Kolom

Gus Baha, Pesantren, dan Khitah Moderasi

Mohammad Sholihul Wafi - detikNews
Jumat, 18 Feb 2022 10:44 WIB
Menikmati Islamnya Gus Baha
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha
Jakarta -

Pembicaraan ihwal dakwah dan pesantren dalam membangun moderasi beragama di Indonesia tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran sentral ulama sekaligus pengasuh pesantren. Salah satu ulama pesantren yang trending saat ini dengan konsep dakwah Islam moderat ialah KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha. Ia adalah guru semua kalangan yang ingin belajar Islam secara santai, menyejukkan serta penuh kasih sayang kepada sesama namun tetap menjunjung aspek komprehensif dan lugas. Tidak ada marah-marah. Beragama terasa begitu ringan ketika Gus Baha yang menjelaskannya.

Kehadiran Gus Baha sebagai representasi kiai-kiai pesantren seperti oase bagi pendidikan moderasi beragama di Indonesia. Hal ini karena kini banyak ulama atau tokoh-tokoh agama yang menyerukan agar umat Islam menjalankan syariat secara kaffah, namun mudah sekali melabeli 'kafir' atau sesat bagi yang tidak melakukannya. Ironisnya, konsep dakwah yang radikal yang berkebalikan dengan prinsip moderasi beragama tersebut kini bahkan mulai tumbuh di pesantren.

Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (2022) menyebutkan, terdapat 198 pesantren terpapar ideologi radikalisme dan terorisme: 11 pesantren terafiliasi dengan jaringan organisasi teroris Jamaah Anshorut Khilafah (JAK), 68 pesantren terafiliasi dengan Jemaah Islamiyah (JI), dan 119 pesantren terafiliasi dengan Anshorut Daulah atau simpatisan ISIS.

Khitah Moderasi

Dalam tradisi pesantren, prinsip pendidikan dan dakwah yang diterapkan ialah menegakkan lima maqashid syari'ah (tujuan-tujuan primer syariat Islam): menjaga agama (ḥifḍ ad-dîn), menjaga jiwa (ḥifḍ an-nafs), menjaga akal (ḥifḍal-'aql), menjaga keturunan (ḥifḍ an-nasl), menjaga harta (ḥifḍ al-mal), dan menjaga kehormatan (ḥifḍ al-'irḍ). Artinya, kultur dan dakwah yang hidup di bilik-bilik pesantren ialah paham yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.

Maka itu, menjadi moderat ialah keniscayaan orang-orang pesantren. Pesantren bukan tempat untuk mencetak teroris dan orang-orang radikal. Pesantren ialah tempat untuk mencetak insan religius dan menjunjung tinggi harkat kemanusiaan dan semangat kebangsaan. Salah satu prinsip yang selalu dijunjung tinggi dalam penerapan kaidah fikih di pesantren ialah dar'u al mafaasid muqaddamun 'alaa jalbi al-mashaalih (mencegah kerusakan lebih didahulukan daripada menciptakan kebaikan). Jadi, pendidikan khas pesantren sejatinya menekankan aspek harmoni dan menjadi pribadi penyayang kepada sesama.

Pendidikan karakter di pesantren terbangun dari tiga nilai, yaitu persaudaraan sesama muslim (ukhuwah Islamiyah), antarsesama anak bangsa (ukhuwah wathaniyah), dan antarsesama manusia (ukhuwah insaniyah). Karena kehidupan santri yang sama-sama jauh dari sanak famili, membuka mata mereka bahwa hidup itu saling membutuhkan (zoon politicon) sekalipun mereka berasal dari beragam wilayah di nusantara. Bukan saling menteror satu sama lain serta menyulut pertikaian antarsesama.

Maka itu, sangat jarang bahkan tidak pernah terjadi tindak kriminal dan tawuran antarsantri. Di sisi lain, bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa santri yang menempuh pendidikan selama 24 jam ditanamkan kepedulian sosial yang tinggi. Seperti, membawa teman yang sakit ke klinik, bersih-bersih bersama (tandziful 'am), pelaksanaan shalat berjemaah dan lain-lain.

Figur Otoritas

Di lingkungan pesantren, kiai merupakan figur otoritas dalam membangun karakter santri. Lickona (1992), seorang psikolog terkemuka meyakini, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Artinya, orang yang memiliki karakter positif (baik) mesti memiliki pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan kebaikan. Hanya, moral knowing yang bersifat kognitif ini belum mampu menghantarkan mereka memiliki moral feeling dan moral behavior. Tumbuhnya motivasi berbuat baik memerlukan teladan nyata orang-orang sekitarnya, terutama dari figur otoritas.

Dalam konteks tersebut, Gus Baha sungguh layak dijadikan figur otoritas atau role model untuk memberikan uswatun hasanah (teladan baik) dalam membangun iklim pesantren yang menjunjung tinggi moderasi beragama. Agar, citra pesantren yang menyukai persaudaraan daripada permusuhan dan maslahat daripada madarat dapat dikembalikan lagi. KH. Abdul Ghofur Maimoen (Gus Ghofur) menyebut Gus Baha sebagai ulama unik yang bertipe seperti sahabat Abu Bakar As-Siddiq di zaman sekarang. Sosok Abu Bakar ini selalu memandang sesamanya dengan penuh kasih sayang.

Jadi, semestinya pesantren lebih fokus lagi dalam membangun corak khas pendidikan Islam yang rahmatan lil' aalamin. Agar, tidak ada lagi ideologi radikalisme dan terorisme yang menyusup dan berkembang subur di bilik-bilik pesantren. Untuk itu, menjadikan ulama-ulama pesantren yang memiliki kredibilitas keilmuan dan pemahaman keagamaan yang moderat seperti Gus Baha sebagai teladan adalah keniscayaan. Wallahu a'lam bish-shawaab.

(mmu/mmu)