Kolom

Arteria Dahlan dan Komunikasi Publik Pejabat

Iding Rosyidin - detikNews
Rabu, 26 Jan 2022 13:10 WIB
Baliho bertuliskan ARTERIA DAHLAN MUSUH ORANG SUNDA mejeng di Kota Bandung, tepatnya di pertigaan Jalan Diponegoro di dekat Gedung Sate pada Rabu (19/1/2021).
Baliho
Jakarta -

Salah satu persoalan yang dihadapi para pejabat di negeri ini adalah buruknya komunikasi publik, baik pada level eksekutif maupun legislatif. Padahal, keterampilan komunikasi publik ini sangat penting mengingat mereka, dalam melaksanakan tugas-tugasnya, kerap berhubungan dengan publik atau masyarakat luas, baik secara langsung maupun melalui media massa.

Peristiwa yang melibatkan salah seorang anggota DPR Arteria Dahlan baru-baru ini merupakan salah satu contoh terbaru kasus buruknya komunikasi publik pejabat. Seperti ramai diperbincangkan, Arteria mengeluarkan pernyataan kontroversial pada saat rapat dengan jajaran Kejaksaan Agung.

Saat itu, Arteria melontarkan kritikan pedas terhadap salah seorang Kajati yang dinilainya berbahaya karena berbicara bahasa Sunda dalam rapat. Bukan sekadar mengkritik, anggota Komisi III DPR itu juga meminta Jaksa Agung untuk menindas tegas yang bersangkutan. Menindak tegas di sini artinya adalah memberhentikannya.

Tentu saja, pernyataan Arteria tersebut sontak mendapatkan reaksi keras dari banyak komponen masyarakat. Yang menarik, bukan hanya kalangan masyarakat Sunda yang memprotes Arteria, melainkan juga berbagai kalangan masyarakat lainnya di Indonesia. Buntutnya, Arteria menyampaikan permohonan maaf atas ucapannya tersebut.

Kegagalan Berkomunikasi

Apa yang menimpa Arteria Dahlan memperlihatkan betapa tidak sedikit dari pejabat-pejabat di Indonesia yang gagal berkomunikasi secara benar. Agaknya, mereka kurang begitu menguasai keterampilan berkomunikasi. Mereka tidak berhasil, bukan sekadar bagaimana menyampaikan pesannya kepada publik atau khalayak, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana dampak dari pesannya tersebut.

Padahal, seperti yang dijelaskan pakar ilmu komunikasi Profesor Deddy Mulyana dalam bukunya Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar (2019), dampak komunikasi itu bersifat irreversible. Artinya, dampak komunikasi itu tidak dapat atau sulit ditarik kembali. Sekali telah memberikan dampak, maka dampak itu melekat kuat dan sulit dihapus atau dikurangi. Hal ini terutama berlaku untuk dampak buruk yang timbul akibat penyampaian pesan yang tidak tepat oleh komunikator, dalam hal ini pejabat publik.

Meski kemudian komunikator berusaha untuk memperbaikinya pada pesan-pesan berikutnya, misalnya, dengan meminta maaf sambil berurai air mata sekalipun, belum tentu dampak buruk itu akan hilang dari benak publik secara mudah.

Itulah yang mungkin terjadi pada Arteria Dahlan. Meski pada akhirnya ia meminta maaf atas pernyataan kontroversialnya, namun dampak buruk yang kadung diakibatkannya, yakni rasa tersakitinya masyarakat Sunda, belum tentu akan sirna dari dari diri mereka. Setidaknya, dalam waktu singkat. Lebih-lebih kalau permohonan maafnya dianggap kurang tulus.

Pembelajaran Penting

Terlepas dari buruknya contoh komunikasi publik yang ditampilkan Arteria Dahlan di panggung politik Indonesia, hal ini tetap bisa dijadikan pembelajaran penting bagi kita semua. Terkhusus lagi, bagi para pejabat dan para elite politik di republik ini. Jangan sampai kejadian serupa terulang lagi, sehingga membuat kegaduhan yang sesungguhnya tidak perlu.

Saat ini, Indonesia akan segera menghadapi perhelatan besar yang ditunggu-tunggu banyak pihak, yakni Pemilu 2024. Meski fokus perhatian utamanya lebih kepada pemilihan presiden dan wakil presiden, tetapi tetap penting bagi semua aktor politik yang akan berebut gelanggang,untuk tetap memperhatikan kesiapan dirinya. Termasuk dalam hal ini adalah kemampuan komunikasi publik.

Bagaimanapun, keberadaan para aktor politik berhubungan erat dengan partai-partai politik tempat mereka bernaung. Dan, seperti kita ketahui, partai-partai politiklah yang memiliki kewenangan untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden. Maka, tindakan aktor politik tidak bisa dimaknai hanya untuk kepentingan individualnya saja, melainkan juga kepentingan partai politik pengusungnya.

Di sinilah, perlunya setiap aktor politik, lebih-lebih yang sedang berada di dalam kekuasaan, untuk hati-hati dalam melakukan tindakan komunikasi, khususnya komunikasi publik. Perlu persiapan dan pertimbangan matang-matang setiap kali ia akan menyampaikan sebuah pesan kepada khalayak ramai.

Komunikasi publik sendiri, mengacu pendapat Hafied Cangara dalam Pengantar Ilmu Komunikasi (2016), seyogianya disampaikan secara terencana atau dipersiapkan lebih awal. Hal ini tentu agar komunikator dapat memikirkan secara sungguh-sungguh apa dampak yang dapat ditimbulkannya dari pesan yang disampaikannya tersebut.

Penyampaian pesan kepada khalayak luas secara spontan atau tanpa persiapan sebelumnya jelas sangat berisiko. Apa yang terjadi pada Arteria Dahlan dapat dikatakan sebagai contoh kasus penyampaikan komunikasi publik secara spontan. Dan, seperti telah kita ketahui bersama, dampaknya sangat fatal, bukan hanya bagi dirinya, melainkan juga bagi partai politiknya, dalam hal ini Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Beragam bentuk perlawanan dari hampir semua komponen masyarakat Sunda, seperti banyak diberitakan di media massa, khususnya media sosial, tidak bisa dianggap sepele. Banyak di antara suara tersebut yang mengaitkan masalah itu dengan Pemilu 2024; mereka mengancam partai kepala banteng ditenggelamkan di Jawa Barat.

Inilah dampak fatal yang diakibatkan oleh komunikasi publik seorang anggota DPR bernama Arteria Dahlan yang dilakukan secara serampangan, emosional, dan tanpa mempertimbangkan matang-matang akibat yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, sekali lagi, semoga kasus ini dapat dijadikan pembelajaran yang penting bagi siapa pun yang tengah berkuasa di republik ini. Atau, bagi orang-orang yang juga akan berkompetisi ke dalam kekuasaan.

Iding Rosyidin Ketua Program Studi dan Pengajar Komunikasi Politik Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Simak juga 'Arteria Dahlan Minta BNPT Pastikan Tak Ada Anak Bangsa Berpikir Radikal':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)