Kolom

Di Balik Angka Kemiskinan yang Kembali Satu Digit

Lydia Putri - detikNews
Rabu, 16 Feb 2022 15:08 WIB
Pandemi COVID-19 berdampak pada perekonomian Indonesia. Badan Pusat Statistik pun catat angka kemiskinan per Maret 2020 alami kenaikan menjadi 26,42 juta orang.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -
Persentase kemiskinan di Indonesia kembali menyentuh angka satu digit. Setelah sebelumnya berada pada angka 10,19 persen pada September 2020 lalu. Kini Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi mengumumkan bahwa persentase kemiskinan di Indonesia telah turun menjadi 9,71 persen pada September 2021. Hal ini berarti jumlah penduduk miskin yang sebelumnya mencapai 27,5 juta pada September 2020, kini turun menjadi 26,5 juta jiwa.

Turunnya persentase kemiskinan Indonesia sebesar 0,48 persen dibandingkan September 2020 mengkonfirmasi bahwa rangkaian upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional akibat Covid-19 telah membawa udara positif bagi Indonesia. Penurunan ini tentu bukan saja terjadi akibat perjuangan beberapa pihak. Ada banyak peran, mulai dari pemerintah pusat hingga daerah, para pengusaha dan juga masyarakat yang turut ambil bagian dalam berbagai upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional.
Disparitas Kemiskinan

Penurunan persentase kemiskinan merupakan sebuah pencapaian bersama yang harus diakui, namun kita juga perlu memperhatikan bagaimana disparitas kemiskinan antarprovinsi. Meskipun secara nasional angka kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan, terdapat enam provinsi yang mengalami peningkatan angka kemiskinan dibandingkan September 2020. Yakni Aceh, Bali, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Papua Barat, dan Papua.

Perlu diingat bahwa penurunan angka kemiskinan menjadi 9,71 persen merupakan angka rata-rata nasional yang tidak menunjukkan realitas kemiskinan yang ada di setiap daerah. Keenam provinsi tersebut menunjukkan fakta bahwa masih ada daerah-daerah yang memiliki peningkatan persentase penduduk miskin, meski di tengah berbagai upaya pemulihan ekonomi nasional yang telah dilakukan.

Persentase angka kemiskinan daerah pun tidak lantas berada pada satu digit angka kemiskinan. Hampir 50 persen provinsi di Indonesia masih memiliki persentase penduduk miskin sebesar dua digit dan bahkan terdapat tiga provinsi dengan persentase kemiskinan yang angkanya melebihi dua kali persentase kemiskinan di tingkat nasional.

Sebagai contoh, di Provinsi Nusa Tenggara Timur 20 dari 100 penduduk yang ada merupakan penduduk miskin. Jumlah ini sangat jauh berbeda apabila kita merujuk pada angka nasional yang hanya memiliki 10 penduduk miskin di antara 100 orang penduduk.

Apabila kita mengamati antar wilayah perkotaan dan pedesaan terlihat bahwa wilayah perdesaan memiliki laju penurunan angka kemiskinan yang lebih cepat dibandingkan wilayah perkotaan. Meskipun demikian, angka kemiskinan di perdesaan jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan. Persentase penduduk miskin di perkotaan pada September 2021 mencapai 7,60 persen, sangat jauh bila dibandingkan dengan persentase penduduk perdesaan yang mencapai 12,53 persen.
Sebelum Pandemi

Selain fakta disparitas di tengah pencapaian angka kemiskinan yang kembali turun di angka satu digit, penting bagi kita untuk menoleh kembali membandingkan kemiskinan kita sebelum adanya pandemi Covid-19. Apabila kita berkaca pada September 2019, terlihat bahwa angka kemiskinan kita saat ini masih mengalami peningkatan. Persentase kemiskinan pada September 2019 hanya berada di angka 9,22 persen, lebih rendah 0,49 persen dibandingkan persentase kemiskinan September 2021.

Bila dibandingkan secara menyeluruh untuk semua provinsi di Indonesia, terlihat bahwa mayoritas provinsi di Indonesia belum mampu mengembalikan angka kemiskinan pada kondisi sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Data BPS mencatat, sebanyak 21 provinsi di Indonesia masih belum menurunkan angka kemiskinan minimal serupa dengan kondisi sebelum terjadinya pandemi Covid-19.

Jika Indonesia ingin kembali mencapai kondisi sebelum adanya pandemi Covid-19, itu berarti masih banyak hal yang perlu diperhatikan. Kita tidak dapat berpuas diri dengan pencapaian penurunan angka kemiskinan pada September 2021 ini. Ada banyak tantangan untuk terus melakukan percepatan pemulihan ekonomi nasional. Gelombang ketiga Covid-19 (varian Omicron), efek tappering yang berpotensi melemahkan rupiah, dan berbagai ancaman lain mampu menyingkirkan berbagai upaya pemulihan yang telah kita capai.

Mari memaknai penurunan angka kemiskinan ini sebagai pencapaian yang masih sangat perlu ditingkatkan. Kita memang telah berjuang bersama untuk mencapai penurunan angka kemiskinan sebagai bentuk percepatan pemulihan ekonomi nasional. Namun perjuangan pemulihan ekonomi nasional masih belum selesai. Kembalinya angka kemiskinan Indonesia di angka satu digit harus dimaknai sebagai pencapaian dini dari rentetan panjang pencapaian pemulihan ekonomi yang masih belum selesai.

Lydia Putri statistisi Badan Pusat Statistik

(mmu/mmu)