Kolom

"Spirit Doll" dan Semiotika Dunia Mistik

Ayub Wahyudin - detikNews
Jumat, 28 Jan 2022 14:00 WIB
Spirit Doll
Foto ilustrasi: Twitter
Jakarta -

Publik dikejutkan oleh polah artis Ivan Gunawan yang memutuskan untuk mengasuh boneka arwah (spirit doll) seperti anaknya sendiri. Sosok Ivan sebagai desainer juga artis ternama jauh dari kesan mistik. Sementara Celine Evangelista yang sempat dikabarkan mengasuh boneka arwah dikenal dengan sosok artis, model, dan penyanyi. Dalam keterangannya, Celine menegaskan, bonekanya tak memiliki arwah, sekadar suka dan cinta saja. Berbeda dengan Roy Kiyosi, yang bekerja sebagai praktisi spiritual, lekat dengan sosok dan figur mistisnya, serta koleksi boneka arwahnya yang banyak.

Gaji yang diberikan untuk pengasuh boneka arwah milik Ivan pun tidak sedikit. Ia mengatakan, "Tujuh setengah juta gue bayar setiap bulannya, pokoknya kalau anak gue lagi main, dia nggak boleh ganggu. Berdiri sampai anak gue manggil." Gaji sebesar Rp 7.5 juta untuk para baby sitter boneka arwah per bulan melebihi UMR wilayah Jakarta.

Fenomena tersebut, bukan hanya di Indonesia. Look Thep atau boneka hantu sempat jadi idola di Thailand, Look Thep yang berarti 'dewa kecil' tak hanya sebagai benda koleksi; warga Thailand mempercayai boneka tersebut bisa mendatangkan keberuntungan. Karena kekuatan roh yang bersemayam di dalam tubuh boneka. Salah satu yang percaya dengan 'kesaktian' boneka ini adalah Bookkoh Thannatchayapan, seorang DJ terkenal di Negeri Gajah Putih tersebut. Sama seperti Ivan Gunawan, Bookkoh memperlakukan bonekanya yang diberi nama Wansai layaknya anak sendiri.

Komunikasi

Spirit bagi masyarakat Jawa sama halnya dengan jagading lelembut atau dunia hantu, dunia arwah. Dunia sunyi-senyap yang eksis di hampir setiap kebudayaan di dunia. Dunia hantu sebagai dunia sebelah (sisih-sisihan) dipercaya berada berdampingan dengan manusia dalam dimensi yang berbeda.

Pada zaman primordial, orang punya pandangan tentang roh yang masuk pada benda-benda mati, ketertarikan terhadap dunia supranatural disebut juga bangsa alus (tak kasat mata), dunia mistik atau kejadian horor yang tak dapat dijelaskan secara rasional. Pandangan tersebut telah berganti seiring dengan teknologi dan digitalisasi yang berkembang pesat; masyarakat mulai meninggalkan tradisi dan kepercayaan tersebut, karena sulit dicerna dengan akal rasional, sulit dimengerti, bahkan sulit dilakukan riset, karena fakta dan data tak mudah ditemukan terutama perjumpaan secara langsung dengan arwah.

Meskipun demikian, pengetahuan yang berkembang memasuki babak mitologi yang dapat menjadi rujukan riset berdasarkan pada perilaku penganut atau pemuja dhedhemit tersebut. Kemampuan berkomunikasi dengan arwah bagi orang sakti, juga berkomunikasi dengan orang lain secara jarak jauh melalui interkoneksi batin. Bagi manusia modern, tak perlu ritual untuk melakukan percakapan jarak jauh, cukup dengan media telepon seluler, termasuk dengan video call dapat bertatap muka jarak jauh.

Para pemilik boneka atau benda yang dikeramatkan biasanya mampu mengenali dan berkomunikasi dengan arwah yang ada dalam boneka tersebut. Inilah yang mengkhawatirkan. Karena, komunikasi dengan arwah tidak selalu tentang kebaikan untuk dapat menyembuhkan orang sakit, atau mendatangkan rezeki bagi pemilik atau yang mempercayainya. Kemampuan komunikasi dengan arwah terkadang memberi dampak negatif yang besar, seperti dalam fenomena pulung gantung (2003-2012).

Riset yang dilakukan oleh I Wayan Suwena, saat ujian terbuka program doktor di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, menyebutkan bahwa bunuh diri di Gunungkidul yang merenggut 330 kasus, dengan rata-rata terjadi 33 kasus bunuh diri setiap tahunnya, merupakan bagian dari ritual komunikasi simbolik, pemenuhan perintah dari arwah. Pelaku bunuh diri diajak berkomunikasi dengan orang lain untuk memecahkan permasalahan hidup yang tengah dihadapinya. Tetapi, pelaku tidak mampu mengakses media untuk menyampaikan maksud tersebut.

Suwena mengatakan, "Orang-orang yang mengalami kegagalan berkomunikasi tersebut melakukan kegagalan, kesalahan, kekeliruan, maupun kesesatan pula saat melakukan signifikansi pada pulung gantung." (ugm.ac.id, 19 Juli 2016). Tampaknya, manusia perlu waspada ketika memasuki dunia mistik. Dunia yang penuh misteri. Bukan hanya peristiwa pulung gantung yang memilukan, ada pula fenomena bisikan gaib yang sering dijadikan alibi dalam ragam kasus pembunuhan.

Mitos

Jawa memiliki ragam budaya dan tradisi yang unik, termasuk dengan mitos berbau arwah dan mistik lainnya. Mitos merupakan cerita yang kacau balau, terserak, tak beraturan namun di balik yang kacau balau dan ketidakteraturan tersebut tersimpan kepercayaan yang seolah terdapat keteraturan. Keteraturan ini menurutnya berlaku secara universal, artinya selalu terdapat di semua mitos yang ada di seluruh dunia. Maka, pengetahuan melalui antropologi menggali serta mengungkap pengetahuan melalui ragam simbol, tanda dan tinanda serta cerita dan legenda tradisi kuno.

Itu juga terdapat dalam sebuah tulisan Ulivia tentang Mitologi Kesenian Nini Thowong (2018) yang memotret tradisi Nini Thowong sebagai kreativitas seni berbaur dengan ritual yang mistis memasukkan roh ke dalam boneka. Ritual tersebut dipercaya mampu menyembuhkan segala macam penyakit, memanggil hujan, pesugihan, atau mencari barang yang hilang. Nini artinya embah wedok atau nenek dan thowong berarti roh. Nini Thowong seorang perempuan yang sudah sepuh (roh), menempati benda boneka yang belum terisi roh lain (kosong). Benda ini, sebagai sarana pemanggilan roh halus sekaligus menjadi tempat tinggal ruh.

Boneka Nini Thowong dapat bergeleng-geleng, mengangguk, meloncat-loncat, berputar, melambai. Nini Thowong tidak dapat berkomunikasi dengan lisan, tetapi dengan gerak mengangguk dan menggeleng. Menggeleng berarti "tidak" dan mengangguk berarti "ya".

Nini Thowong simbol pencarian obat melalui ritual pertunjukan pemanggilan roh roh. Dalam ilmu semiotika, Nini Thowong sebagai penanda (signifier), sedangkan petanda (signified) boneka Nini Thowong, terbuat dari jerami yang berbentuk memanjang. Kepalanya dari batok kelapa, diberi aksen muka manusia menggunakan kapur atau jelaga berwarna hitam serta putih. Hal itu menggambarkan pada diri manusia terdapat sifat baik (simbol warna putih) dan sifat buruk (simbol warna hitam). Boneka dibuat mirip dengan manusia. Boneka Nini Thowong dimasukkan roh oleh paranormal, dimainkan oleh ibu-ibu kemudian boneka tersebut bergerak sendiri.

Penanda dan petanda dalam gambaran semiotika di atas secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut: penanda sebagai lambang bunyi, sementara petanda adalah makna dari petanda tersebut. Misalnya handphone adalah lambang bunyi (penanda), sedangkan alat komunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nir kabel) tetapi menggunakan perangkat data maupun jaringan internet

Beberapa aksesoris dalam boneka Nini Thowong, dengan ritual khusus misalnya aksesoris bunga, pengambilannya harus di kuburan; berarti manusia dalam berinteraksi dengan alam sekitarnya. Wajah yang terbuat dari tempurung kelapa, digambar dengan muka manusia dengan kapur atau jelaga yang berwarna hitam dan putih, menunjukkan bahwa manusia mempunyai fisik baik tetapi sekaligus buruk. Dengan kata lain, dalam diri manusia terdapat sifat baik yang dilambangkan dengan warna putih dan buruk dengan warna hitam.

Sementara pakaian boneka menggunakan pakaian perempuan Jawa, karena roh yang terdapat di dalam Nini Thowong roh perempuan. Pakaian terbuat dari kain yang mempunyai sifat duniawi. Artinya, manusia dihinggapi duniawi, baik yang berupa harta benda (kekayaan) maupun derajat pangkat. Sisi positif dari seni banyak mengambil peranan dalam aktivitas atau tujuan yang bersifat sosial maupun religius. Kecenderungan tersebut membuat manusia hidup dengan penuh harapan hidup dengan nyaman, damai tanpa gangguan apa pun. Keinginan mereka tidak bisa selalu terpenuhi, terkadang mereka menginginkan sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh akal.

Di sisi lain, orang mempercayai kekuatan dalam boneka, yang sebetulnya menafsirkan gejala alam biasa, dimaknai sebagai petanda atau isyarat yang multitafsir. Sehingga memaksa melakukan ritual sesuatu dianggap tidak wajar, penuh misteri, dan sebagainya. Perjumpaan benda mati dan roh dianggap memiliki kekuatan, pusaka, atau keramat. Perlakuan khusus dalam ritual biasanya harus dipenuhi dan tak boleh dilanggar.

Secara simbolik, pernyataan Ivan Gunawan bahwa "anak gue manggil" dan "nggak boleh ganggu" adalah kemampuannya berkomunikasi dengan alam arwah atau sekadar merujuk pada simbol-simbol yang sudah diajarkan oleh praktisi alam gaib tersebut. Sama halnya dengan ritual yang khusus dalam pemanggilan arwah, atau semacam meditasi dan seterusnya.

Cerita tentang dhemit dan jin yang berasal dari setan bertugas menguji keimanan manusia. Penampakan perempuan cantik atau menyeramkan bisa menjadi mitos yang dijelaskan secara semiotik. Jelmaan dengan rupa binatang ular, katak, harimau, monyet, dan seterusnya. Penamaan makhluk halus pun beragam, ada dhemit, gendruwo, wewe gombel, sundel bolong, kuntilanak, banaspati, buto ijo, tuyul, peri, dan sebagainya adalah bagian dari mitos para pendahulu, mewarnai kebudayaan dan tradisi manusia modern, pascamodern, maupun era digital dengan intensitas yang berbeda, bahkan bisa hilang ditelan sejarah.

Ayub Wahyudin, MA dosen Antropologi Agama, Institut Studi Islam Fahmina Cirebon

(mmu/mmu)