Mimbar Mahasiswa

"K-beauty" dan Standar Kecantikan Perempuan

Dieffa Firstly Fatimah - detikNews
Jumat, 18 Feb 2022 14:30 WIB
Rear-view shot of a beautiful Indonesian woman washing her face using beauty cleanser soap. Shes looking at her reflection in the mirror while thoroughly rubbing her face.
Foto ilustrasi: Getty Images/Kanawa_Studio
Jakarta -

Korea Selatan berhasil membius masyarakat di penjuru dunia, tidak terkecuali di Indonesia dengan beragam kebudayaannya. Hal ini yang di mana disebut sebagai Korean Wave. Terdapat berbagai aspek budaya dalam Korean Wave yang salah satunya adalah K-beauty. Dari dulu hingga kini, K-beauty tidak pernah gagal dalam menarik perhatian masyarakat, terutama kaum hawa. Berkembangnya K-beauty di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh aspek-aspek lain dari Korean Wave seperti K-pop serta K-drama.

Selain kedua aspek di atas, maraknya penggunaan media sosial turut menyumbang alasan mengapa tren kecantikan ala Korea Selatan dapat dengan mudah berkembang di Indonesia. Perempuan-perempuan di Korea Selatan, apabila ingin dikatakan cantik, mereka harus memenuhi beberapa aturan standar kecantikan yang telah dikonstruksi oleh masyarakat seperti kulit putih, tampilan wajah mulus tanpa noda, wajah tirus dengan dagu berbentuk seperti huruf V, badan langsing tanpa lemak, dan lain-lain.

Aturan mengenai standar kecantikan tersebut turut berdampak pada persepsi yang dibentuk oleh masyarakat, terutama kaum hawa di Indonesia dalam memandang definisi 'cantik' pada perempuan. Pertanyaannya, mengapa hal tersebut dapat terjadi? Penyebab pertama adalah masuknya K-pop serta K-drama ke Indonesia. Dua aspek tersebut masih menjadi puncak teratas konsumsi hiburan masyarakat di Indonesia hingga saat ini. Deretan idola K-pop serta para pemain drama Korea dengan tampilan fisik yang sempurna menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemarnya.

Daya tarik tersebut akhirnya timbul menjadi keinginan untuk memiliki penampilan yang seperti para idolanya tersebut. Dari hal itu, berbagai cara dilakukan, seperti dengan menggunakan rangkaian produk kecantikan yang memiliki klaim memutihkan secara instan, mengikuti tren make-up dari artis Korea, dan bahkan ada yang melakukan diet ekstrem hingga melakukan perubahan pada wajahnya dengan berbagai metode kecantikan yang telah bertebaran di pasaran.

Standar kecantikan tersebut juga berdampak pada penggunaan produk make-up yang digunakan, seperti karena ingin memiliki kulit putih akhirnya banyak perempuan yang memilih produk make-up yang tidak sesuai dengan tone warna kulit sehingga hal ini berakibat pada perbedaan warna kulit di antara wajah dengan leher serta tangan atau tampilan wajah yang terlihat berwarna abu-abu.

Sering melihat produk-produk perawatan kulit yang mengandung bahan berbahaya yang diciduk oleh pihak kepolisian? Nah, munculnya berbagai produk perawatan kulit yang menawarkan hasil tampilan wajah putih serta mulus tanpa noda, tetapi dengan menggunakan bahan berbahaya juga merupakan akibat dari adanya standar kecantikan yang telah dibentuk oleh masyarakat di Indonesia; hal tersebut tidak terlepas dari Korea Selatan sebagai referensinya.

Metode Kecantikan

Tampilan idola dan artis drama Korea dengan wajah tirus serta dagu berbentuk seperti huruf V masih menjadi idaman para perempuan di Indonesia. Keinginan untuk memiliki wajah seperti itu berakibat pada menggunakan metode kecantikan yang bertebaran di pasaran, seperti melakukan metode filler, botox, atau bahkan sampai kepada metode operasi plastik.

Selain itu, banyak dari idola atau artis Korea yang membagikan tips diet dengan efek menurunkan berat badan dengan cepat, seperti penyanyi IU yang melakukan diet hanya dengan makan satu buah apel pada pagi hari, siang harinya hanya mengonsumsi satu buah ubi, serta minum protein shake pada malam hari. Efeknya, IU dapat menurunkan berat badan hingga 8 sampai 10 kg hanya dalam waktu seminggu.

Melihat hasil yang diperlihatkan oleh IU, yakni tampilan bentuk tubuh yang ideal, hal ini dapat menjadi referensi bagi kaum perempuan di Indonesia dan berujung pada mengikuti diet ekstrem tersebut. Namun, dari kita tidak pernah memperhatikan efek samping yang ditimbulkan. Selain itu, apabila ada teman kita yang memiliki tampilan fisik yang sesuai dengan apa yang dibentuk oleh masyarakat saat ini, akibat dari adanya tren K-beauty, akan memperoleh like atau komentar positif yang lebih banyak.

Dari hal itu, berakibat pada, perempuan lain menginginkan tampilan yang serupa dengan tujuan mengejar like serta komentar positif di media sosial. Berbagai cara dilakukan, salah satunya dengan menggunakan filter foto yang beredar di aplikasi gawai agar dapat memberi tampilan yang sempurna, seperti wajah tirus dengan dagu berbentuk seperti huruf V, hidung mancung, dan kulit putih.

Berdasarkan konsep hiperrealitas Jean Baudrillard, masyarakat, dalam hal ini perempuan, tingkat kesadaran mereka semakin mengalami penurunan dalam melihat apa yang "real" akibat dari apa yang telah dikonstruksikan oleh masyarakat perihal standar kecantikan dalam media sosial. Menurut Baudrillard, citra lebih meyakinkan daripada realitas atau fakta yang sebenarnya dan bahkan menjadi model referensi baru bagi masyarakat.

Standar Baru

Tren K-beauty yang telah membius perempuan-perempuan di Indonesia menimbulkan standar kecantikan baru. Perkembangan K-beauty tersebut berakibat pada perempuan-perempuan di Indonesia akan terbayang-bayang apabila tampilan fisiknya tidak sesuai dengan tren kecantikan saat ini. Hal tersebut, berujung pada penggunaan filter foto yang dapat memberikan kesan 'cantik' seperti artis Korea Selatan; hal tersebut tidak merepresentasikan dirinya yang sebenarnya.

Penggunaan filter foto yang terus-menerus dengan maksud untuk menunjang penampilan seperti apa yang telah dikonstruksikan oleh masyarakat akibat adanya tren K-beauty tersebut berdampak pada penurunan tingkat kepercayaan diri perempuan dalam melihat seperti apa diri mereka dalam kehidupan nyata.

Selain filter, demi mengikuti tren kecantikan ala Korea tersebut, perempuan rela untuk menggunakan produk make-up yang tidak sesuai warna kulit demi tampilan kulit putih ketika berswafoto. Jean Baudrillard melihat bahwa kenyataan saat ini telah digantikan oleh foto palsu yang berakibat pada individu tidak bisa membedakan antara yang nyata dengan yang tidak nyata.

Dieffa Firstly Fatimah mahasiswa Sosiologi FISIP UMM

(mmu/mmu)