Kolom

"Ngegas" Interaksi Antarsiswa di Sekolah

Sutriyono - detikNews
Senin, 24 Jan 2022 15:08 WIB
Suasana PTM di SDN 14 Tangerang (Foto: Khairul/detikcom)
Suasana PTM di SDN 14 Tangerang (Foto ilustrasi: Khairul/detikcom)
Jakarta -

Minggu pertama dan kedua Januari 2022, kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) mulai diterapkan di beberapa daerah. Wilayah yang cekaman Covid-19 sudah jauh mereda telah melaksanakan PTM lebih dahulu. Beberapa wilayah masih menerapkan dengan hati-hati. Misalnya ada sekolah di Purwokerto, Jawa Tengah yang menerapkan separuh hari PTM separuh hari daring.

Sebagaimana kita ketahui bersama, sekitar dua tahun sekolah-sekolah menerapkan pembelajaran daring. Guru dan siswa bertemu lewat layar gawai. Siswa berada di rumah masing-masing. Guru mengajar dari rumah atau dari sekolah. Metode tersebut dipakai sebagai cara menyiasati merebaknya Covid-19.

Apa yang segera terasakan ketika para siswa menjalani proses belajar dari rumah secara daring? Interaksi sosial antarsiswa sangat rendah!

Interaksi sosial yang ada lebih banyak antara guru dengan masing-masing siswa. Interaksi antarsiswa sangat sedikit. Akibatnya, siswa satu tidak mengenal siswa yang lainnya. Bahkan sekedar tahu pun masih diragukan.

Seorang guru bercerita, suatu ketika ada siswa datang ke sekolah. Saat itu masih suasana pembelajaran daring. Ia bertemu guru tersebut. Dalam waktu yang hampir bersamaan, datang siswa yang lain. Guru tersebut tahu dan mengenali mereka adalah teman satu kelas. Kepada dua siswa tersebut, guru mengungkapkan hal itu. "Kalian itu satu kelas lho," katanya.

Reaksi kedua siswa dingin saja. Tidak ada kehebohan khas remaja atas informasi baru yang semestinya menjadi kabar gembira (karena bertemu dengan temannya satu kelas setelah sekian lama terpisah). Guru tersebut menceritakan peristiwa itu dengan nada prihatin.

Pentingnya Interaksi

Anita Lie dalam buku Cooperative Learning (2004) mengulas cukup mendalam mengenai arti penting interaksi antarsiswa. Menurutnya, proses belajar para siswa jauh lebih efektif ketika mereka berada dalam kesatuan interaksi yang positif. Siswa akan membangun komunitas belajar dan mencintai proses belajar tersebut.

Anita Lie membedakan model belajar di atas dengan model belajar yang interaksinya penuh persaingan. Menurut Anita, model belajar cooperative learning menghasilkan prestasi yang lebih tinggi, relasi yang lebih positif, dan penyesuaian psikologis yang lebih baik.

Permasalahan yang kita hadapi, pandemi Covid-19 telah memangkas begitu banyak kesempatan siswa berinteraksi antarmereka. Cerita satu siswi kelas ekstra kurikuler jurnalistik di SMA Bruderan Purwokerto yang saya ampu membuat saya menarik napas dalam.

Siswi tersebut mengungkapkan, ia kelas sembilan (SMP) ketika harus memulai pembelajaran daring. Setelah lulus, ketika lanjut masuk SMA masih daring. Teman-teman yang dekat sejauh ini adalah teman semasa SMP. Teman SMA baru bisa berinteraksi lewat medsos. Ketika PTM perlahan-lahan dimulai, ia mengaku teman-teman barunya di SMA ini baru sekedar tahu, belum mengenal lebih dekat.

Maka jelas bahwa ada lubang besar di ruang-ruang kelas pada sekolah yang mulai memberlakukan PTM. Lubang tersebut adalah soal interaksi dan kedekatan antarsesama siswa dalam kelas. Sementara sebagaimana diungkapkan di awal, interaksi antarsiswa memiliki peran penting dalam proses belajar mereka, termasuk proses pendewasaan.

Pada masa sebelum pandemi, guru umumnya fokus pada bagaimana menyampaikan mata pelajaran kepada peserta didik. Guru kemudian melakukan evaluasi pada akhir semester. Interaksi sosial antarsiswa "dibiarkan" berjalan secara alamiah, spontan, tidak terstruktur.

Anak belajar mengelola konflik ketika berbeda pendapat dengan teman. Anak belajar mengelola emosi ketika misalnya ada teman mematahkan penggaris. Bahkan, anak-anak juga akan belajar bagaimana menjadi juru damai ketika konflik di kelas meruncing misalnya sampai adu fisik. Anak-anak kemudian belajar menjadi rendah hati, meminta maaf dan memaafkan.

Pada saat yang bersamaan, interaksi selaras ataupun yang menyertakan konflik dan gesekan semakin membuat para siswa mengenal lebih mendalam satu dengan yang lain. Dalam bukunya, Anita Lie menyarankan agar interaksi tersebut dirancang sedemikian rupa.

Interaksi antarsiswa dibuat terstruktur dan menjadi bagian dari para siswa menyerap materi pelajaran. Misalnya, bila dalam satu kelompok ada satu atau dua siswa yang dominan dalam menyampaikan pendapat, guru tidak bisa hanya berkata, "Beri kesempatan yang lain bicara!"

Anita Lie mengusulkan agar guru menggunakan metode 'kancing gemerincing'. Metode ini dikembangkan Spencer Kagan (1992). Masing-masing anggota kelompok mendapatkan dua atau tiga kancing. Setiap kali angkat bicara atau berpendapat, siswa tersebut harus mengeluarkan satu kancing dari kantungnya. Ketika kancing habis, kesempatan siswa tersebut juga habis. Bersama dengan itu, siswa lain harus bicara dengan kesempatan yang sama dengan 'siswa dominan' tadi.

Lebih Intensif

Apa yang ditulis di atas hanyalah salah satu contoh. Anita Lie memberi banyak contoh untuk model cooperative learning atau pembelajaran gotong royong tersebut.

Kembali soal lubang besar dalam awal PTM pada awal semester genap ini, saya menegaskan ulang perlunya membangun interaksi antarsiswa secara lebih intensif. Interaksi ini dibutuhkan agar para siswa bisa segera mengenal teman-teman belajarnya. Selain itu, para siswa juga segera dapat bekerja sama satu dengan yang lain untuk menyerap mata pelajaran dan menyelesaikan tugas-tugas yang menyertainya.

Sepakat dengan Anita Lie, terutama bahkan pada awal PTM, guru semestinya merancang materi pelajaran dan metode penyampaiannya secara khusus. Kekhususan yang saya maksudkan adalah menyertakan ide cooperative learning terutama untuk mendukung percepatan interaksi sosial antarsiswa.

Singkatnya, apa pun materi pelajaran masing-masing guru, mereka perlu merancang metode pembelajaran yang menyertakan peningkatan intensitas interaksi sosial antarsiswa. Ada simulasi-simulasi yang membuat siswa "dipaksa" segera mengenal teman mereka.

Pada bagian akhir catatan ini, saya akan menuliskan contoh yang saya buat saat awal PTM untuk kelas ekstra jurnalistik. Tentu saja ini sekedar contoh yang juga tidak bisa saya katakan sebagai yang terbaik. Tetapi, kiranya bisa memantik ide-ide yang lebih berlian.

Sebagai mentor saya mengalami kesulitan memahami antusiasme siswa-siswi kelas ekstra kurikuler jurnalistik setiap kali pertemuan daring. Selama satu semester saya sungguh menantikan PTM.

Pada saat pertemuan daring, saya harus menghargai ketika siswa memilih tutup kamera. Tidak semua siswa atau keluarga memiliki kuota yang melimpah. Sementara kelas saya adalah kelas ekstra kurikuler, jadi bukan "kelas utama". Sisi lain, cuaca yang diwarnai hujan petir misalnya, memaksa harus menutup kelas lebih awal.

Maka, menjelang kelas PTM saya menyimpan dua agenda besar; antarsiswa belum saling kenal dan semangat atau antusiasme siswa belum tampak. Berdasarkan masalah tersebut saya lantas merancang tiga kegiatan simulatif yang sekaligus juga praktik untuk mengasah keterampilan seorang jurnalis.

Pertama, mengenalkan diri untuk saling mengenal. Peserta kelas saya minta menceritakan apa yang mereka alami dan atau rasakan selama pandemi hingga memasuki masa PTM. Peserta harus memulai dengan kata kunci, misalnya sedih atau takut, atau capai, atau gembira, dan lainnya. Setelah kata kunci baru mengungkapkan cerita di balik kata kunci tersebut.

Keterampilan membuat abstraksi atas apa yang dialami, atau nantinya juga apa yang dilihat dan diamati, adalah modal penting seorang jurnalis. Abstraksi (= kata kunci) tersebut menjadi pegangan ketika jurnalis kembali ke meja untuk menuliskan laporan.

Kedua, belajar bercerita dan belajar mendengarkan. Peserta mendapatkan satu kartu bergambar yang masing-masing berbeda. Mereka kemudian masuk dalam kelompok pasangan, berdua-dua. Peserta diminta bercerita mengenai gambar yang ia dapatkan dan juga mengungkapkan gambar tersebut mengingatkannya pada peristiwa apa. Hal itu disampaikan pada temannya.

Sesudah kelompok berpasangan tersebut masing-masing peserta lantas menceritakan apa yang ia dengar dari pasangannya di forum besar. Selain keterampilan bercerita atau bertutur, keterampilan mendengarkan juga modal penting bagi jurnalis.

Ketiga, belajar membongkar salah satu mental block menulis. Peserta mendapatkan satu lembar kertas A4. Peserta diminta menulis satu cerita, dengan topik bebas, dengan batasan waktu tertentu. Misalnya dalam hitungan satu sampai 10.

Setelah hitungan ke-10, kertas diberikan ke teman sebelah kanan. Peserta membaca tulisan awal teman kirinya, lantas diminta meneruskan cerita atau gagasan tersebut. Ini juga dalam hitungan waktu tertentu. Begitu seterusnya sampai dirasa cukup.

Salah satu mental block pembelajaran menulis adalah takut kalau-kalau gagasan yang ia tulis salah atau tidak baik. Ketakutan atau kekhawatiran ini seringkali berakhir dirobeknya kertas yang telah mulai ditulisi.

Dalam kegiatan ketiga ini ditekankan 'tidak ada penilaian benar salah, baik buruk'. Peserta diberi kebebasan mengekspresikan gagasan dan imajinasinya dengan segera. Tentu saja ada saatnya nanti mereka belajar mengedit tulisan yang mereka buat.

Dalam pengamatan, terlihat peserta kelas ekstra jurnalistik menikmati praktik ketiga tersebut. Beserta itu pula, saya sebagai mentor merasakan syukur karena mulai melihat girah, semangat, antusiasme siswa-siswi. Harapannya mereka semakin mencintai proses belajar di kelas ekstra kurikuler jurnalistik yang mereka pilih.

Dalam segalanya, protokol kesehatan tetap diperhatikan. Peserta tidak lepas masker. Selain itu, selepas praktik ketiga, menjelang berakhir kegiatan, peserta membasuh tangan mereka dengan hand sanitizer.

Sutriyono mentor kelas ekstra kurikuler jurnalistik SMA Bruderan Purwokerto

(mmu/mmu)