah. Tentu saja, saat ini bidang tersebut baik secara infrastruktur ataupun ekosistem belum tersedia di Indonesia. Alasan lain, sebagian dari mereka ingin menantang diri sendiri untuk bisa survive dan berhasil di negeri orang. Terbukti ada beberapa orang diaspora Indonesia di UK yang memiliki karier cemerlang salah satunya ialah Carina Joe. Seorang ilmuwan perempuan yang berkontribusi terhadap dunia melalui temuan formulanya untuk memproduksi 1,5 miliar vaksin AstraZeneca hingga mendapatkan sebuah penghargaan Pride of Britain di bidang kesehatan dari pemerintah UK.

Melihat fakta demikian, barangkali pemerintah Indonesia perlu memberikan terobosan besar untuk memperkuat jaringan diaspora Indonesia di luar negeri. Salah satunya bisa dilakukan dengan memberikan kesempatan beasiswa yang tidak hanya berupa sekolah, tapi izin untuk berkarier di luar negeri dengan beberapa catatan kontribusi yang bisa diimplementasikan di Indonesia. Semisal kerja sama riset atau kerja sama lainnya untuk mendorong peningkatan iklim investasi, terutama yang dapat menopang sektor yang sangat dibutuhkan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, dan enterpreneur.

Abdul Kodir Department of Sociology, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang

Simak Video 'Momen Jokowi Rayu Ainun Najib untuk Pulang ke RI':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)