Kolom

Angka-Angka yang Menyesatkan dalam Pendidikan Kita

Johara Masruroh - detikNews
Senin, 24 Jan 2022 14:10 WIB
Sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus COVID-19, pihak guru diĀ  SD Daar El-Salam, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (17/12/2020), menerapkan protokol kesehatan yang ketat saat pembagian raport kenaikan kelas.
Pembagian rapor siswa (Foto ilustrasi: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Beberapa waktu lalu teman saya yang seorang wali kelas didatangi oleh salah satu wali siswa. Kedatangan wali siswa tersebut ternyata berkaitan dengan nilai rapor anaknya, sebut saja Dito, yang berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Nilai Matematikanya 60, sementara KKM-nya adalah 76. Wali siswa itu mengeluh dan berharap pada teman saya agar mau mengubah nilai itu di atas KKM karena khawatir akan menyulitkan proses masuk perguruan tinggi.

Teman saya agak bingung untuk menerima permohonan wali siswa tersebut. Pasalnya nilai yang tertera di rapor bukan berasal dari dirinya, melainkan guru mapel yang bersangkutan. Mengubah nilai tanpa persetujuan guru mapel tentu saja akan dianggap melangkahi wewenang. Akhirnya teman saya menyarankan wali siswa tersebut menemui guru Matematika Dito.

Usut punya usut, Dito memang tidak pernah mengumpulkan tugas yang diberikan oleh guru Matematika; mengikuti pelajarannya pun terkadang sambil tidur. Ketika Dito ditanya alasan dia bersikap seperti itu, jawabannya sederhana saj: dia tidak menyukai pelajaran Matematika karena memang tidak mampu memahaminya. Melihat deretan angka-angka saja kepalanya sudah pusing.

Singkat cerita, nilai Matematika di rapor Dito diubah dari 60 ke 80. Wali siswa itu pulang dengan lega, sementara guru mapelnya geleng-geleng kepala. Saya tidak tahu apa yang dirasakan Dito, apakah ia merasa bersalah atau turut bahagia seperti orangtuanya.

Membingungkan

KKM adalah kriteria paling rendah untuk menyatakan bahwa peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar. Fungsi dari KKM itu sendiri sebenarnya sebagai acuan guru menilai peserta didik dan sebagai salah satu instrumen dalam melakukan evaluasi pembelajaran. Namun nyatanya keberadaan KKM sering menyulitkan dan membingungkan, baik itu bagi orangtua, guru, maupun siswa.

Bagi orangtua, angka-angka di bawah KKM terasa sangat meresahkan. Itu wajar saja karena nilai rapor juga menjadi salah satu pertimbangan dalam seleksi masuk SMP, SMA, dan universitas. Nilai di bawah KKM bisa saja membuat seorang siswa tersingkir dari persaingan. Orangtua mana yang tidak khawatir anaknya gagal melanjutkan pendidikan di tempat yang ia impikan gara-gara ada satu saja nilai mapel di bawah KKM?

Bagi guru, KKM menjadikan mereka menyampaikan materi dengan tergesa-gesa. Waktu mereka lebih banyak diisi untuk mengejar penyelesaian materi daripada membuat proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Selain materi yang harus tuntas, kurikulum saat ini juga menuntut guru untuk mengisi banyak sekali kolom penilaian yang terdiri dari nilai pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari setiap kompetensi Dasar (KD).

Untuk mengisi kolom nilai tersebut, banyak guru membebankan banyak tugas pada siswa. Hal ini tentu saja memberatkan siswa karena membuat mereka harus mencapai target di semua mata pelajaran, baik yang benar-benar diminati maupun tidak. Banyak siswa merasa kewalahan dengan tuntutan yang dibebankan.

Pada kenyataannya banyak siswa tidak mampu menuntaskan semuanya, baik tugas maupun penguasaan materi. Namun, karena sekolah merasa perlu menjaga nama baik, diberikanlah nilai-nilai gaib. Dan, pengisian nilai-nilai gaib itu pun harus tetap di atas KKM.

Mengapa begitu? Karena nilai-nilai itu akan berpengaruh pada akreditasi sekolah. Sekolah yang mampu mengantarkan siswanya mencapai KKM akan dinilai baik dan begitu pula sebaliknya. Maka tidak heran jika saat ini banyak pimpinan sekolah mewajibkan para guru untuk memberi nilai di atas KKM apa pun kondisinya.

Kalau yang tidak mengumpulkan tugas saja nilainya bisa di atas KKM, guru akan merasa tidak adil jika tidak memberikan nilai maksimal pada siswa yang menyelesaikan. Bahkan bisa jadi ada guru yang tidak terlalu peduli dengan kompetensi siswa sesungguhnya. Selama tugas diselesaikan, maka nilai fantastis siap diberikan.

Permainan

Ini bukan mengada-ada. Meskipun mungkin tidak terjadi di semua sekolah, cerita saya tentang wali siswa yang terang-terangan meminta nilai anaknya dinaikkan di atas KKM adalah bukti bahwa permainan angka-angka itu nyata dan menjadi rahasia umum. Orangtua yang berada di rumah pun mengetahuinya.

Bahkan, percaya atau tidak, guru yang memberi nilai sesuai dengan kondisi siswa justru hanya akan menjadi bahan gibahan guru lainnya. Ia juga dianggap terlalu perfeksionis dan hanya merepotkan wali kelas karena mungkin sekali akan ada wali siswa yang tidak terima.

Dari dulu saya bertanya-tanya, kira-kira sampai kapan pendidikan kita menjalani praktik seperti ini? Apakah anak-anak Indonesia akan terus disuguhi angka-angka palsu yang tidak mencerminkan kompetensi sesungguhnya?

Saya teringat salah satu posting-an seorang ibu yang cukup viral di Facebook. Dalam posting-an tersebut ia berusaha menjelaskan cara cepat mengetahui bakat yang dimiliki anak dari nilai rapornya. Ibu itu mengatakan bahwa bakat anak terdapat pada mata pelajaran dengan nilai tertinggi.

Mungkin cara itu memang bisa dibenarkan, namun bagaimana jika angka-angka di rapor anak itu bukan nilai aslinya? Bagaimana jika si anak mendapat nilai 92 di mata pelajaran Pendidikan Agama, 91 di Bahasa Indonesia, dan 90 di Matematika? Sudah benarkah kita menganggap anak tersebut paling berbakat dalam Pendidikan Agama? Saya kok merasa tidak yakin akan hal itu. Karena kalau angka-angka tersebut memang dibuat-buat, adakah perbedaan signifikan antara angka 90, 91, dan 92?

Kalau saat ini pemerintah sudah maju satu langkah menghapuskan UN karena dianggap kurang ideal untuk mengukur prestasi belajar siswa, lalu mengapa masih ada KKM yang harus dicapai? Bukankah polanya hampir sama --sama-sama menekan siswa dan gurunya?

Pernah suatu ketika seorang siswa tidak sengaja nyeletuk tentang isi rapornya di depan saya, "Saya sungguh nggak paham, tinggal tidur saja sudah bisa dapat nilai sebesar ini."

Kira-kira mungkinkah jika penyebab kepalsuan angka-angka ini direvisi?

J. Masruroh guru Madrasah Aliyah

(mmu/mmu)