Kolom

Pemulihan Pendidikan dan Tantangan Kurikulum Prototipe

Iwan Kartiwa - detikNews
Selasa, 25 Jan 2022 13:00 WIB
Mendikbud berkunjung ke salah satu Sekolah Penggerak di Kota Bandung
Penerapan kurikulum prototipe di sebuah sekolah di Bandung (Foto: dok. Kemdikbud.go.id)
Jakarta -

Mengacu pada sebuah hasil riset yang dilaksanakan Kemdikbudristek, tergambarkan dengan jelas bahwa pandemi Covid-19 telah menyebabkan kehilangan pembelajaran (learning loss) literasi dan numerasi secara signifikan. Riset dilakukan pada Januari 2020 s/d April 2021, dengan sampel 3.391 siswa SD dari 7 kab/kota di 4 provinsi.

Dalam riset tersebut diketahui sejumlah fakta terjadinya learning loss, yaitu sebelum pandemi, kemajuan belajar selama satu tahun (kelas 1 SD) adalah sebesar 129 poin untuk literasi dan 78 poin untuk numerasi. Setelah pandemi, kemajuan belajar selama kelas 1 berkurang secara signifikan (learning loss). Untuk literasi, learning loss ini setara dengan 6 bulan belajar. Sementara untuk numerasi, learning loss tersebut setara dengan 5 bulan belajar.

Menghadapi situasi demikian diperlukan upaya strategis guna menyelamatkan ruh dan semangat pendidikan yang hilang tergerus oleh dampak pandemi tersebut. Diperlukan strategi taktis yang bernama migitasi learning loss. Migitasi learning loss diartikan sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi risiko akibat kehilangan pembelajaran dampak pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

Dalam rangka menghadapi kondisi tersebut, sekolah diberikan tiga opsi untuk menggunakan kurikulum yang disederhanakan agar dapat berfokus pada penguatan karakter dan kompetensi mendasar. Ketiga pilihan ini mengacu pada dasar hukum Kepmendikbud Nomor 719/P/2020. Hasilnya ada sebanyak 59,2% yang menggunakan Kurikulum 2013 secara penuh, 31,5% menggunakan "Kurikulum Darurat" (Kurikulum 2013 yang disederhanakan Kemendikbudristek), dan sisanya 8,9% yang memilih melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri.

Setelah melalui serangkaian evaluasi dapat disimpulkan pemilihan opsi penggunaan kurikulum darurat waktu itu menunjukkan hasil yang lebih baik dari 2 opsi pilihan lainnya. Hal ini tergambarkan dari beberapa temuan. Pertama, siswa pengguna Kurikulum Darurat mendapat capaian belajar yang lebih baik daripada pengguna Kurikulum 2013 secara penuh, terlepas dari latar belakang sosio-ekonominya.

Kedua, secara numerasi manfaat penggunaan Kurikulum Darurat lebih besar pada siswa dari kelompok rentan. Ketiga, secara lierasi manfaat penggunaan Kurikulum Darurat lebih besar pada siswa dari kelompok rentan (slide Kebijakan Kurikulum untuk Pemulihan Pembelajaran Setelah Pandemi, Kemdikbudristek, November 2021).

Selain itu, kurikulum darurat ini juga dianggap cukup efektif dalam memitigasi learning loss. Mengapa demikian? Karena kurikulum darurat ini mampu membantu guru untuk fokus pada materi esensial dan menerapkan pembelajaran yang lebih mendalam untuk mengembangkan karakter dan kompetensi dasar. Jadi kurikulum darurat yang telah diterapkan dapat dikatakan mampu memberi banyak manfaat baik kepada peserta didik maupun para pendidiknya.

Saat ini dunia pendidikan Indonesia tengah berada pada masa pemulihan setelah masa kritis pembelajaran akibat pandemik Covid-19 berangsur mulai terlewati. Oleh sebab itu pada masa pemulihan ini pun diperlukan satu model kurikulum yang mampu memitigasi learning loss secara lebih efektif dan efisien. Model kurikulum inilah yang kemudian disebut kurikulum prototipe.

Kurikulum prototipe sendiri diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran dilakukan.

Pemulihan pendidikan nasional melalui penerapan kurikulum prototipe membawa optimisme bagi banyak kalangan. Optimisme terbangun atas dasar sejumlah keunggulan yang menyertai keberadaan kurikulum tersebut. Setidaknya ada tiga keunggulan yang cukup tampak dari kurikulum prototipe yang akan diterapkan pada awal tahun ajaran baru 2022 ini, yaitu keunggulan yang bersifat substansi, implementasi, dan implikasi.

Keunggulan substansi. Substansi atau karakteristik dari kurikulum prototipe ini memang menunjukkan unifikasi dan memiliki perbedaan dengan kurikulum yang diterapkan sebelumnya. Beberapa keunggulan yang identik dengan kurikulum ini adalah mampu mendorong pembelajaran yang lebih sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang yang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar peserta didik.

Selain soal keunggulan, kurikulum prototipe ini juga memiliki beberapa karakteristik utama yang mendukung pemulihan pembelajaran, antara lain; pertama, adanya pengembangan soft skills dan karakter (akhlak mulia, gotong royong, kebinekaan, kemandirian, nalar kritis, kreativitas) mendapat porsi khusus melalui pembelajaran berbasis projek.

Kedua, fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Ketiga, adanya fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.

Proses implementasi. Seiring dengan penerapan kurikulum prototipe pemerintah gencar menerapkan program merdeka belajar. Guna mengimplementasikan program merdeka belajar ini, Kemdikbud gencar pula merekrut dan menyiapkan sekolah penggerak, kepala sekolah penggerak dan guru penggerak. Mereka-mereka inilah yang secara langsung nantinya akan menjadi subjek terdepan dalam pelaksanaan program merdeka belajar termasuk di dalamnya dalam penerapan kurikulum prototipe.

Semakin banyak guru penggerak maka penerapan kurikulum prototipe pun akan makin efektif dan efisien. Program guru penggerak banyak relevansinya dengan penerapan kurikulum prototipe. Kemdikbud menargetkan pada akhirnya pada 2024 guru penggerak akan mencapai angka 405 ribu orang. Pada angkatan 1 sampa 3 berjumlah 2.800 orang per angkatan. Sementara pada angkatan ke 4 sampai 8 ditargetkan berjumlah 8.000 orang per angkatan. Sehingga pada tahun 2024 akan tercapai 405.000 orang guru penggerak (https://kemdikbud. go.id).

Implikasi. Implikasi yang ditimbulkan dari penerapan kurikulum prototipe ini cukup positif dan relatif tidak menimbulkan gejolak. Sebelumnya penerapan kurikulum baru seringkali disertai dengan resistensi karena ada pihak yang merasa dirugikan. Pihak yang dimaksud khususnya adalah guru.

Guru dalam sejumlah penerapan kurikulum baru merasa terganggu atau dirugikan karena jumlah jam mengajarnya yang hilang atau berkurang. Nah, kurikulum prototipe tidak berimplikasi pada jam mengajar guru. Dalam hal ini perubahan struktur mata pelajaran pada kurikulum prototipe tidak merugikan guru akibat berkurangnya jam mengajar misalnya. Selanjutnya semua guru yang berhak mendapatkan tunjangan profesi ketika menggunakan Kurikulum 2013 akan tetap mendapatkan hak tersebut sebagaimana biasanya. Inilah salah satu hal positif dan keunggulan dari kurikulum prototipe tersebut.

Terlepas dari ketiga keunggulan kurikulum prototipe ini, sebenarnya tetap terdapat tantangan yang menyertai dalam penerapan kurikulum tersebut. Tantangan tersebut menyasar pada tiga pihak yang sangat berkepentingan terutama sekali pada guru, siswa, dan orangtua siswa.

Pada penerapan kurikulum prototipe ini karena yang dituntut adalah pada penekanan materi esensial, maka guru dituntut untuk lebih rendah hati menanggalkan konsep transfer ilmu. Apabila sebelumnya mengejar materi secara kuantitas, maka pada kurikulum nanti yang dikejar adalah kualitas materi. Proses KBM tidak lagi berorientasi pada hasil melainkan sangat memperhatikan proses sehingga tumbuh pribadi siswa yang mampu belajar mandiri, serta tinggi rasa kepenasaran dan keingintahuannya.

Itulah sebagian kecil yang akan menjadi tantangan pada sosok guru. Demikian pula pada diri siswa. Karena berorientasi pada materi esensial, maka jumlah pekerjaan rumah (PR) akan banyak berkurang. Pembelajaran akan berorientasi pada discovery, inquiry, problem base learning dan project base learning, dan semua akan tertuju pada implementasi proyek profil pelajar Pancasila. Oleh karenanya siswa dituntut menjadi pembelajar sejati dan berorientasi pada kecakapan abad 21 dengan 4C-nya (creative, critical thinking, communicative, collaborative).

Untuk orangtua siswa tantangan juga tidak kalah sederhana. Orangtua diminta jauh lebih bijaksana. Jangan menuntut anaknya supaya menjadi anak yang serba tahu mengenai banyak hal. Karena di sekolah materi pelajaran akan bergeser dari kuantitas materi ke kualitas materi, yang diajarkan adalah materi-materi esensial saja. Orangtua diharapkan lebih mendorong dan memfasiltasi anaknya untuk fokus pada minat, bakat, kemampuan, dan potensi pada dirinya untuk digali dan diarahkan bersama-sama dengan pihak sekolah.

Akhirnya kita semua berharap tantangan ini dapat direspons secara positif oleh semua kalangan. Sejumlah keunggulan dari kurikulum prototipe sudah seharusnya dapat dimaksimalkan dan pada gilirannya dapat diarahkan untuk mampu mengejar ketertinggalan pendidikan yang sudah kita alami selama ini. Kata kuncinya adalah pada niat baik, komitmen, dan kerja keras semua pihak. Mudah-mudahan penerapan kurikulum prototipe menjadi jawaban atas sebagai kecil persoalan pendidikan nasional kita pada saat ini dan masa yang akan datang.

Iwan Kartiwa peserta Diklat Calon Kepala Sekolah SMA Prov. Jawa Barat tahun 2021, guru SMAN Rancakalong Kab. Sumedang

(mmu/mmu)