Kolom

Pesantren dan Afiliasi Jaringan Teroris

M. Saekan Muchith - detikNews
Jumat, 11 Feb 2022 14:20 WIB
Pesantren dan Afiliasi Jaringan Teroris
M. Saekan Muchith (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR pada 26 Januari lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan ada 198 pesantren yang terafiliasi dengan terorisme. Beberapa elemen masyarakat, termasuk NU dan MUI, mempertanyakan akurasi datanya,. Seakan tidak rasional jika ada ratusan pesantren yang sudah terafiliasi dengan gerakan teroris.

Dilematis memang; satu sisi BNPT lembaga resmi negara yang dilindungi undang undang dan menyampaikan informasi dalam forum resmi kenegaraan di hadapan Komisi III DPR, tidak mungkin BNPT memberi paparan data tanpa didasarkan data dan fakta yang valid dan reliable. Di sisi lain, sebagai umat Islam dan bangsa Indonesia rasanya sakit dan tidak percaya jika para aktivis teroris sudah berhasil mempengaruhi bahkan "mencuci otak" pondok pesantren di Indonesia.

Fitrah Teroris

Karakter dasar (fitrah) teroris adalah berusaha memanipulasi, mereduksi, dan merekayasa pesan agama sesuai dengan kepentingan yang ingin dicapai meskipun dengan cara yang bertentangan dengan ajaran agama.

Gerakan teroris diawali dari pembelokan makna agama ke makna sesuai yang diinginkan. Ingin membunuh orang lain yang seagama, mereka mencari pesan atau dalil untuk mengkafirkan agar bisa halal darahnya alias boleh dibunuh. Abdurahman Ibnu Mulzam seorang tokoh agama hafal Alqur'an, rajin puasa sunah, dan paling rajin salat malam (tahajud) tega membunuh Sayyidina Ali Ibnu Abu Thalib, karena memanipulasi makna kafir dalam Alqur'an sampai sampai menyimpulkan Sayyidina Ali telah kafir dan halal dibunuh.

Ingin menyerang aparat negara yang sah, mereka memaknai dalil agama tentang thoghut. Semua aparat hukum dan keamanan negara dikategorikan thoghut, sehingga wajib diserang. Mengajak orang agar mau mencuri dan merampok, mereka memanipulasi makna tentang jihad. Mengambil dan merampok milik orang kafir direkayasa maknanya sebagai sebuah jihad di jalan Allah. Ingin melakukan pelecehan seksual dan melegalkan perzinahan, mereka membuat istilah jihad pernikahan.

Semua itu dilakukan untuk menutupi kejahatan dan kebobrokan moralnya agar terlihat beretika dan berkepribadian di mata kelompoknya.

Mengapa Pesantren?

Mengapa jaringan teroris bisa berafiliasi ke pesantren? Bukankah pesantren itu tempat belajar agama? Tempat akhlak agama diajarkan? Tempatnya para kiai atau ahli agama mengajarkan pemahaman agama? Justru karena semua itu, gerakan teroris memiliki peluang besar bisa berafiliasi dengan pondok pesantren.

Faktor pertama dan utama terjadinya gerakan radikal yang berujung teroris disebabkan pemahaman teks atau ajaran Islam yang dimanipulasi dan dipahami secara sempit (tekstualis). Agar bisa membelokkan atau memanipulasi ajaran Islam, satu satunya tempat yang mudah harus lewat lembaga yang sehari harinya mengajarkan materi agama Islam salah satunya pondok pesantren.

Pondok pesantren selain dikenal mengajarkan agama Islam juga menanamkan nilai nilai kepribadian (akhlak) beragama. Isu lain yang ditanamkan para teroris kepada calon calon pengikutnya adalah tentang akhlak dalam menjalankan ajaran agama Islam atau biasa disebut sebagai jihad di jalan Allah. Semua kejahatan bahkan kebiadaban dibungkus atau dilabeli dengan akhlak agar dianggap sebagai ajaran mulia. Bungkus kejahatan akan lebih mudah jika dikemas melalui simbol-simbol lembaga yang mengajarkan moralitas diantaranya pondok pesantren.

Pondok pesantren tempat orang-orang yang berhati mulia, tempatnya orang yang berjuang atau pengabdian tanpa pamrih (ikhlas) sehingga lebih dekat dengan masyarakat. Ada beban etik jika mempersoalkan atau menentang gerakan yang menggunakan simbol yang dimiliki pondok pesantren. Tidak sedikit masyarakat yang percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan orang-orang yang dianggap orang baik atau memiliki hati yang mulia (oknum kiai/santri) meskipun yang dikatakan itu merugikan banyak orang.

Pada zaman Rasulullah SAW ada seorang bernama Amru Bin Luhay yang sukses mempengaruhi dan mengajak masyarakat Mekkah untuk menyembah berhala karena Amru Bin Luhay dikenal orang yang baik akhlaknya, halus tutur katanya, serta rajin bersedekah. Masyarakat tidak sadar jika ajakan menyembah berhala Amru Bin Luhay itu ajakan yang sesat dan menyesatkan karena dibungkus dengan simbol-simbol kebaikan yang ada dalam diri Amru Bin Luhay.

Upaya Memutus

Terlepas pro dan kontra, mungkin atau tidak mungkin, valid atau tidak validnya informasi yang dipaparkan BNPT, secara langsung atau tidak langsung gerakan teroris bisa berafiliasi dengan organisasi, oknum, dan lembaga apa saja termasuk pondok pesantren.

Kita tidak boleh hanya mempertanyakan atau menolak hasil kajian BNPT yang justru lupa bagaimana merumuskan langkah-langkah memutus rantai jaringan terorisme. Tidak semua pesantren bisa "terinfeksi" virus radikalisme yang berujung dengan terorisme. Tetapi tidak semua pesantren memiliki kekebalan yang kuat dalam menghadapi "rayuan manis" para aktivis teroris yang selalu menggunakan isu dan simbol keagamaan.

Langkah kongkret untuk memutus jaringan teroris dengan pesantren dilakukan dengan cara; pertama, pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama perlu mengeluarkan standar nasional pondok pesantren yang berlaku di semua pondok pesantren tanpa kecuali. Standar nasional minimal menyangkut tentang standar input (santri), standar pendidik (ustaz), sandar proses pembelajaran, standar materi yang diajarkan (kurikulum), standar pengelolaan, dan standar profil lulusan.

Kedua, perlu dilakukan kontrol secara periodik maksimal lima tahun sekali oleh lembaga yang kredibel dan independen. Jaminan mutu (quality control) bisa dilakukan dengan mekanisme akreditasi atau sertifikasi. Hal seperti ini sudah lazim diberlakukan di berbagai lembaga dan profesi tertentu.'

Ketiga, pentingnya kesadaran bersama bahwa tidak selamanya simbol-simbol agama itu selalu digunakan untuk kebaikan. Masih banyak oknum yang berusaha memanfaatkan simbol simbol agama untuk kepentingan pribadi dengan cara yang menyimpang atau menyesatkan.

Tidak semua pondok pesantren selalu mengajarkan, mendidik, dan membimbing dalam memahami dan menjalankan pesan agama dengan cara benar dengan tujuan yang benar dunia-akhirat. Bisa juga oknum oknum dalam pondok pesantren sengaja membelokkan misi utama pondok pesantren sebagai kedok untuk melancarkan gerakan radikal yang berujung terorisme.

Kajian BNPT terhadap jaringan dan gerakan teroris secara rutin perlu terus dilakukan agar penanggulangan terorisme bisa dilakukan secara masif dan terintegrasi dengan organisasi atau lembaga lainnya. Target akhirnya ruang gerak teroris makin dipersempit sampai mereka benar benar lemah dan tidak berdaya.

Dr. M. Saekan Muchith Dosen FITK UIN Walisongo Semarang

(mmu/mmu)