Kolom

Kembalinya "Qaddafi" dan Masa Depan Libya

Ibnu Burdah - detikNews
Jumat, 28 Jan 2022 15:10 WIB
Anak Muammar Khadafi, Seif Al-Islam Khadafi, mendaftarkan diri sebagai calon Presiden Libya. Ia diketahui merupakan salah satu tersangka kejahatan perang Libya
Munculnya anak Qaddafi sebagai kandidat kuat presiden dalam pemilu di Libya (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Libya sedang memasuki tikungan yang sangat berbahaya. Salah ambil jalan, negeri itu terancam kembali ke pertikaian mematikan. Rencana pemilu yang beberapa kali jadwalnya diundur masih gagal dilaksanakan. Sedianya pengujung bulan lalu mereka menyelenggarakan pemilu. Tapi, rencana matang itu kembali gagal dilaksanakan. Salah satu sebabnya, Saif al-Islam Qaddafi, anak Muammar Qaddafi, muncul sebagai salah satu kandidat kuat.

Popularitasnya diperkirakan cukup tinggi. Padahal, tokoh ini adalah anak mantan diktator Libya yang dilawan oleh rakyatnya. Ia adalah simbol dari kekuatan lama yang dilawan oleh kekuatan-kekuatan era baru di Libya. Bahkan, ia salah satu figur yang dituduh bertanggung jawab atas kejahatan pembunuhan massal, memerintah pembunuhan para demonstran, menyewa para pembunuh bayaran, dan sebagainya. Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) pun menjadikannya buronan. Demikian juga pengadilan di dalam negeri.

Karena itu, para penentangnya terutama kekuatan di Tripoli menganggap majunya Saif al-Islam Qaddafi sebagai hal tak masuk akal. Orang yang diyakini terlibat dalam berbagai aksi berdarah dan jadi buronan internasional dianggap tak layak maju sebagai kandidat pemimpin. Apalagi, pengadilan Libya juga pernah menjatuhkan vonis mati terhadap "anak muda" ini.

Sebaliknya, para pendukungnya berdalih bahwa penentu dalam alam demokrasi adalah rakyat. Siapa pun berhak untuk maju jadi pemimpin. Penentunya adalah bilik suara, suara rakyat. Bukan suara para politisi atau hakim. Qaddafi juga memperoleh pengampunan dari pengadilan lain di Libya.

Sebagaimana maklum, pertarungan antara kekuatan di Tripoli (Barat) dan Tobruk (Timur) tak hanya melibatkan senjata. Tapi juga melibatkan dualisme pemerintahan, dualisme perwakilan rakyat, dan lucunya "dualisme lembaga pengadilan". Putusan tentang calon presiden jadi titik sangat kontroversial. Satu peradilan membatalkan pencalonan Saif al-Islam Qaddafi, tapi peradilan lain kemudian membatalkan keputusan itu lalu mengesahkan pencalonannya kembali. Beberapa calon lain juga mengalami hal sama dengan alasan sedikit berbeda.

Mengapa salah satu buronan paling dicari di Libya dan selama ini dikenal anti demokrasi tiba-tiba muncul ke arena demokrasi sebagai kandidat serius presiden negeri kaya minyak itu? Pertama, sebab terpentingnya adalah kegagalan demi kegagalan kekuatan-kekuatan pasca Qaddafi untuk membangun konsensus yang dapat dijadikan dasar untuk keluar dari krisis satu dekade ini.

Kekuatan-kekuatan bersenjata di Libya dahulu disatukan oleh musuh bersama, yaitu Qaddafi dan rezimnya yang telah menguasai Libya sekitar 42 tahun. Kematian sang kolonel nyentrik dan keruntuhan rezimnya menandai era baru. Tiadanya organ-organ dan tradisi politik demokratis di Libya membuat kekuatan-kekuatan itu tidak memiliki saluran yang menyatukan mereka untuk membangun konsensus.

Sebagaimana diketahui, sistem jamahiriyah (negara massa) yang dibangun Qaddafi mengharamkan demokrasi, partai politik, pemilu, dan tentu saja perwakilan rakyat. Rakyat Libya adalah salah satu bangsa yang tak pernah mengalami pemilu meski hanya abal-abal. Karena itu, tak mudah bagi kekuatan-kekuatan baru itu untuk membangun saluran dan institusi berdasarkan konsensus yang luas.

Dalam rencana penyelenggaraan pemilu ini pun, aturan dan dasar konstitusi yang dipakai tak kunjung bisa disepakati bahkan hingga detik-detik akhir pelaksanaan. Penyelenggaraan pemilu pada 24 Desember pun harus diundur lagi. Situasi inilah yang dimanfaatkan Qaddafi dan kubu anti demokrasi untuk menumpang arena demokratis guna merebut kekuasaan.

Kedua, dua kelompok utama yang sedang bertarung sepertinya ingin memainkan zero sum game. Padahal itu tidak mungkin dilakukan saat ini. Kekuatan di Tripoli mati-matian bersikeras agar orang-orang yang terlibat kejahatan perang, pembunuhan rakyat sipil, atau kewarganegaraan ganda tidak diperkenankan jadi kandidat presiden. Ini alasan yang sangat masuk akal. Tapi, melaksanakan hal ini tak mudah. Sebab, orang-orang dengan kriteria ini memegang senjata dan faktanya punya kekuasaan cukup luas terutama di luar daerah Tripolitania.

Namun, di samping faktor itu, sepertinya memang ada kekhawatiran kuat dalam kelompok Tripoli bahwa jika Saif al-Islam Qaddafi dan Khalifah Haftar masuk kandidat presiden, maka kemungkinan mereka akan memperoleh suara banyak. Karena itu, mereka mati-matian menggagalkan pencalonan orang-orang bermasalah ini. Jika orang-orang ini berkuasa di Libya maka kemungkinan otoritarianisme akan kembali dan ini ancaman besar bagi kelompok Tripoli dan masyarakat Libya secara umum. Sebuah nestapa demokrasi.

Di sisi lain, kubu Timur sangat khawatir jika mereka kalah. Pengadilan atas kejahatan perang tokoh-tokoh mereka akan digelar. Intinya, mereka tak akan hidup nyaman di sisa hidupnya. Karena itu, mereka siap melakukan strategi "kasar" agar pemilu Libya dapat mereka menangi atau setidaknya pemerintahan baru yang kuat oleh kekuatan di Barat tidak terbentuk. Mereka juga mendorong figur kontroversial Saif al-Islam untuk maju jadi kandidat dan pengadilan versi mereka yang memberi amnesti kepada anak Qaddafi itu. Sekarang mungkin mereka sedikit menyesal karena figur mereka bisa kalah popularitas dari anak Qaddafi. Apalagi jika anak Qaddafi kemudian sulit untuk diajak "kerja sama".

Ketiga, kerinduan terhadap kehidupan yang lebih stabil. Kehidupan masyarakat pada zaman Muamar Qaddafi jelas lebih baik daripada satu dekade masa transisi ini. Perang saudara, perebutan wilayah ekonomi kelompok-kelompok milisi, dan kekacauan terus mewarnai Libya pasca Qaddafi. Meski zaman Qaddafi diperintah secara diktator, kehidupan masyarakat bisa dikatakan stabil dan cukup sejahtera. Minyak yang diperkirakan dua juta barel per hari lebih dari cukup untuk membuat seluruh rakyat Libya yang jumlahnya tak seberapa sejahtera. Meskipun itu lebih banyak disimpan di bank-bank atas nama keluarga Qaddafi dan digunakan untuk petualangan politik dan ambisi militer sang kolonel yang dikenal meluap-luap.

Intervensi kekuatan-kekuatan dunia dan pertikaian satu dekade terakhir membuat hancur negeri itu. Frustrasi dengan keadaan dan berlarut-larutnya solusi politik menyuburkan ingatan sebagian masyarakat Libya kepada era Qaddafi. Di tengah situasi inilah, munculnya Saif al Islam jadi daya tarik besar terutama bagi kelompok-kelompok yang dianakemaskan di masa rezim Qaddafi. Ingatan masa lalu ini akan menguat jika kelompok-kelompok di Libya terus gagal membangun konsensus untuk keluar dari krisis.

Dalam konteks sekarang, Saif Islam Qaddafi bukan calon kaleng-kaleng. Ia diperhitungkan baik oleh kawan maupun lawan. Apalagi, Rusia yang memang punya hubungan spesial dengan kolonel Qaddafi sangat getol mendukung sang anak. Uni Emirat Arab, Mesir, dan beberapa negara lain juga sangat aktif mendorong agar setidaknya jago-jago dari kelompok Barat yang didukung Turki, Qatar, dan lain-lain tidak memenangi pemilu. Saif Islam Qaddafi sepertinya sulit dilepaskan begitu saja dari masa depan Libya dalam beberapa waktu dekat ke depan. Ia adalah jawaban dari situasi yang tak kunjung membaik di negeri ini.

Ibnu Burdah pemerhati Timur Tengah, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga

(mmu/mmu)