ADVERTISEMENT

Kolom

Indeks Rawan Bencana dan Edukasi Kebencanaan

Sehabudin - detikNews
Selasa, 22 Feb 2022 13:00 WIB
Indeks Rawan Bencana dan Edukasi Kebencanaan
Sehabudin (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -
Bencana alam dapat terjadi kapan pun. Bencana alam kadangkala tidak mengenal musim, karenanya beberapa di antaranya tidak dapat diprediksi. Indonesia sendiri termasuk ke dalam salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Terhitung sejak 1 Januari 2021 sampai Desember 2021, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data bencana alam di Indonesia sebanyak 3.092 kejadian.

Ini berarti setiap harinya terjadi sekitar 6 kali bencana alam di Indonesia. Berdasarkan jenisnya, bencana banjir mendominasi sekitar 42 persen dari total seluruh kejadian bencana selama 2021. Selain banjir, terdapat cuaca ekstrem (804 kejadian), bencana longsor (632 kejadian), dan kebakaran hutan (265 kejadian). Sementara bencana lainnya seperti gempa bumi yang terjadi sepanjang 2021 tercatat sebanyak 32 kali, lalu gelombang pasang/abrasi sebanyak 45 kali dan erupsi gunung sebanyak 1 kali.

Dari rentetan bencana yang terjadi di Indonesia sepanjang 2021, tercatat jumlah warga yang terdampak langsung dan mengungsi sebanyak 8.426.609, 665 jiwa di antaranya meninggal dunia. Adapun kerusakan sejumlah fasilitas tercatat sebanyak 142.179 unit rumah, 3.704 fasilitas umum, 509 kantor, dan 438 jembatan.

Meskipun dalam aspek jumlah, bencana alam yang terjadi pada 2021 lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 4.649 kejadian, namun dari aspek jumlah populasi yang meninggal justru meningkat sekitar 76 persen. Selain itu, kenaikan jumlah korban luka-luka dan jumlah sarana umum yang rusak juga meningkat drastis.

Kenyataan ini perlu dicermati dengan seksama. Kita memang tidak bisa sepenuhnya mencegah beberapa jenis bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami, tetapi kita bisa meningkatkan kesiapsiagaan agar jumlah korban dan tingkat kerusakan sarana bisa diminimalkan. Salah satu strategi penting yang menurut saya perlu untuk ditingkatkan ialah dalam hal manajemen kebencanaan terutama didaerah-daerah yang mempunyai riwayat dan tingkat kerawanan bencana alam.

Pemanfaatan IRBI

Manajemen kebencanaan adalah serangkaian kegiatan yang meliputi aspek perencanaan, penanggulangan, hingga tindakan pascabencana. Kegiatan ini meliputi usaha pencegahan, tanggap darurat, mitigasi kesiapsiagaan, hingga tahap pemulihan. Ringkasnya, manajemen kebencanaan adalah rangkaian kesiapan semua pihak yang sadar akan pentingnya menganalisis kebencanaan dalam berbagai aspek. Tetapi yang penting untuk digarisbawahi ialah pada fokus pemetaaanya, yakni harus diarahkan pada daerah yang selama ini dikenal mempunyai riwayat bencana alam nyata.

Ketersediaan data yang secara aktual dirilis dalam Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI) harus dimanfaatkan secara optimal sebagai rujukan bagi pemetaan manajeman kebencanaan berbasis wilayah. Karena kedudukan IRBI secara spesifik digunakan sebagai perangkat analisis kebencanaan yang menunjukkan jejak bencana alam yang telah terjadi dan yang paling menimbulkan kerugian di berbagai wilayah di Indonesia.

Selain itu, IRBI juga dapat digunakan untuk mengukur dan memanfaatkan keuntungan iklim serta sisi lain yang terkait dengan edukasi kebencanaan. Manfaat lainnya ialah untuk membantu mengatur prioritas dalam kebijakan perumusan dan implementasi manajemen kebencanaan. Yang juga perlu kita titikberatkan di sini ialah pentingnya upaya diaspora edukasi peta rawan bencana terhadap masyarakat luas.

Manajemen kebencanaan harus didiasporakan melalui berbagai forum diskusi bersifat lintas sektoral khususnya di daerah dengan kategori indeks bencana tertinggi. Kampus-kampus dan lembaga adat didaerah dengan risiko dan riwayat bencana harus terdidik dengan pengetahuan berbasis manajeman kebencanaan. Bagaimanapun, pengetahuan teknis mengenai kebencanaan mulai dari mitigasi, penanggulangan, dan pemulihan harus disebarluaskan sebagai sesuatu yang penting menyangkut ketahanan multidimensi.

Hal itu juga yang sering saya lakukan dalam beberapa tahun terakhir melalui berbagai kegiatan baik diskusi di berbagai tempat, maupun kegiatan lapangan seperti penanaman pohon bakau di pesisir Banten selatan. Harapannya agar melalui forum diskusi dan kegiatan langsung tersebut, akan ada hasil positif yang menjadi arah penanggulangan bencana ke depan yang merujuk pada indeks dan manajemen kebencanaan.

Edukasi dan Teknologi

Pada dasarnya, apapun bentuk kegiatannya, sisi edukasi harus dikedepankan sebagai langkah awal bagi tumbuhnya kesadaran manajemen kebencanaan di kalangan masyarakat luas. Saya percaya pengetahuan tentang aspek kebencaanan bagi masyarakat luas pada gilirannya akan menjadi salah satu langkah krusial dalam meminimalkan berbagi risiko, baik hilangnya nyawa maupun kerusakan infrastruktur.

Poinnya adalah sejauh mana pemerintah beserta lembaga yang peduli dalam bidang perubahan iklim dan kebencanaan mau turun di tengah masyarakat. Saya kira masyarakat hanya perlu untuk disentuh, diajak berdiskusi untuk bertindak secara nyata khususnya dalam menjaga lingkungan sekitar. Tujuannya tidak lain untuk mencegah terjadinya bencana alam yang dapat diupayakan oleh umat manusia.

Sementara terhadap bencana alam yang tidak dapat diprediksi seperti gempa bumi, perluasan dan pemanfaatan teknologi informasi menjadi penting. Saat ini ada beberapa layanan berbasis teknologi yang dapat dimanfaatkan. Di antaranya seperti Indonesia Tsunami Early Warning System 4.0 (INATEWS) yang berguna untuk mendukung keselamatan dari ancaman bencana gempa serta tsunami. Lalu Geohotspot BMKG 4.0 untuk memantau peringatan dini Karhutla sekaligus memantau peta sebaran kabut asap. Kemudian Info BMKG 4.0 berguna bagi pemberian layanan informasi cuaca secara presisi.

Indonesia juga memiliki perangkat Multi Parameter Radar (MPR) yang mampu memberikan peringatan dini bila terjadi bencana dan dapat dipindahkan sesuai kebutuhan serta membantu dalam perekaman data cuaca. Masyarakat juga dapat mengakses layanan call center secara otomatis, yang memuat laporan statistik mengenai jenis-jenis panggilan darurat yang dijangkau petugas lapangan, sehingga proses analisis keadaan dapat segera dilakukan. Pemanfaatan teknologi untuk kepentingan kebencanaan jelas sangat diperlukan selain sebagai penunjang upaya edukasi di lapangan, juga sebagai realisasi pelaksanaan kegiatan untuk meminimalkan risiko bencana.

Menurut saya upaya yang bersifat terintegrasi (edukasi dan pemanfaatan teknologi) perlu untuk ditingkatkan. Terutama di daerah dengan indeks rawan bencana tinggi seperti halnya di lingkungan tempat saya tinggal di Banten. Terlebih provinsi Banten sendiri masuk ke dalam wilayah dengan kategori daftar IRBI dengan skor 154,87. Indeks yang dirilis oleh IRBI itu menempatkan Banten sebagai daerah kelas risiko ke-7 se-Indonesia dan tertinggi di Pulau Jawa.

Bila pemerintah dalam hal ini Kementerian Sosial telah menciptakan lumbung sosial atau buffer stock sebagai tempat penyimpanan persediaan barang kesiapsiagaan penanggulangan bencana, maka lembaga di luar pemerintah yang berkonsentrasi terhadap urusan kebencanaan perlu menegakkan lumbung edukasi kebencanaan untuk masyarakat luas.

Hal-hal menyangkut bencana alam harus menjadi pengetahuan dasar dan umum bagi masyarakat kita. Membangun kesadaran melalui edukasi pada gilirannya dapat meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus dalam rangka kesiapan menghadapi bencana yang tidak terduga.

Sehabudin Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Provinsi Banten

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT