Kolom

Memikirkan Kembali Obesitas

Rolla Destarina - detikNews
Jumat, 18 Feb 2022 13:56 WIB
Logo Hari Gizi Nasional 2022 mengusung tema Stunting dan Obesitas.
Foto: dok Kemenkes
Jakarta -
Beberapa waktu lalu saya kedatangan pasien kecil berusia dua tahun yang lucu. Ia berjalan sendiri didampingi ibunya dengan penuh semangat meski tampak sedikit ngos-ngosan. Kedatangan anak itu tidak lain karena rujukan dari bidan Puskesmas untuk melakukan konseling mengenai masalah gizi. Yang pertama kali saya lakukan adalah menimbang berat, dan mengukur tinggi badannya.

Ya, berat dan tinggi badan menjadi salah satu indikator untuk menentukan masalah gizi apa yang sedang dialami seseorang. Kesimpulan mengenai masalah gizi yang dialami seseorang balita bisa dilihat dengan membandingkan antara berat badan menurut umur, yang para ahli gizi menyebutnya BB/U, serta dilihat dari berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) yang berada pada standar deviasi tertentu. Berdasarkan dari hasil pengukuran antropometri tersebut, saya menyimpulkan bahwa status gizi anak itu berada di Standar Deviasi +3SD yang berarti bahwa anak itu mengalami masalah gizi berlebih atau obesitas.

Guna memudahkan penyampaian kepada ibunya bahwa anaknya memiliki berat badan berlebih, saya menunjuk pada pita Kartu Menuju Sehat (KMS) yang ada di buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dengan memberi titik pada kolom usia dan berat badan. Setelah menarik pita berat badan yang sesuai dengan usia, titik yang dapat diamati pada KMS anak tersebut sudah berada di luar pita yang paling atas. Lewat gambaran dari KMS itulah, saya mulai menjelaskan keadaan status gizi anaknya.

Dari penjelasan tersebut, ibu dari anak itu tidak merasa dan menyadari bahwa anaknya memiliki masalah gizi lebih karena beranggapan bahwa anaknya masih aktif, telihat sehat dan perkembangannya masih baik sesuai dengan usianya. Tidak hanya orangtuanya, orang awam pun bisa melihat anak perempuan ini tidak memiliki masalah gizi yang memerlukan suatu tindakan. Masalah gizi yang biasa menjadi sorotan pada usia balita cenderung seputar gizi kurang, gizi buruk, atau stunting yang disebabkan dengan asupan makan yang kurang.

Seperti yang kita tahu dan banyak mendengar dari keluhan ibu-ibu balita bahwa tidak sedikit anak balita yang mengalami sulit makan, suka memilih-milih makanan, GTM (Gerakan Tutup Mulut) yang menyebabkan asupannya menjadi sedikit lalu menimbulkan masalah gizi kurang, baik itu kronis atau akut.

Jangan sampai juga kita lengah bahwa saat ini kita sedang dihadapi dengan tiga beban masalah gizi yaitu stunting, wasting (gizi kurang/kurus), dan obesitas. Balita obesitas memang presentasenya lebih sedikit daripada masalah gizi balita yang sering kita jumpai. Namun, berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) bahwa adanya peningkatan presentase balita obesitas pada 2021. Sehingga, bukan berarti masalah obesitas ini lantas kita abaikan begitu saja.

Memang benar, usia balita sampai dengan usia anak adalah masa ketika pertumbuhannya masih berkembang dengan pesat sehingga asupan makanan perlu sangat diperhatikan, namun tetap tidak boleh berlebihan dan harus sesuai dengan kebutuhannya. Asupan makanan yang tidak seimbang merupakan penyebab utama kejadian obesitas pada Balita seperti makan yang tidak teratur, konsumsi makanan camilan yang mengandung gula tinggi, konsumsi junk food, kurang asupan buah dan sayur, serta pemberian susu yang berlebihan.

Selain dari aspek asupan, pola asuh yang akhir-akhir ini banyak kita jumpai yakni kurangnya aktivitas fisik anak yang disebabkan karena orangtua lebih suka membiarkan anaknya anteng dengan cara memberikannya gadget atau membiarkannya menonton televisi terlalu lama. Faktor lingkungan dan asupan memang memiliki presentase lebih pada kejadian obesitas, tetapi obesitas dalam riwayat keluarga juga menjadi faktor yang harus diwaspadai agar generasi selanjutnya tidak mengalaminya.

Oleh karena itu, perlu kita ingat bahwa obesitas merupakan salah satu masalah gizi yang perlu penanganan khusus agar tidak menimbulkan masalah kesehatan lainnya pada kemudian hari. Obesitas pada masa pertumbuhan bukan berarti tidak menimbulkan dampak serius. Anak-anak yang kelebihan berat badan dan obesitas cenderung tetap akan obesitas hingga dewasa, dan lebih mungkin mengembangkan penyakit tidak menular seperti diabetes atau penyakit kardiovaskular pada usia yang lebih muda jika tidak ada tindakan sedini mungkin.

Banyak kondisi komorbid seperti gangguan metabolisme, kardiovaskular, ortopedi, neurologis, hati, paru, dan ginjal juga berhubungan dengan obesitas pada masa kanak-kanak. Selain dampak terhadap kesehatan fisik, kegemukan pada masa kanak-kanak juga memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan psikologis dan sosialnya. Sehingga dapat mempengaruhi kesejahteraan emosional anak serta juga berdampak pada harga dirinya. Hal ini secara tidak langsung juga akan berkaitan dengan kinerja akademik yang kurang baik atau bahkan juga berpotensi memiliki kualitas hidup yang lebih rendah.

Jika kita bisa berfokus pada faktor penyebab kejadian, maka masalah obesitas pada anak yang terus berkembang akhir-akhir ini masih bisa diperlambat. Kesadaran intervensi kombinasi diet atau asupan makanan seimbang yang diterapkan oleh orangtua memiliki peran dalam menekan kasus. Menerapkan gaya hidup sehat di rumah seperti mengenalkan sayur dan buah, termasuk bagaimana agar anak tetap bisa memilih makanan yang tepat sehingga akhirnya akan dapat membiasakan dan meluas ke aspek lainnya di kehidupan mereka.

Membiasakan anak untuk tetap memilih makanan sehat yang beraneka ragam juga akan mempengaruhi anak-anak terhadap pilihan makanan yang akan dikonsumsi di sekolah ataupun restoran. Selain itu, perlunya orangtua menemani anak untuk beraktivitas fisik atau bisa juga dengan mengajaknya berolahraga rutin bersama atau bahkan menjadikan kegiatan olahraga menjadi suatu kebutuhan layaknya makan dan minum bisa efektif untuk mencegah kelebihan berat badan.

Berfokus pada penyebab ini, seiring waktu kita dapat mengurangi prevalensi obesitas pada masa kanak-kanak dan juga dapat mengarah pada masyarakat yang lebih sehat secara keseluruhan. Sesuai dengan tema Hari Gizi Nasional 2022 --yang diperingati pada 25 Januari lalu-- kita perlu menggalakkan aksi bersama untuk mencegah stunting dan obesitas agar Indonesia memiliki generasi sehat yang produktif memajukan bangsa pada kemudian hari.

Rolla Destarina nutrisionis, tinggal di Yogyakarta

(mmu/mmu)